<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580</id><updated>2011-07-07T13:31:06.768-07:00</updated><category term='OPINI'/><title type='text'>RONIDIN</title><subtitle type='html'>Selamat datang! Silahkan Berkunjung!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-8355181865522170784</id><published>2010-04-17T21:34:00.000-07:00</published><updated>2010-04-17T21:54:32.965-07:00</updated><title type='text'>HUMANISME DALAM ISLAM</title><content type='html'>Oleh Dr. Abdul Hadi W. M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Piagam Jakarta” yang ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1945 oleh 9 (sembilan) founding father negara kesatuan Republik Indonesia dinyatakan seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah bahwa kemanusiaan atau humanisme yang dimaksudkan dalam Piagam Jakarta atau Pancasila itu adalah suatu bentuk dari humanisme religius yang dijiwai oleh ajaran agama yang dianut penduduk Indonesia. Humanisme ini bukan hanya mengacu pada nasionalisme dan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga suatu bentuk humanisme yang mengandung peri-keadilan di dalamnya terhadap segenap rakyat Indonesia (lihat sila kelima Pancasila). Keadilan tidak mungkin wujud tanpa pengakuan terhadap martabat manusia dan persamaan derajat manusia di depan hukum universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Jakarta mengindikasikan bahwa martabat manusia adalah sangat mendasar dan esensial dalam membangun masyarakat madani yang menghargai hak asasi manusia. Segala hak politik, ekonomi dan sosial serta seluruh nilai-nilai demokrasi pada hakekatnya adalah untuk melindungi martabat manusia dan mengembangkan kepribadian manusia. Seorang budak yang dirampas hak asasinya, seorang kulit berwarna yang hidup di bawah kebiadaban masyarakat apartheid, sekelompok masyarakat pribumi yang hidup dibawah penindasan pemerintahan kolonial baik hak-hak politik, ekonomi dan kulturalnya seperti dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan dahulu, seorang wanita yang menderita karena tidak mendapat perlakuan setara dengan kaum pria, atau seorang anak/sekelompok generasi muda yang dibesarkan dalam kondisi tidak sehat, miskin dan tidak menguntungkan bagi pengembangkan potensi dirinya, semua ini tidak akan bisa memperoleh martabatnya sebagaui manusia dan tidak akan pula pribadinya berkembang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu harus disusun suatu sistem nilai yang mengakui keunggulan manusia sebagai hakikat kemanusiaannya, dan martabatnya sebagai dasar sistem tersebut. Inilah yang dikandung Piagam Jakarta/Mukadimah UUD 45 beserta Pancasila yang ada di dalamnya. Ternyata apa yang disusun oleh para pendiri NKRI itu sesuai dengan Piagam PBB 1948 tentang Hak-hak Asasi Manusia. Dalam mukadimahnya Piagam PBB menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami rakyat Persatuan Bangsa-bangsa memutuskan untuk menegaskan kembali keyakinan kami terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap martabat dan kelayakan pribadi-pribadi manusia, terjadap hak-hak persamaan antara kaum wanita dan pria dan antara bangsa-bangsa, besar atau keci;l”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dinyatakan, “Mengingat pengakuan terhadap martabat yang padu dan hak-hak persamaan yang tidak dapat diganggu gugat dari seluruh anggota keluarga umat manusia adalah dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia…” Kalimat yang sama diulang da;am mukadimah Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966 dan Perjanjian Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan Tahun Hak-hak Asasi Internasional 1968 di Teheran, peserta konferensi memaklumkan deklarasi: “Adalah wajib bagi masyarakat ionternasional untuk menunaikan kewajiban yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kebebasan dasar bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan golongan, ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya…Pelanggaran besar-besaran terhadap hak asasi manusia timbul dari diskriminasi ras, agama dan kepercayaan, atau pernyataan pendapat yang melukai hati umat manusia serta membahayakan dasar-dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Teheran juga menyebutkan bahwa aparheid, rasialisme dan kolonialisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hak asasi manusia dapat direalisasikan melalu pembangunan kebijakan-kebijakan besar sehingga hak asasi ekonomi, sosial dan budaya dapat dinikmati semua orang, bahwa buta hurud adalah pengingkaran terhadap hak asasi manusia, dan komersialisasi pendidikan oleh negara merupakan penyebab dari kebodohan yang bertentangan dengan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis, disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut: “Wahai Tuhan, Pemelihara hidupku beserta seluruh semesta alam: Aku menegaskan bahwa sekalian manusia adalah saling bersaudara” (Sunan Abi Daud I, 1369:211).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pidato perpisahan di Padang Arafah, Nabi Muhammad s.a. w. juga menyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh manusia bagi Islam sama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Arab tidak lebih mulia dari yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Persia tidak lebih mulia dari orang Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kulit Putih pun tak lebih mulia dari si Kulit Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pula sebaliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali atas derajat taqwa jua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta kebajikan terhadap sesamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan beri daku darah nenekmoyangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kuinginkan ialah kebajikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ahmad Imam dalam Musnad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan terhadap Keesaan Tuhan secara tersirat merangkumi pengakuan terhadap adanya saling keterkaitan antara persaudaraan dan persamaan umat manusia. Sebuah syair sufi Melayu menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah Fansuri orang `uryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ismail jadi qurbani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya `Ajami lagi Arabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senantiasa washil dengan Yang Baqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hamzah Fansuri, abad ke-16 M) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya kepada Rasululllah tentang asas-asas yang mendasari perilaku utama dan kebajikan-kebajikan beliau, dan Rasulullah menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu pengetahuan adalah modalku, akal pikiran adalah dasar dasar agamaku, ingat kepada Allah adalah sahabatku, cemas adalah kawanku, sabar adalah bajuku, pengetahuan adalah tanganku, kepuasan adalah harta perolehanku, menolak kesenangan (yang berlebihan) adalah profesiku, keyakinan adalah makananku, kebenaran adalah saranak, taat adalah perbekalanku, jihad adalah kebiasaanku dan kesenangan hatiku ialah dalam mengerjakan ibadah:.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertitik-tolak dari pernyataan-pernyataan yang telah dikutip tersebut, kita ingin membicarakan gagasan humanisme dalam Islam. Pertama, berkenaan dengan kedudukan dan martabat manusia di alam dunia selaku khalifah Tuhan dan hamba-Nya.; Kedua, manusia dalam pandangan para filosof Muslim sebagai al-haywan al-nathiq dan implikasi-implikasinya bagi kehidupan intelektual dan moral; Ketiga, hubungan gagasan humanisme dengan etika dan adab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui dasar-dasar humanisme dalam Islam, kita harus berpaling kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kitab suci al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, telah Kujadikan manusia dalam keadaan/susunan sebaik-baiknya (ahsan taqwim) (Q 94:4). Demikian, dalam pandangan Islam, manusia itu merupakan makhluq yang mulia dan paling tinggi derajatnya di antara sekalian ciptaan Tuhan. Bahkan kitab suci umat Islam itu menegaskan bahwa derajat manusia itu lebih tinggi dari malaikat, dan manusia diciptakan dengan maksud agar malaikat bersujd kepadanya dan segala yang ada di bumi berbakti kepadanya”. Al-Qur’an juga juga menyatakan bahwa manusia dicipta sebagai khalifah (wakil) Tuhan di atas bumi dan memberinya amanat atau tanggungjawab untuk memelihara bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi merupakan tempat terbaik bagi manusia untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi makhluq yang paling mulia. Bumi bukanlah penjara atau tempat manusia dihukum disebabkan dosa-dosa asal yang dibuatnya selama menjadi penghuni Taman Eden. Tetapi Tuhan dapat pula menjerumuskan manusia ke dalam keadaan afsal safilin, keadaan yang serendah-rendahnya apabila melakukan kesalahan dan mendatangkan kerusakan di bumi yang merugikan umat manusia dan kemanusiaan. Agar manusia selamat, ia tetap berpegang pada petunjuk Tuhan (wahyu) dan memiliki pengetahjuan tentang dunia dan seluk beluk kehidupan tentang dirinya dan sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar ajaran Islam ialah keimanan atas tauhid, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah. Prinsipini tidak hanya menciptakan doktrin monotheistic Islam yang khas dan utuh, tetapi juga menjamin bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Kedudukan istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia ini diterangkan dalam al-Qur’an, yakni bahwa hukum kehidupan ini telah ditetapkan oleh Tuhan kepadanya. Hukum itu ialah bahwa sementara Tuhan menanamkan bakat bawaan yang murni (fitrah) kepada manusia untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Tuhan juga memberi kebebasan bagi manusia sebagai pribadi untuk mengembangkan dan menguji fikirannya antara kedua hal itu (salah dan benar, buruk dan baik, jelek dan indah) hingga mencapai kesimpulan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan dan ikhtiar manusia merupakan tanggungjawab pribadi manusia itu sendiri. Firman Allah dalam al-Qur’an: “Jika mereka mendustakan kamu (ya Muhammad), katakanlah: Aku bertanggungjawab atas apa yang aku kerjakan, dan kalian pun beranggungjawab atas apa yang kalian kerjakan, sehingga kalian tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan aku dan aku pun tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”( Q 10:41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dikemukakan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sampai mereka sendiri mau merubah dirinya” (Q 13:11). Jadi al-Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w. menegaskan pentingnya ikhtiar dan kemauan bebas (freewill), kebebasan berbuat serta kemandirian bagi manusia. Dalam Islam setiap individu bisa berhubungan spiritual dengan Tuhan tanpa perantara. Kedudukan manusia begitu tingginya dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah dicatat di sini bahwa ayat yang telah dikutip, khususnya berkenaan dengan kata-kata ‘diri’ dihubungkan dengan ‘keadaan’ atau ‘dunia’ di dalam diri manusia, jadi bersifat spiritual atau diri spiritual manusia. Nurcholis Madjid menerjemahkan dunia dalam diri manusia itu sebagai ‘pemikirannya’ (tentang segala sesuatu), sedangkan Kuntowijoyo memperluasnya dengan pemahaman lain. Mengubah diri adalah juga mengubah pandangan dunia (weltanschauung) , orientasinya pada nilai-nilai dan cara-cara memahami ajaran agama serta cara-cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial. Iqbal, sebelumnya, mengatakan bahwa yang dirubah mestinya bukan sekadar pemikiran, sistem nilai dan pandangan dunia, tetapi juga cita-cita, kehendak dan pemahaman terhadap diri kulturalnya. Jadi yang dirubah bukan hanya alam pemikirannya, tetapi juga kkondisi-kondisi sosial politik, ekonomi dan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan itu tertuju pada kemajuan dan dalam Islam yang disebut kemajuan ialah “Kembali kepada asas-asas ajaran Islam yang sejati dan benar”, sebab kemajuan ke arah yang bersifat material semata-mata bukanlah tujuan bagi Islam melainkan semata-mata sebagai ‘kendaraan’ atau ‘sarana’ untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita kembali pada persoalan kedudukan dan martabat manusia. Para filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Tufayl, al-Ghazali dan lain-lain, dalam rangka menyelaraskan falsafah Yunani yang mereka pelajari dengan ajaran Islam, telah berusaha merubah pemahaman para filosof Yunani mengenai manusia dengan memberinya dimensi-dimensi spiritual yang lebih luas dan mendasar. Ini tampak dalam perkataan al-hayawan al-nathiqا [u1] sebuah kata-kata Arab yang diterjemahkan dari perkataan Yunani animal rational. Di sini manusie diberi definisi formal sebagai ‘animal rational’ atau ‘binatang yang berpikir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi ini sekurang-kurangnya mengandung gagasan tentang arti ‘rasional’ sebagaimana dipahami secara umum, yaitu ‘nalar. Dalam sejarah intelektual di Barat konsep tentanng ‘rasio’ telah mengalami perubahan sedemikian rupa dalam perkembangannya, bahkan menjadi penuh dengan kontroversi dan problematic. Seacara bertahap ia dipisahkan dari ‘intelek’ (intelectus), kemampuan tertinggi manusia untuk membedakan yang salah dan benar, serta untuk mengenal kebenaran tertinggi. Para filosof Muslim tidak memahami rasio sebagai terpisah dari apa yang disebut intellectus atau al-`aql. Bagi mereka `aql merupakan kesatuan organic dari rasio dan intelectus (al-Attas 1980:37). Dengan cara demikianlah filosof Muslim mendefinisikan manusia sebagai al-hayawan al-nathiq. Di sini kata al-nathiq menunjuk pada fakulti bati manusia berkenaan dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional dan intelektual, yaitu ‘merumuskan makna-makna’ (dzu-nuthuq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar kata nathiq dan nuthuq mempunyai makna dasar ‘pembicaraan’, yaitu ‘pembicaraan manusia’. Setelah dibentuk menjadi kata-kata nathiq dan nuthq maka ia berarti sebagai kekuatan, atau kesanggupan dan kemampuan tertentu dalam diri manusia untuk ‘menyampaikan kata-kata dalam sebuah pola yang bermakna’. Kepada pengertian inilah apa yang diucapkan Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dapat kita rujuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari apa yang telah dikemukakan kata-kata al-hayawan al-nathiq itu dapat diartikan sebagai ‘binatang berbahasa’ sebab bahasa merupakan hasil pemikiran manusia dan berbahasa dengan baik hanya mungkin dapat dicapai dengan kecerdasan berpikir. Berbahasa berarti menyampaikan simbol-simbol linguistik ke dalam suatu pola bermakna. Penyampaian itu hanya dapat dimengerti dengan fakulti kerohanian yang tertinggi yang disebut `aql. Menurut Muhmmad Naquib al-Attas, kata `aql itu sendiri pada sasrnya bermakna sejenis ‘ikatan’ atau ‘simpul’, sehingga ia bisa diberi arti sebagai ‘atribut batin manusia yang mengikat dan menyimpulkan obyek-obyek ilmu dengan menggunakan sarana kata-kata’. Ingatlah bahwa al-Qur’an juga mengatakan bahwa hanya Adam (manusia) yang dikaruniai ‘pengetahuan tentang nama-nama’ oleh Allah. Dan pengetahuan tentang nama-nama itu tidak adalah pemahaman atau pengetahuan tentang obyek-obyek menyangkut perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya, cirri-ciri atau sifat-sifat khususnya, keadaan dan bentuknya, serta tempatnya dalam tatanan wujud metafisis dan fisis kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.Jadi kemuliaan manusia terutama ditentukan oleh pencapaian akalnya, serta realisasi dari apa yang dicapai oleh akalnya dalam kehidupan, dan kearifannya dalam mengarahkan hidupnya menuju kebaikan dan kebenaran. Kata-kata `aql berpadanan dengan kata-kata qalb (kalbu). Sebagaimana kalbu, yang merupakan alat pencerapan pengertian ruhaniah, demikian pula halnya dengan akal. Keduanya dengan demikian merupakan substansi (jawhar) ruhaniah yang dengannya ‘diri rasional’ (al-nafs al-nathiq) seseorang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan (lihat al-Jurjani 157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membuat definisi yang benar tentang manusia sebagai al-hayawan al-nathiq ialah bila yang kita maksud dengan al-nathiq (nalar) dalam pendefinisian itu ialah ‘kemampuan untuk memahami pembicaraan dan kesanggupan untuk beranggung jawab atas perumusan makna – yang melibatkan penilaian, pembedaan, pencirian dan penjelasan, serta yang berkaitan dengan penyampaian kata-kata atau ungkapan dalam suatu pola yang bermakna. Kata-kata makna atau ma`na harus didasarkan pada arti kata ma’na sebagai konsep dalam ilmu dan falsafah Islam, yaitu “pengenalan tempat-tempat segala sesuatu dalam tatanan wujud masing-masing”. Pengenalan seperti hanya mungkin terjadi bilamana ‘hubungan’ sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam tatanan tersebut telah ‘terjelaskan’ dan ‘terpahamkan’. Hubungan tersebut menguraikan keteraturan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat manusia, dalam pengertian ini, ditentukan oleh substansi ruhaniahnya yang berperan mengenal sesuatu secara benar, yaitu tempat sesuatu dalam tatanan wujudnya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain dalam tatanan wujud yang lain yang membentuk keteratuiran. Obyek-obyek pengenalan yang memiliki keteraturan hubungan satu sama lain itulah yang merupakan obyek ilmu pengetahuan, yang dikatakan Nabi sebagai modal dan tangan beliau (sarana menguasai sesuatu),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Islam sepakat bahwa semua ilmu datang dari Allah. Kita juga tahu bahwa cara ilmu itu datang, dan fakulti kerohanian dan indera yang menerima dan menafsirkannya tidak sama. Oleh karena semua pengetahuan datang dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui fakulti kerohanian dan indera, maka definisi terbaik tentang ilmu – dengan mengacu kepada Allah sebagai sumbernya – adalah bahwa ilmu itu ialah ‘kehadiran/kedatangan (hushul) makna sesuatu atau suatu obyek pengetahuan di dalam jiwa” (hushul ma`na aw shurat ‘l-syay`i fi al-nafs).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan apabila kita mengacu pada jiwa sebagai penafsirnya maka ilmu pengetahuan berarti “ sampainya (wushul) jiwa pada makna sesatu atau obyek pengetahuan”. Di sini seorang berilmu (`alim) berarti seseorang yang jiwanya memperoleh makna dari sesuatu yang diketahui”. Pengertian ini merangkum pula konsep-konsep kunci lain seperti konsep-konsep tentang ayat (tanda-tanda Tuhan). Konsep ini mengacu pada ‘kata-kata’ dan ‘sesuatu’ (yang merupakan tanda-tanda keagungan Tuhan). Berdasarkan ini para mufassir mendefinisikan ilmu secar epistemologis sebagao ‘sampainya makna ke da;am jiwa’ dan ‘m,akna sesuatu’ berarti makna atau artinya yang benar. Benar dalam pandangan Islam berkenaan dengan hakikat dan kebenaran sebagai diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep lain yang berkenaan dengan itu konsep `amal (tindakan), sebab tanpa tindakan sesuatu itu tidak akan sampai kepada jiwa dan tanpa tindakan menyampaikannya maka ilmu pengetahuan tidak akan tersebar dan berkembang. Ilmu harus dilengkapi dengan amal. Kecuali itu ilmu juga harus mengandung makna sebagai pengetahuan tentang sesuatu dalam tempatnya yang benar atau tepat. Tempat yang benar atau tepat berarti tempat yang sempurna dan sejati sebagaimana ditunjukkan oleh istilah haqq, yang berarti hakikat dan sekaligus kebenaran yang berkenaan dengan hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah haqq juga mengantung arti suatu penilaian (hukm), yaitu penilaian yang sesuai dengan hakikat atau situasi sebenarnya sesuatu. Maka ilmu yang haqq harus mengandung sesuatu penilaian yang dimaksud. Penilaian melibatkan kepercayan bahwa ajaran agama dan mazhab pemikiran dalam Islam itu benar. Lawan dari haqq ialah bathil, artinya,lebih kurang ialah kepalsuan, sesuatu yang sia-sia, nihilistic, tidak ada manfaatnya, gagal. Di lain hal kata-kata haqq juga mempunyai arti sebagai suatu keserasian dengan pensyaratan kearifan dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan atau ilmu yang benar adalah mengandung kearifan dan keadilan. Keadilan (`adl) di sini merupakan suatu kondisi harmonis dari benda-benda disebabkan berada di tempatnya yang benar dan tepat. Sedangkan kearifan (hikmah) adalah ilmu yang dianugerahkan Tuhan dan menjadikan penerimanya mampu mel;akukan penilaian yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang ideal dalam Islam ialah manusia berilmu yang dapat mengamalkan ilmunya, tahu tempat yang haqq dan bathil dari obyek-obyek pengetahuan yang dikenalnya, serta mampu memberi penilaian yang arif dan adil terhadap sesuatu berdasarkan hakikat sesuatu dan tempatnya yang benar di alam wujud. Haqqjuga berarti tugas atau kewajiban, dan karenanya manusia Muslim yang berilmu memiliki tanggungjawab dan kewajiban membangun kemanusiaan berdasarkan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita kemukakan bahwa konsep Islam tentang kemanusiaan atau martabat manusia dikitari oleh gagasan-gagasan dasar seperti Makna (ma’na), ilmu (`ilm), adil (`adl), kebijaksanaan (hikmah), tindakan (`amal), kebenaran (haqq), nalar (nathiq), jiwa (nafs), kalbu (qalb), pikiran dan intelek (`aql), tatanan hirarkis dari penciptaan atau keberadaan (maratib dan darajat), tanda-tanda atau simbol-simbol (ayat) dan interpretasi (tafsir dan ta’wil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu konsep lagi yang penting dan merupakan konsep kunci yang berkenaan dengan pentingnya pendidikan. Konsep tersebut terkandung dalam kata adab, yaitu disiplin tubuh, jiwa, kalbu dan roh. Sebagai ilmu, adab merupakan metode untuk mengenal, mengetahui dan memahami sesuatu sehingga kita berada di tempat yang benar dalam meletakkan diri kita dan memandang segala sesuatu. Adab adalah cerminan dari kearifan dan kebijaksanaan. Dalam hubungannya dengan masyarakat, adab ialah tatanan yang adil dalam masyarakat manusia, yang di dalamnya martabat manusia menjadi perhatian utama. Ini dapat dikaitkan dengan arti kata asal dan dasar dari ata-kata adab itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aeri kata asal dari adab ialah undangan untuk suatu perjamuan atau majlis. Di dalam gagasan ini tersirat pengertian bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan orang banyak yang diundang untuk hadir dalam perjamuan yang ia selenggarakan adalah juga semestinya orang-orang yang pantas mendapatkan kehormatan untuk diundang. Oleh karena itu mereka mestinya orang-orang yang baik dan berpendidikan sehingga diharapkan bertingkah sesuai dengan keadaan, baik dalam berbicara dan bertindak, maupun dalam etiket. Ini menunjukkan bahwa manusia yang baik menurut Islam selain beriman dan berakhlaq mulia, ia juga seorang yang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud menghubungkan kata adab dalam pengertian seperti telah diberikan dengan gambaran yang diberikan al-Qur’an tentang kitab suci itu sendiri, yaitu bahwa ia (al-Qur’an) merupakan “undangan Tuhan untuk menghadiri suatu perjamuan di atas bumi, dan kita dianjurkan ambil bagian di dalamnya dengan cara memiliki pengetahuan yang benar tentangnya”. Perjamuan yang dimaksud al-Qur’an ialah perjamuan ruhaniah dan pencapaian ilmu yang benar terhadapnya adalah memakan makanan terbaik yang dhidangkan dalam perjamuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah para cerdik cendikia Muslim selalu mengaitkan ilmu dengan amal dan adab, dan memandang kombinasi harmonis ketiganya sebagai asas pendidikan untuk membina manusia yang baik. Sedangkan manusia yang baik adalah manusia yang ihsan dan adil. Kaitkanlah hal ini dengan sila kedua dari Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila ini dengan jelasnya menyatakan bahwa gagasan kemanusiaan yang dikehendaki rumusan Pancasila ini ialah humanisme religius seperti tercermin dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Dalam Islam tujuan mencari ilmu ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan manusia sebagai diri pribadi. Tujuan pendidikan dalam Islam ialah menghasilkan manusia yang baik, dalam pengertian akalnya berkembang sehat, moralnya baik, perasaan kemanusiaan dan keagamaannya luhur, beriman dan bertaqwa, serta sanggup mengamalkan ilmunya bagi masyarakat dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu dan adab merupakan sarana penting bagi manusia untuk mencapai dan memahami martabat kemanusiaannya. Pendidikan Islam harus menekankan pada dua hal ini untuk mencapai tujuannya dalam membina manusia yang yang saleh dan cerdas dalam arti sesungguhnya. Ilmu dibagi dua sesuai sumbernya atau hubungannya dengan kitab suci al-Qur’an. Yang pertama, yang bersumber langsung dari al-Qur’an disebut ilmu agama, meliputi: Tafsir al-Qur’an, Sunnah, Ilmu Tauhid atau teologi, Syariah, Tasawuf (metafisika Islam), dan ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti nahu, semantic, sastra dan leksikografinya. Yang kedua, ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia dengan ikhtiar akal dan inderanya, disebut Ilmu Filosofis meliputi ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, ilmu alam dan matematika, ilmu-ilmu terapan dan tehnologi. Dalam Islam, kebenaran dan kemanfaatan ilmu-ilmu ini harus dirujuk pada al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam Islam kehidupan manusia tidak hanya didasarkan atas ilmu yang diperolehnya, tetapi juga atas moralitas atau akhlaq. Namun moralitas yang di maksud bukan moralitas yang sederhana dan statis. Apa yang dikatakan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib seperti telah dikutip di awal pembicaraan ini, dapat dijadikan acuan. Sejalan dengan itu kehidupan manusia dalam Islam mesti diarahkan agar manusia itu mampu menguasai tingkah laku moralnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan akal dan pemahaman berdasarkan ilmu yang benar, sekaligus penuh rasa syukur terhadap Penciptanya. Moralitas tidak menyangkut makhluq lain kecuali manusia. Sebab manusia dicipta dari dua macam substansi yang berbeda berupa jasad dan jiwa. Yang terakhir merupakan kesadaran Ilahi yang murni, sumber sehala perak dan laku tubuh. Inilah bagian dari diri manusia yang dibebani tanggung-jawab atau amanah. Jiwalah yang berbuat Dario dalam dan segala perilaku luar memberi kessasian tentang keadaan jiwa di dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, “Salat, puasa, haji dan jihad di jalan Allah memberi kesaksian tentang iman dalam hati. Memberi derma dan sumbangan serta menghilangkan sifat kikir juga memberikan kesaksian tentang fikiran-fikiran rahasia.” Selanjutnya Rumi mengatakan, “Puasa beratrti seseorang harus mengekang diri dari makanan yang diperbolehkan dimakan, karena itu tidak diragukan lagi ia akan menmghindari makan yang dilarang. Sedekah ialah memberikan harta miliknya sendiri, karena itu jelas ia tidak akan merampok harta orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak mengenal dikotomi kehidupan di dunia ini dan dunia sana. Yang terbaik di dunia ini adalah juga yang terbaik di akhirat. Demikian pula Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, urusan keagamaan dan urusan politik, seperti juga tidak memisahkan kegiatan budaya dari kegiatan keagamaan. Dalam masyarakat Barat yang sekuler kedua urusan yang berbeda itu sering dipertentangkan. Ini merupakan implikasi dari pandangan dikotomis mereka berkenaan dengan roh dan badan, yang spiritual dan yang material, yang religius dan yang duniawi. Padahal keduanya melekat sebagai sifat ganda dari manusia yang saling berkaitan satu dengan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Khalifah Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dikemukakan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan, yang dengan demikian memiliki sifat-sifat ganda yang kemudian menjadi bawaan dalam hidupnya dan sekaligus menjadi persoalan yang runcing dalam kehidupannya. Sebagai konsekwensinya manusia juga memperoleh pengetahuan yang bersifat ganda, yaitu pengetahuan mengenai dunia ini dan pengetahuan berkenaan dunia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan pertama, sebagaimana dikemukakan dalam Q 2:31 (surat al-Baqarah) disebut “pengetahuan nama-nama” (al-asma). Yang disebut pengetahuan tentang segala sesuatu di alam dunia (al-asyya’). Pengetahuan ini tidak menunjuk pada pengetahuan tentang esensi (dzat) atau tentang hal yang paling dalam (sirr) dar segala sesuatu – seperti misalnya tentang roh, sebab mengenai yang ini hanya sedikit manusia memperolehnya (lihat Q 17:85). Yang dimaksud dengan `ilm al-asma (pengetahuan nama-nama) ialah mengenai fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian (`arad) yang dapat diindera dan sifat-sifat dari segala sesuatu yang berbeda. Ini dapat ditangkap atau dicerap melalui akal budi (mahsusat dan ma`qulat) yang dengan itu hubungannya dapay doiketahui, begitu pula ciri masing-masing yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan lain yang lebih tinggi yang dikaruniakan kepada manusia ialah pengetahuan tentang Allah (ma`rifa). Ini kita ketahui dalam Q 7:172) ketika Tuhan berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku bersaksi” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna..). Inilah perjanjian pertama yang mengikat manusia pada Tuhan. Perjanjian itu diikrarkan sebelum manusia diturunkan ke dunia dalam bentuknya sebagai makhluq jasmani dan rohani. Dari sini kita mengetahui bahwa pengetahuan itu ditanamkan Tuhan dalam roh, kalbu dan jiwa manusia, bukan dalam badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensi dari perjanjian yang mengikat itu ialah bahwa dalam hidupnya manusia akan tetap mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai sasaran penyembahannya, bukan yang selain-Nya. Inilah makna Islam sebagai al-din (agama), yaitu sebagai sesuatu yang mengikat hubungan manusia dengan Tuhannya yang esa, dan ikatan itu dapat berjalan terus apabila manusia menunjukkan kepatuhannya (aslama) kepada perintah dan larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian din dan aslama, menurut para ulama, bersifat saling melengkapi dalam diri manusia dan menjadi sifat hakiki dari manusia, yang disebut sebagai fitrah. Tujuan sejati manusia ialah melaksanakan ibadah atau pengabdian kepada Tuhan (Q 5:56), dan kewajibannya adalah ketaatan kepada-Nya, sebab itulah yang sesuai dengan fitrah manusia. Yang bertentangan dengan itu tidak sesuai dengan fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi manusia juga mempunyai sifat bawaan, yaitu pelupa (nisyan). Karena itu ia disebut insan. Setelah bersaksi bahwa Tuhan hanya satu dan berjanji akan mematuhi-Nya, karena terlena oleh kehidupan dunia maka ia menjadi lupa (nasiya) untuk memenuhi kewajiban dan tujuan hakiki hidupnya. Kelupaan atau kealaian itu menjadi penyebab ketidak-taatannya pada perintah agama, dan sifat ini sangat tercela serta cenderung menjadikan manusia tenggelam dalam ketidakadilan (zhulm) dan kebodohan (jahl). Sekalipun demikian manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian (hari Alastu) dulu. Perlengkapan itu ialah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekwensi yang mesti ditanggungnya sendiri pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan dalam al-Qur’an (2:30) menyatakan bahwa manusia telah ditunjuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi dan kepadanya dibebankan amanat, sebuah tanggungjawab yang berat untuk mengetur dan memelihara kehidupan di dunia. Mengatur di sini bukanlah mengatur sesuai dengan kemauannya sendiri atau demi kepentingan egonya sendiri, tetapi mengatur sesuai dengan kehendak Allah dan maksud-Nya (Q 33:72). Amanah menunut pertanggungjawaban untuk bersikap dan berbuat adil terhadap alam dan seisinya, sebagaimana juga terhadap sesama manusia. Mengatur di sini tidak hanya mencakup pengertian sosio-politik, atau mengendalikan alam dan kehidupan di dalamnya secara ilmiah. Tetapi yang lebih mendasar lagi ialah, dalam konsep itu, tercakup konsep lain yang disebut tabi’ah (tabiat). Konsep ini mengandung arti “pengaturan, pemerintahan, pengendalian dan pemeiharaan diri manusia oleh dirinya sendiri”, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengatur dan mengendalikan hidupnya itu manusia tergantung pada sifat ganda dari tabiatnya: Tabiat atau bawan sifatnya yang tinggi ialah jiwa rasional (al-nafs al-nathiqah) dan yang lebih rendak ialah jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah). Ketika Allah memaklumkan keesaan-Nya sebagai Tuhan, yang dituju ialah jiwa rasional manusia bukan jiwa hewaninya. Agar manusia memenuhi perjanjiannya dengan Allah dan sealu mmperteguh ikatan dengan perjanjiannya itu, manusia harus melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan dan taat menjalankan ibadah (sesuai syariah-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan dan pengaturan secara efektif jiwa rasional atas jiwa hewani itulah yang sebenarnya dinamakan din (agama); sedangkan yang dimaksud islam ialah kepatuhan dan ketaatan yang sadar dari jiwa hewani terhadap jiwa rasional. Periaku religius dalam Islam, karena itu, berkaitan dengan kebebasan dan kesadaran jiwa rasional secara penuh untuk merealisasikan diri perjanjiannya dengan Allah, dan kebebasan itu berarti kekuatan (quwwa) dan kemapuan (wus’) untuk berbuat adil terhadap diri dan sesamanya, serta terhadap alam sekitarnya. Diambil dari http://ahmadsamantho.wordpress.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-8355181865522170784?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/8355181865522170784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=8355181865522170784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8355181865522170784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8355181865522170784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2010/04/humanisme-dalam-islam.html' title='HUMANISME DALAM ISLAM'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-1318123891122978340</id><published>2008-12-29T00:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T00:13:31.901-08:00</updated><title type='text'>Yogyakarta di Mata Pendatang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Oleh Ronidin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Bagi saya yang bukan warga Yogyakarta, membicarakan kota Yogyakarta yang sering disebut sebagai Kota Tua, Kota Revolusi, Kota Gudeg, Kota Pelajar, dan Kota Budaya ini tentu tak lepas dari jerat perspektif pribadi. Hal ini karena secara empiris, saya baru berinteraksi dengan kota ini selama dua bulan lebih.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Menurut saya banyak ikon yang dapat memperkenalkan keberadaan Yogyakarta kepada orang lain di luar Yogyakarta. Pertama-tama UGM misalnya—dengan nama yang diambil dari seorang patih kerajaan Majapahit yang berhasrat untuk mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Majapahit—adalah ikon yang menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki sebuah universitas yang—setidaknya—berjiwa seperti Gadjah Mada; berhasrat merangkul semua peserta didik untuk melanjutkan studinya di UGM. Menyatukan mereka dibawah panji-panji UGM yang merupakan universitas yang dilambangkan seperti “gajah” yang “besar” dan “tertua” di Indonesia—refleksi Majapahit. Cita–cita itu agaknya sudah menjadi bagian keseharian UGM hari ini, di mana para mahasiswanya berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri. Nama Gagjah Mada menjadi sangat populer bagi siapa pun karena memiliki konektisitas historis dengan sebuah kerajaan besar yang pernah ada di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt; Akan tetapi, apakah semangat patih Gadjah Mada yang lain: keberanian, ketegasan prinsip, cita-cita keinginmajuan yang besar dan sebagainya sudah pula direfleksikan dalam kesehariannya di universitas yang mengambil namanya; Universitas Gadjah Mada? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan bagi segenap civitas akademika UGM. Siapa pun tentu tidak ingin UGM menjadi universitas yang hanya berat dinama. Kalau di Padang, sebuah nama yang tidak cocok menyebabkan penyandang nama itu sering sakit-sakitan, lambat berkembang dan solusinya harus mengganti nama itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Selain UGM, Yogyakarta juga dikenal di luar dengan Malioboronya. Belum lengkap rasanya kunjungan ke Yogyakarta kalau belum mampir ke Malioboro, menikmati peninggalan sejarah di sepanjang jalan itu, menikmati gudeg Yogyakarta dan membeli kaos khas Malioboro merek Dagadu. Malah ketika saya baru sampai di sini dua bulan yang lalu, teman saya dari Padang mengirimkan SMS menanyakan kalau saya sudah ke Malioboro atau belum. Bagi dia, Yogyakarta adalah Malioboro. Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa begitu kuat ikonitas Malioboro sebagai penanda kota Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Dari perspektif historis maupun kebudayaan, keberadaan Malioboro  terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ada tiga lapis stratifikasi Malioboro yang akan terus mengalami perubahan itu sepanjang masa. Pertama, keberadaan Malioboro sebagai garis imajiner (aspek mistis) yang memperhubungkan Kraton Yogyakarta dengan Gunung Merapi di Utara dan Pantai Laut Selatan. Artinya, Kraton Yokyakarta sebagai pusat pemerintahan di Yokyakarta berada dalam lingkaran kawasan Merapi sampai ke Pantai Selatan. Kedua, Malioboro sebagai tempat pusat pemerintahan Yogyakarta (protokoler) karena disepanjang jalur itu terdapat kantor gubernur dan kantor DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yokyakarta. Selain itu kawasan ini juga sebagai kawasan yang merefleksikan kawasan budaya Yogyakarta karena di sepanjang jalur ini sering ditampilkan iven-iven kebudayaan.  Ketiga, disepanjang kawasan Malioboro itu telah menjadi pusat perdagangan, baik yang berdagang di emperen maupun di swalayan-swalayan mewah. Kondisi ini tentu saja telah menggubah fungsi kawasan Malioboro sebagai pusat kebudayaan tergeser oleh kepentingan kapitalisme global.  &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Kondisi di atas menyebabkan Malioboro menjadi kawasan yang ramai, sumpek dan bising. Setiap hari di Malioboro dapat disaksikan berbagai aktivitas—mungkin saja bagi orang tua-tua yang berdomisili di kawasan itu jelas sekali perubahannya—yang saling berhimpitan. Mobil dan motor yang bersileweran dan saling mendahului, kendaraan tanpa mesin seperti becak yang berebut penumpang, jalur bus Transyogya yang sempit, kawasan pejalan kaki yang hampir tak tersedia, perparkiran di areal pertokoan dan kantor pelayanan publik yang penuh sesak, pedagang kaki lima, dan sebagainya merupakan gambaran Malioboro hari ini sebagai suatu akibat yang dapat diindrakan (tungible). Sedangkan perubahan yang tak dapat diindrakan (intungible) terjadi pada pergeseran nilai-nilai (value) estetis Malioboro sebagai kawasan yang dianggap nyaman dan representatif dalam mengurangi beban psikologis   yang dialami seseorang. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Berikutnya, kota Yogyakarta juga dikenal karena adanya Kraton Yogyakarta. Ketika menyebut kata kraton, maka pemaknaan pertama yang muncul adalah bahwa kraton merupakan simbol sebuah kerajaan atau kesultanan. Ini menunjukkan bahwa dari kraton itulah pemerintahan digerakkan. Artinya, raja adalah kepala pemerintahan. Maka tidaklah mengherankan bila kemudian masyarakat DIY tetap menginginkan sultannya (sekarang Sri Sultan Hmengkubuwono X) menjadi gubernur DIY meskipun masa jabatannya telah habis. Bahkan ke depan, banyak pula suara di DIY—termasuk sultan yang telah menyatakan kesediaannya  tanggal 28/10 yang lalu—yang  menginginkan Sultan menjadi presiden Republik Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Konsep kraton erat hubungannya dengan raja dan kekuasaan. Maka sebenarnya, sesuai dengan konsep Todorov (1985:11-12): tentang hubungan  in prasentia, yaitu hubungan antara unsur-unsur yang hadir bersama; dan hubungan in absentia, yaitu hubungan antara unsur-unsur yang hadir dan unsur yang tidak hadir, jelaslah bahwa Kraton Yoyakarta mengisyaratkan makna kekuasaan itu berpusat di kraton dan Sultan adalah rajanya. Akan tetapi mungkinkah Sultan HB X menjadi raja (presiden RI) mengingat kraton hanya terdapat di Yokyakarta dan Surakarta. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Apa yang disebut ini juga tidak terlepas dari aspek historis tentang kraton Yokyakarta yang merupakan pecahan dari kerajaan Mataram Baru selain kraton Surakarta. Pangeran Mangkubumi (memangku/memeluk bumi, menurut tafsiran orang Padang) yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yang menjadi raja pertama di Ngayogyakarta dipercaya sebagai pendiri kraton Yogyakarta telah mewariskan dinasti Sultan Yogyakarta yang hingga kini telah mencapai 10. itu menunjukkan bahwa kesultanan kraton Yogyakarta ini akan terus ada dan “berkuasa”.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-1318123891122978340?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/1318123891122978340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=1318123891122978340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1318123891122978340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1318123891122978340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/12/yogyakarta-di-mata-pendatang.html' title='Yogyakarta di Mata Pendatang'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-244520363832657926</id><published>2008-12-29T00:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T00:05:20.281-08:00</updated><title type='text'>Novel Ayat-Ayat Cinta:  Sebuah Tinjauan Pragmatik</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh  Ronidin&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan terhadap novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik memandang karya sastra sebagai sesuatu yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu, nilai-nilai tertentu, atau fungsi-fungsi tertentu yang berkaitan erat dengan audience (pembaca). Dari hasil analisis yang dilakukan, maka novel AAC memuat beberapa aspek pragmatik. Aspek pragmatik tersebut berpusat pada tokoh Fahri sebagai tokoh sentral yang menggerakkan cerita novel ini yang merupakan refleksi kepribadian islami. Beberapa aktivitas Fahri menjadi bermakna bagi pembaca (secara pragmatik) karena dilandasi dengan sudut pandang Islam. Aspek-aspek pragmatik tersebut di antaranya meliputi: (1) Istikamah dengan prinsip hidup, (2) kesederhanaan Fahri menjalani kehidupannya, (3) sikap menghormat turis nonmuslim, (4) memuliakan tetangga,  dan (5) melaksanakan pernikahan secara islami. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;selengkapnya hubungi saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-244520363832657926?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/244520363832657926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=244520363832657926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/244520363832657926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/244520363832657926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/12/novel-ayat-ayat-cinta-sebuah-tinjauan.html' title='Novel Ayat-Ayat Cinta:  Sebuah Tinjauan Pragmatik'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-8610964686190444834</id><published>2008-10-28T06:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-28T06:14:59.963-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Tidak Ada ”Kampung Minang”?, Catatan Tambahan untuk Artikel Mathias Pandoe</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Dari Padek, Selasa, 28 Oktober 2008    &lt;/span&gt;                   &lt;div style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; &lt;b&gt;Oleh :&lt;/b&gt; Suryadi, Dosen dan Peneliti Pada Universiteit Leiden, Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (sic) yang dimuat Padang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar negeri, tidak hidup dalam sebuah enclave seperti beberapa etnis lainnya? &lt;/div&gt;   &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan “orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu muncul pada orang Minang? &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini yang, sayangnya, hanya menyinggung sedikit dalam artikel itu. Tulisan ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias yang sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya baca.   &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara. &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepuluan Nusantara melalui serikat dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi kependudukan wilayah kepulauan ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Banyak kelompok etnis melakukan penghijarahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan bahwa pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidaka bisa berkomunikasi dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di wilayah yang sama di tempat yang baru itu. &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa (seperti Batavia dan Surabaya)—seperti Kampung Bali, Kampung Ambon, dan Kampung Bugis—disebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-budak dari daerah itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari wilayah itu: 1) yang diperdagangkan; 2) yang dibawa paksa oleh Belanda ke Batavia sebagai tenaga kerja; 3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’ oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil bumi setempat, dan budak (biasanya disebut abdi, lasykar, bingkisan, dan kiriman). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda berikut ini (garis bawah oleh Suryadi):&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; “Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta keadaan enam orang abdi laki2 yang tiada sepertinya. Maka yang seperti kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada Tuan Gurnadur Jenderal dengan segala Rat van [I]ndia yang sebagaimana yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.2). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799):&lt;br /&gt;“Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanya dua lapan orang bingkisan kepada Kompeni dan dua orang kiriman kepada Tuan Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.44). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) Kompeni Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah beberapa orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja lokal di Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia. Bayangkan jumlah budak yang menyertainya. &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya raja-raja Bali juga royal mengirim hadiah budak kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Raja-raja atau penghulu Minang dulu kalau mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia menyertai emas sebagai buah tangan, bukan budak. Simak kutipan kalimat penutup surat Panglima Raja di Hilir, Penghulu Kepala kota Padang di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; “Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarah ini tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya lima belas tahil mas kepala, serta kami minta selamat sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal  dan sekalian Tuan Raden van India” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Dan—he he, tanda si Padang pelit (cimpilik kariang?)—Panglima Raja di Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi):  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; “Sekarang suatupun belum apa2 persembahan daripada kami melainkan hanya hati putih selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur Jenderal  dan segala Tuan orang besar [Raad] van India serta sekalaian umur panjang jua adanya.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794). &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontan—satu ciri merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi: orang Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau disebut sebagai “bicaro gaduang”. Oleh sebab itu para perantau Minang tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang sudah lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam komunikasi antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di Minangkabau juga ikut mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang Minang di rantau.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" align="justify"&gt; Faktor-faktor di atas—sifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau sendiri dan juga faktor kebahasaan—tidak saja mempengaruhi jenis pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga mempengaruhi cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang dari kelompok etnis lain. *** &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-8610964686190444834?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/8610964686190444834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=8610964686190444834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8610964686190444834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8610964686190444834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/10/mengapa-tidak-ada-kampung-minang.html' title='Mengapa Tidak Ada ”Kampung Minang”?, Catatan Tambahan untuk Artikel Mathias Pandoe'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-1322593132010117120</id><published>2008-09-04T00:44:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T01:13:58.603-07:00</updated><title type='text'>Beberapa Aspek Pragmatik Novel Ayat-Ayat Cinta</title><content type='html'>Novel Ayat- Ayat Cinta ini disebut oleh penulisnya sebagai novel dakwah. Tidak berlebihan karena memang begitulah adanya. Hadi Susanto dalam prolog novel ini juga mengatakan hal yang sama. Pengarang AAC berhasil menyampaikan pesan-pesan moral dan dakwah secara halus sebagai bagian dari cerita. Pesan-pesan itulah—yang bersifat mendidik dan membina—jika dipandang dari sisi pragmatik, memberi manfaat kepada pembaca. &lt;br /&gt;Bila diinterpretasi lebih jauh, novel karya Habiburahman El Shirazy yang merupakan sarjana Universitas Al Azhar Kairo, Mesir ini memuat beberapa aspek pragmatik. Aspek pragmatik tersebut di antaranya meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Istikamah Mempertahankan Prinsip Hidup&lt;br /&gt; Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istikamah berarti teguh pendirian dan selalu konsekuen. Istikamah merupakan prinsip hidup yang harus dimiliki seorang muslim. Prinsip ini mencerminkan identitas berislam yang sesungguhnya. Seorang muslim yang teguh pendirian dan konsekuen tidak akan mudah berubah pikiran maupun perbuatan ketika dihadapkan pada berbagai godaan kehidupan yang bersifat duniawi. Prinsip seperti inilah yang dimiliki oleh Fahri, tokoh utama dalam novel AAC ini.  &lt;br /&gt; Pertama-tama, Habiburahman El Shirazy melalui tokoh Fahri ingin mengukuhkan prinsip bahwa hubungan laki-laki dan perempuan belum halal sebelum akad nikah dilaksanakan. Laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bersentuhan, apalagi berpelukan,  berdekatan atau berdua-duaan tanpa mahram sebelum ijab kabul diucapkan mempelai laki-laki. Hal ini merupakan prinsip hidup yang didasari oleh Al-Quran dan sunah rasul. Fahri memegang teguh prinsip ini. Keteguhan itu dapat dilihat dalam kutipan berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ku mohon turunlah  dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap airmatanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya” (hal 76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Teks di atas memberi gambaran bahwa Fahri teguh dengan prinsipnya untuk tidak menyentuh dan berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya meskipun Fahri dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk menolong Noura. Di satu sisi, Fahri tidak tega melihat Noura disiksa oleh ayahnya. Sedangkan di sisi lain, Fahri tidak mungkin turun menolong gadis itu yang menangis sendirian memeluk tiang lampu karena tidak halal baginya. Atas dasar itulah Fahri meminta Maria turun dari apartemennya untuk menolong Noura. &lt;br /&gt; Berikutnya, keteguhan Fahri menghadapi godaan perempuan terlihat ketika Maria—seorang  gadis koptik yang cantik dan menggairahkan—mengajaknya  berdansa. Perhatikan kutipan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Maafkan aku Maria. Maksudku aku tidak mungkin bisa melakukannya. Ajaran Al-Quran dan Sunnah melarang aku bersentuhan dengan perempuan kecuali dia istri atau mahramku. Kuharap kau mengerti dan tidak kecewa!” terangku tegas. Dalam masalah seperti ini aku tidak boleh membuka ruang keraguan yang membuat setan masuk ke dalam aliran darah” (hal 133). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fahri tidak bisa berdansa dengan Maria yang bukan istri atau mahramnya. Fahri secara tegas—tanpa keraguan—menolak ajakan Maria tersebut.  Apalagi bagi Fahri dansa adalah budaya Eropa yang tidak sejalan dengan budaya Islam. Prinsip Fahri ini jika dibandingkan sangat kontras dengan sebagian anak muda Islam sekarang yang justru berlomba-lomba mencari pasangan kencan, lalu mengajaknya berdansa atau bergoyang. Bagi mereka yang suka hidup glamour seperti itu, sosok seperti Fahri dianggap kolot, aneh, dan tidak mengikuti perkembangan zaman. &lt;br /&gt;Ketegasan prinsip Fahri juga nampak ketika ia sakit. Waktu itu Fahri amat marah mendapati dirinya berduaan dengan Maria ketika ia terbaring lemah di rumah sakit. Menurut Dr. Yusuf Al Qardawi, menjenguk orang sakit  disyariatkan oleh Islam meliputi  penjengukan wanita   kepada   laki-laki,  meskipun  bukan  muhrimnya,  dan laki-laki kepada wanita. Tetapi suatu hal yang tidak diragukan ialah bahwa menjenguknya itu  terikat  dengan   syarat-syarat   tertentu   yang   telah ditetapkan  syara',  bersopan  santun  sebagai  muslimah dalam berjalan, gerak-gerik, memandang,  berbicara,  tidak  berduaan antara  seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa ada yang lain,  aman  dari  fitnah,  diizinkan  oleh  suami  bagi  yang bersuami, dan diizinkan oleh wali bagi yang tidak bersuami.&lt;br /&gt; Ketika itu yang menjaga Fahri adalah Saiful, temannya sesama mahasiswa. Namun, karena Saiful belum makan dan mandi sejak semalam dan kelihatan letih, dia digantikan Maria yang kebetulan datang menjenguk Fahri. Maria menyuruh Saiful makan dan membersihkan diri. Maria sendiri menemani Fahri yang masih pingsan di kamar rumah sakit itu. Ketika Fahri sadar dari pingsannya dan melihat Maria menunggui dirinya sendirian tanpa Saiful, ia marah. Kepada  Saiful yang masuk sehabis makan dan membersihkan diri ia berujar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saif, kenapa kau tinggalkan aku sendirian dengan Maria? Kenapa dia yang menungguiku? Dia bukan mahramku.” Aku memaksakan diri untuk bersuara agak keras. Saiful sepertinya tahu kalau aku marah dan tidak berkenan” (hal 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan ini menunjukkan bahwa Fahri kukuh dengan prinsipnya. Antara laki-laki dan perempuan yang belum dalam ikatan pernikahan tidak diperkenankan berdua-duaan. Meskipun Fahri sedang sakit dan membutuhkan seseorang untuk menjaganya, ia menolak dijaga oleh perempuan yang bukan mahramnya. Hal ini diingatkan pengarang ketika menyadari bahwa sekarang amat banyak pemuda Islam yang mudah terjerumus kenistaan. Banyak laki-laki atau perempuan saat ini ketika sakit ditunggui oleh pacarnya, atau kemana-mana selalu berdua seperti pasangan suami istri. Padahal mereka belum halal melakukan itu. &lt;br /&gt;Selain konsekuen terhadap prinsip hubungan laki-laki dan perempuan, Fahri juga konsekuen dan tegas dengan suap-menyuap. Baginya menyuap dan disuap adalah haram; kedua-duanya masuk neraka. &lt;br /&gt;Persolan suap menyuap ini muncul ketika Aisha—istri Fahri—ingin  membebaskan Fahri dari penjara dengan menyuap hakim. Aisha yang orang kaya tidak ingin kehilangan Fahri suaminya. Ia akan melakukan apa saja untuk membebaskan Fahri dari penjara termasuk menyuap hakim, walaupun secara terpaksa. Akan tetapi, apa yang direncanakan Aisha ditolak mentah-mentah oleh Fahri. “Lebih baik aku mati dari pada melakukan itu,” katanya (hal 358). Fahri mengatakan kepada istrinya bahwa mereka harus teguh dan komitmen memegang keyakinan dan kebenaran dalam kondisi seperti apa pun. &lt;br /&gt;Pengarang melalui novel ini meyampaikan pesan kepada pembaca bahwa suap menyuap, sogok menyogok, KKN adalah perbuatan yang harus dijauhi oleh umat muslim apalagi bagi mereka yang terpelajar/mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dalam Islam. Dalam hal ini, Habiburrahman melalui tokoh Fahri menyampaikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika aku yang telah belajar di Al Azhar sampai merelakan istriku menyuap, maka bagaimana dengan mereka yang tidak belajar agama sama sekali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan tegas oleh Baginda Nabi. Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’ Artinya, orang menyuap dan disuap masuk neraka!” (hal. 359).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Interaksi Sosial Menurut Islam&lt;br /&gt; Selain konsekuen dengan prinsip-prinsip hidupnya, Fahri juga merupakan sosok yang dikagumi dan dituakan oleh teman-temannya. Dalam interaksi kesehariannya, sosok Fahri dikenal teman-temanya sebagai pemuda yang berjiwa besar, toleran, dan amat menghormati orang lain. Ia menunjukkan bagaimana seorang muslim harus berbuat, bersikap atau berprilaku terhadap orang lain sesuai dengan tuntunan Al Quran dan sunnah rasul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sikap Terhadap Turis Nonmuslim&lt;br /&gt; Suatu ketika Fahri membela tiga orang turis Amerika yang dilecehkan/dizhalimi oleh beberapa pemuda Mesir beragama Islam di atas sebuah metro (kereta api). Para pemuda itu tidak senang dengan keberadaan turis Amerika itu karena dianggap sebagai turis kafir dan tidak beradab—mereka berpakaian you can see saja. Orang Amerika dianggap menjadi biang kerusakan moral masyarakat Timur Tengah termasuk Mesir. Ketiga turis itu dilaknat, dihina dan disumpah-serapahi. Untung saja ketiganya tidak mengerti bahasa Arab, sehingga mereka biasa-biasa saja dan tidak tidak merasa tersinggung mendapatkan perlakuan itu. &lt;br /&gt; Akan tetapi, bagi Fahri yang menyaksikan kejadian itu dan mendengarkan hinaan para pemuda Mesir kepada turis Amerika itu, merasa terpanggil untuk mengambil sikap, tidak tinggal diam saja.  Ia maju menyampaikan kebenaran. Ia membela turis-turis Amerika itu karena menurut Islam mereka adalah tamu bagi orang-orang Mesir tersebut. Dan tentu saja, menurut pandangan Islam, tamu haruslah dihormati. Fahri mengatakan bahwa ketiga turis itu adalah ahlu dzimmah. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam kutipan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ahlu dzimmah adalah semua non muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin  secara baik-baik, tidak illegal, dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika ini masuk ke Mesir secara resmi. Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya coba saja lihat paspornya. Maka mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka harus kita lindungi. Itu yang diajarkan Rasulullah Saw” (hal. 50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya Fahri juga membaca beberapa hadis nabi tentang kewajiban melindungi tamu asing. Nabi mengancam bahwa barang siapa yang menyakiti ahlu dzimmah, maka ia telah menyakiti nabi dan menyakiti nabi berarti menyakiti Allah. Selain itu mereka juga akan menjadi seteru nabi di akhirat.  Apa yang disampaikan Fahri ini ternyata menyentuh hati para pemuda Mesir tersebut. Mereka menyadari kekeliruannya. Mereka dapat menerima apa yang disampaikan oleh Fahri. Mereka lalu beristigfar berkali-kali. &lt;br /&gt;Dengan demikian, nampaklah bahwa pengarang novel AAC ini ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa sebagai seorang muslim harus mampu menghargai tamu asing, menjaga kehormatan mereka tanpa melihat perbedaan agama dan kebudayaan. Begitu sikap berislam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-1322593132010117120?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/1322593132010117120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=1322593132010117120' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1322593132010117120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1322593132010117120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/09/beberapa-aspek-pragmatik-dalam-ayat.html' title='Beberapa Aspek Pragmatik Novel Ayat-Ayat Cinta'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-4371107823000500849</id><published>2008-07-27T23:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T23:56:31.457-07:00</updated><title type='text'>Dilarikan Cindaku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah seminggu Mamad tidak pulang. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan. Ibunya yang dibantu oleh orang-orang sekampung sudah mencari ke mana-mana. Hasilnya nihil. Mamad tak ditemukan. Ia hilang seperti ditelan bumi. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan ke mana hilangnya bocah itu. Jejaknya pun tidak ditemukan. Kata orang-orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mencarinya, kemungkinan Si Mamad dilarikan &lt;i style=""&gt;cindaku&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Siang hari sebelum menghilang, Mamad masih bermain kancil-kancilan bersama Nuan, Jali, Ayuk dan Garende di kebun belakang rumahnya. Ketika teman-temanya itu ditanyai ke mana perginya Si Mamad, mereka menjawab tidak tahu. Mereka cuma memberi penjelasan bahwa selesai bermain kancil-kancilan, Mamad masih berada di kebun itu sendirian. Katanya dia mau istirahat sebentar sambil tidur-tiduran. Sedangkan yang lain pergi mandi-mandi ke sungai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sampai sore dan bahkan malam Mamad tak pulang. Tidak biasanya ia begitu. Seasyik-asyiknya bermain, kalau sudah pukul empat, ia pasti akan balik ke rumahnya dan mandi. Setelah itu bersiap-siap untuk pergi mengaji ke surau. Begitu setiap harinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketidakpulangan Mamad membuat ibunya risau. Wanita separuh baya itu lalu mencari putra semata wayangnya itu. Mencarinya di kebun dan menanyai teman-teman bermainnya. Namun, sampai menjelang jam sembilan malam, Mamad pelum juga ditemukannya. Wanita itu mulai khawatir dan kalut. Untunglah para tetangga dibantu oleh Nuan, Jali dan teman-teman bermain Si Mamad yang lain membantu mencari. Mereka menelusuri kebun di belakang rumah Si Mamad yang memang berbatasan langsung dengan hutan di sebelah selatannya. Karena keterbatasan alat penerangan, pencarian malam itu tidak dilanjutkan ke hutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam itu Mamad tak berhasil ditemukan. Pencarian dilanjutkan pagi harinya. Kali ini yang mencari semakin bertambah banyak, dikordinir oleh kepala kampung. Para pencari mulai menelusuri hutan di sekitarnya. Menelusuri jalan setapak yang biasanya di lalui warga untuk mencari kayu dan hasil-hasil hutan lainnya. Namun, sejauh perjalanan, rombongan itu tak menemukan apa-apa. Bahkan tanda-tanda yang menunjukkan ke mana hilangnya Si Mamad pun tidak ditemukan sama sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari itu Mamad tak ditemukan. Kampung Siguntang di sekitar Lereng Gunung Talang itu menjadi geger. Orang-orang mulai menduga-duga. Ada yang berpendapat Si Mamad diculik oleh orang yang membutuhkan kepala manusia untuk tumbal pembuatan jembatan. Ada pula yang menduga Si Mamad dilarikan Harimau atau &lt;i style=""&gt;cindaku&lt;/i&gt;. Tidak ada yang tahu ke mana sebetulnya Si Mamad. Ibunya Si Mamad kelihatan seperti orang setengah gila, bingung, tak tahu apa yang harus dikerjakannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berita hilangnya Si Mamad sampai ke tangan polisi. Polisi pun kemudian membentuk tim untuk membantu mencari Si Mamad. Tetapi, sampai hari ketiga, tetap tak ditemukan apa-apa. Orang-orang yang mencari mulai kendor semangatnya. Ke mana lagi mereka harus mencari. Seluruh pelosok kampung termasuk sepanjang aliran sungai sudah dilacak. Setiap jengkal hutan telah ditelusuri. Tetap saja Si Mamad tak ditemukan. Aneh memang. Semua berada di luar jangkauan akal penduduk kampung Siguntang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari keempat, ibu Si Mamad masih saja mencari dibantu orang-orang terdekatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetap juga tak ada tanda-tanda Mamad akan ditemukan. Malah justru beredar kabar yang tidak tahu siapa yang menyebarkannya bahwa memang Si Mamad dilarikan &lt;i style=""&gt;cindaku. &lt;/i&gt;Pada sore hari sebelum Si Mamad hilang ada yang melihatnya berjalan dengan seseorang yang berambut panjang tergerai. Baunya wangi. Orang itu tidak mau memperlihatkan mukanya. Hanya membelakang saja. Ia berjalan menuju hulu sungai sambil menggandeng tangan Si Mamad. Ketika diikuti, orang itu secepat kilat menghilang, termasuk Si Mamad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari-hari berikutnya pembicaraan orang tentang Si Mamad yang dilarikan &lt;i style=""&gt;cindaku&lt;/i&gt; semakin meluas. Bahkan teman-teman bermain Si Mamad pun turut meramaikan berita itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ada yang melihat Si Mamad berjalan ke hulu sungai dengan wanita berambut panjang waktu itu,” kata Garende pada ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Siapa yang lihat?” tanya ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ndak tahu,” jawab Garende&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kalau tak tahu, tak usang ngomong. Bisa-bisa kamu nanti ditanyai polisi,” nasehat ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Saya dengar, orang-orang di lapau Uwo ngomongnya begitu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ssst... jangan diteruskan. Itu namanya gosip. Tidak baik. Orang muslim tidak boleh menggosip. Kamu tidak kasihan melihat ibunya Si Mamad. Dia sangat sedih dengan peristiwa ini. Kamu jangan menambah penderitaannya lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya... saya ngerti kok, Bu!” jawab Garende sambil menatap ke depan tanpa berkedip. Dari kejauan ia melihat sesuatu berjalan ke arahnya. Garende mengucek-ngucek matanya. Tidak ada yang salah. Dia mencubit lengannya. Sakit. Berarti ia tidak bermimpi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ada apa?” tanya ibunya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bu, lihat!” sambil menunjuk. “Bukankah itu Si Mamad,” katanya tak yakin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibunya melihat ke arah yang ditunjukkan anaknya. Benar. Nun di depan sana ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar. Si Mamad dengan gaya berjalannya yang khas, menuju kearah mereka.”Benar itu Si Mamad?” katanya tak percaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Benar, Bu...” jawab Garende yang langsung berlari ke arah Si Mamad. “Mamad, ke mana saja kamu. Kami semua mencemaskanmu. Ibumu apalagi. Telah seminggu ini kami mencarimu ke sana-kemari. Malah ada yang mengatakan kamu dilarikan &lt;i style=""&gt;cindaku&lt;/i&gt;,” kata Garende tanpa dapat dibendung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Aku pergi ke kota dengan Bapakku,” jawab Si Mamad tanpa dosa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kenapa kamu tidak titip pesan?” kali ini ibunya Garende yang bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sudah... sama nenek,” jawan Si Mamad. “Waktu itu, kita kan main-main di kebun, lalu kalian pergi mandi. Aku tinggal sendirian. Saat itulah, Bapakku datang. Beliau mengajakku pergi ke kota. Ya sudah. Aku pergi, deh! Karena ibuku tidak ada di rumah, aku titip pesan saja sama nenek. Berarti nenek tidak menyampaikan pesanku kali, ya” jawab Si Mamad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bagaimana nenekmu akan menyampaikan pesanmu, dia kan sudah pikun!” kata Garende.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sssttt...” &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-4371107823000500849?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/4371107823000500849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=4371107823000500849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4371107823000500849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4371107823000500849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/07/dilarikan-cindaku.html' title='Dilarikan Cindaku'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-1962247393777378145</id><published>2008-07-10T19:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T20:00:01.586-07:00</updated><title type='text'>Mesjid Serumpun Kayu</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh Ronidin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Meskipun kadang-kadang kehabisan bahan, aku dan ibunya anak-anak mesti harus mendongeng untuk dua orang buah hati kami sehabis makan malam menjelang tidurnya. Mendongeng sudah menjadi janji harian kami pada mereka ketika jam menonton tivi dikurangi.  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Mulanya memang berat. Anak-anak sudah terlanjur akrab dengan tokoh dan idola mereka di televisi. Bagi mereka &lt;i style=""&gt;Spiderman,&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Power Rangers, Batman, Sincan, Dora Emon, &lt;/i&gt;dan lain-lain jauh lebih perkasa dibandingkan tokoh-tokoh yang kami dongengkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan tetapi, ketika kami sudah mendongengi mereka setiap hari dengan berbagai variasi cerita, perlahan-lahan mereka mulai menyenangi dongeng. Malah, justru mereka akan menagih kalau kami &lt;i style=""&gt;emoh&lt;/i&gt; mendongeng pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;waktu itu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti pada malam itu, aku tidak bisa mengelak ketika kedua anakku itu memaksaku untuk mendongeng. Aku sedang tidak &lt;i style=""&gt;mood&lt;/i&gt; dan kehabisan bahan&lt;i style=""&gt;, &lt;/i&gt;sementara ibunya tidak bisa diganggu karena sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk ujian siswanya besok.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku berpikir keras apa yang akan aku dongengkan. Hampir semua stok cerita yang aku punya rasanya sudah aku ceritakan pada mereka. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ayolah, Yah, mana dongengnya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katanya Ayah jago dongeng di planet ini?” Anakku yang sulung tidak sabar lagi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“I ya, Sayang. Ayah sedang berpikir untuk mulai dari mana,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kilahku. Aku masih belum menemukan cerita yang akan aku sampaikan pada mereka. Tiba-tiba telepon rumahku berdering. Aku bangkit, minta izin pada anakku untuk mengangkat telepon tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Telepon kuangkat, ternyata dari ibuku, dari kampung; mengabarkan bahwa panen padi tahun ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhasil dengan gemilang. Acara panenan akan disaksikan oleh bupati. Akan ada pesta rakyat. Aku di minta pulang membawa anak-anak. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Aku iyakan permintaan Ibu. Kuberitahu anak-anak. Mereka senang bukan kepalang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Namun, setelah itu, tetap saja mereka menagih dongengku untuk malam ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Aku kembali berpikir, mengingat-ingat sesuatu. Pikiranku melayang-layang hingga akhirnya aku dibawa ke masa lalu, ke kampung. Aku ingat almarhum ayahku yang juga guru ngajiku. Aku ingat masa-masa kecilku di &lt;i style=""&gt;surau&lt;/i&gt;. Selesai mengaji,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ayahku akan meminta beberapa murid laki-laki untuk memijiti kakinya. Sebagai imbalannya, ayahku akan bercerita; kadang dongeng, kadang cerita nabi, kadang cerita perang, kadang cerita asal-usul segala sesuatu yang ada di &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt; kami. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebentar kemudian aku menemukan cerita untuk anak-anakku yang menunggu. Nah, inilah kisahnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dulu, kampungku belum punya nama seperti sekarang. Bukan hanya tidak punya nama, tetapi juga belum diakui sebagai sebuah kampung (orang-orang kami menyebutnya &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt;). Apa pasal? Karena kampungku belum memiliki mesjid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk diakui sebagai sebuah &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt; mesti ada wilayah yang akan didiami, ada penduduk, ada pandan perkuburan, mesti ada tempat pemandian, ada tempat bermusyawarah (balai adat), ada pasar tempat berjual beli dan mesjid. Dari semua itu hanya mesjid yang belum ada. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka diadakanlah musyawarah oleh warga. Agendanya tunggal: rencana pembangunan mesjid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam musyawarah itu setiap warga bebas mengemukakan pendapatnya. Maka bermunculanlah banyak ide. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengusulkan mesjid dibangun dekat dengan tempat pemandian. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang ingin mesjid didirikan di atas tanah kaum mereka. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengusulkan mesjid dibangun dekat pasar, atau di tengah-tengah kampung, dan pendapat lainnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rapat jadi berlarut-larut. Hingga menjelang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tengah malam belum juga dicapai kata sepakat di mana dan dengan cara apa mesjid akan dibangun.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka mengajukan dirilah seorang anak muda untuk memberikan pendapat. Anak muda itu dikenal warga sebagai seorang yang shaleh dan banyak kepandaian. Tidak diketahui siapa nama anak muda itu sebenarnya, tetapi orang-orang memanggilnya Katik Mudo. Ia baru beberapa bulan ini kembali dari Aceh belajar agama. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Bapak-bapak, Ibu-ibu, &lt;i style=""&gt;niniak mamak, urang sumado&lt;/i&gt;, semuanya, izinkan saya mengemukan pendapat,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Silahkan!” jawab pimpinan rapat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Begini, kita &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; punya aliran sungai. Meskipun airnya tidak terlalu deras tapi bisa kita pakai untuk menghanyutkan sesuatu dari hulu. Bagaimana kalau sungai itu kita bendung di hulu. Lalu dengan air yang kita bendung itu kita hanyutkan sebatang kayu besar ke kampung ini. Kayu yang kita hanyutkan itu kalau bisa sebatang utuh. Tidak ada yang dibuang kecuali akarnya bila kita tebang. Jika ada yang bisa mencabut kayu besar itu dengan akar-akarnya maka semuanya kita hanyutkan,” kata Katik Mudo sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Lalu,” kata peserta rapat yang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kita biarkan kayu itu hanyut sampai sejauh yang dikehendaki Allah. Di mana kayu itu berhenti, maka di sanalah kita akan membangun mesjid,” lanjut Katik Mudo. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua peserta musyawarah saling pandang. “Ide yang bagus dan cemerlang, kenapa tidak kita coba,” kata seorang tua dari belakang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, ide yang kita tunggu-tunggu,” kata yang lain menimpali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kalau begitu, agaknya musyawarah kita malam ini sudah bisa mengambil kata sepakat,” ujar pimpinan musyawarah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua mengangguk setuju. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Begitulah, musayawarah malam itu diakhiri dengan keputusan seperti yang diusulkan Katik Mudo. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selesai musyawarah, sebagian warga langsung pulang. Sebagian lagi masih bertahan di ruang musyawarah itu. Berbicara ini dan itu. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang memuji usulan Katik Mudo. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berharap agar kayu yang kelak akan dihanyutkan berhenti di dekat tanah kaum mereka atau di dekat rumah mereka. Tetapi ada juga yang cemas jika kayu itu tidak berhenti di kampung mereka dan terus ke kampung sebelah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Katik Mudo sejak tadi sudah mohon diri. Pulang ke pondoknya di ikuti oleh beberapa orang anak muda; murid-murid mengaji Katik Mudo. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malam kian larut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku melihat kedua anakku. Rupanya mereka sudah tertidur. Untuk malam ini cerita tentang kampungku kupenggal sampai di situ. Besok dilanjutkan. Aku angkat mereka ke kamarnya. Kubaringkan di tempat tidurnya. Kuselimuti. Kubisikkan ke kupingnya doa akan tidur. “Selamat tidur, Sayang,” kataku sambil beranjak menemui ibunya yang masih larut dalam pekerjaannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Lalu setelah rapat malam itu, apa yang dilakukan masyarakat, Yah? Bagaimana dengan Katik Mudo?” tanya anakku ketika malam ini kembali aku harus mendongeng melanjutkan yang kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Menurut kamu apa yang akan mereka lakukan?” tanyaku memancing animonya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aku tidak tahu. Nanti kalau aku kira-kira &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; mecing dengan cerita Ayah. Ayo dong, lanjutkan ceritanya!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka aku lanjutkan kisahnya. Ini dia....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Besoknya mulailah masyarakat bekerja dengan bergotong-royong. Semua warga turun; laki-laki perempuan, tua muda. Mereka meninggalkan pekerjaan pribadi masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pertama-tama mereka membersihkan kawasan hulu yang akan dibendung. Dalam waktu yang tidak lama kawasan itu telah bersih. Siap untuk dibendung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Air sungainya kelihatan bersih. Ikan-ikan berlarian di dalamnya dengan damai tanpa ada seorang pun warga yang mengganggu apalagi menangkapnya. Memang sudah menjadi kesepakatan warga di kampung itu bahwa segala sesuatu yang bukan milik pribadi (artinya milik &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt;) maka untuk mengambilnya harus dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pekerjaan dilanjutkan dengan mengumpulkan batu. Batu-batu itulah yang akan dipakai untuk membendung sungai. Setelah air sungai terbendung, maka dengan kekuatan air yang dibendung itulah nanti kayu akan dihanyutkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semua warga bekerja dengan penuh semangat. Laki-laki berdua atau bertiga mengangkat atau menggulingkan satu batu. Ada juga yang mengangkat satu batu seorang diri. Ibu-ibu dan gadis-gadis dengan cekatan bekerja di dapur umum menyiapkan santap siang. Beberapa tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;masuk ke hutan mencari kayu yang akan ditebang atau dicabut jika ada bisa melakukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Katik Mudo juga larut dalam pekerjaannya. Mulanya ia ikut mengangkat batu, tetapi kemudian oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sutan Penghulu, ia dipanggil untuk membantu mencari kayu yang cocok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rombongan tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;dan Katik Mudo memeriksa kayu-kayu yang tumbuh perkasa di hutan itu. Mereka mencari kayu yang memungkinkan sebatang saja untuk keperluan perkayuan mesjid. Beberapa kayu sudah diperiksa dan dipatut. Banyak kayu bagus dan kuat yang ada di hutan itu, sehingga untuk memilih satu di antaranya rombongan tersebut mesti bermusyawarah dulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya didapati kata sepekat bahwa kayu yang akan diambil adalah yang paling besar dan paling kuat yang tumbuh di tebing dekat sungai yang sedang dibendung. Kalau diambil di tempat lain, takutnya akan susah ditarik ke sungai. Jika yang ditebing, bisa bersama-sama ditarik langsung ke arah sungai ketika ditebang. Lebih mudah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Diperiksalah kayu itu oleh oleh rombongan tetua &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt; dan Katik Mudo. Ternyata cocok. Cuma, di atas kayu itu bersarang ribuan burung dan kelelawar. Ada pula &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;beberapa ekor ular meliliti cabang pohon itu. Tidak beberapa jauh dari pohon itu mengaum pula seekor induk harimau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang menjilati dua ekor anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Para tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;menjadi kecut. Takut kalau harimau itu menerjang dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiba-tiba. Sutan Penghulu meraba goloknya. Begitu juga yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Katik Mudo kemudian maju ke depan dan berseru, “Wahai segala makhluk Allah yang ada di sekitar pohon ini, apakah kami boleh mengambil pohon ini untuk dijadikan perkayuan mesjid. Kami tahu pohon ini telah menjadi sarang kalian entah sejak kapan. Jika kami diizinkan untuk mengambil pohon ini, maka berilah tanda. Jika tidak, kami akan cari pohon yang lain.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suasana hening. Orang-orang yang sedang bekerja sejenak berhenti. Mereka mendengar suara Katik Mudo bagai kilatan yang begitu menggetarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sampai menjelang sore tidak ada tanda. Para tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;tidak ada yang berani mendekati pohon itu. Katik Mudo dan yang lain menunggu dengan sabar. Akhirnya diputuskan bahwa pekerjaan dilanjutkan besoknya. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ceritaku sampai di sini, kulihat kedua anakku sudah tertidur. Kuminta ibunya mengangkatnya ke kamar. Aku ke kamar kecil. Berwudhuk, lalu sholat Isya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam ini aku tidak bisa mendongeng buat anak-anakku. Aku ada pekerjaan tambahan di kantor hingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai sekarang pun belum kelar juga. Kutelepon istriku untuk melanjutkan cerita yang kemarin masih belum selesai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kuberitahu ia lanjutan ceritanya sekilas. Sesungguhnya ia sudah pernah mendengar cerita tersebut dariku, dulu, ketika kami masih belum punya anak. Jadi, sebelum ke anak, aku sudah mendongeng ke ibunya terlebih dahulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku membayangkan, maka ibunya anak-anakku akan melanjutkan cerita itu seperti ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam itu Kepala Kampung bermimpi. Pohon itu boleh diambil dengan syarat masyarakat tidak mengganggu para penghuni hutan. Mereka tidak boleh diburu, apalagi dibunuh dengan semena-mena.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepala Kampung menyatakan setuju. Ia akan menyampaikannya kepada seluruh warganya perjanjian itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Paginya semua warga telah berkumpul di balai adat. Mereka akan kembali bekerja atau bagaimana. Menunggu perintah dari Kepala Kampung. Lalu Kepala Kampung menyampaikan perihal mimpinya kepada seluruh yang hadir. Mereka setuju. Maka kembalilah mereka melanjutkan pekerjaan kemarin yang masih terbengkalai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika sampai di hutan, ternyata seluruh rombongan tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;dan Katik Mudo mengalami mimpi yang sama malam tadi. Mereka lalu berikrar akan memegang teguh janji itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesampai di dekat pohon yang akan diambil itu, ternyata seluruh penghuninya sudah tidak ada lagi di situ kecuali seekor harimau besar, tidak tiga seperti kemarin. Harimau itu mengendus-endus dan pergi ke hadapan Katik Mudo. Ia mengulurkan kaki depannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Katik Mudo agak bingung. Tetapi kemudian ia memberanikan diri menyambut kaki harimau itu. Mereka seperti orang bersalaman. Selanjutnya harimau itu menggerak-gerakkan ekornya beberapa kali, lalu pergi meninggalkan Katik Mudo dan rombongan tetua &lt;i style=""&gt;nagari &lt;/i&gt;yang bingung&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Harimau itu mengaum, lalu menghilang di balik rimbunan pohon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Maha suci, Allah. Mudah-mudahan ini pertanda baik,” ujar Katik Mudo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Mudah-mudahan demikian,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Angku Mudo&lt;/i&gt;,” jawab Mak Labai. “Jadi bagaimana, kita tebang pohon ini sekarang?” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bagaimana &lt;i style=""&gt;Mak Sutan&lt;/i&gt;, kita tebang sekarang?” tanya Katik Mudo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Baiklah kalau begitu. Siapa yang akan menebang?” tanya Sutan Penghulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bagaimana kalau aku saja,” Mak Labai menawarkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Baik, silahkan!” kata Sutan Penghulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mak Labai mengeluarkan kapak dari keranjangnya. Mata kapaknya berkilat-kilat terkena cahaya matahari. Kayu-kayu kecil di sekitar rumpun pohon itu dipangkasnya. Katik Mudo dan yang lain memperhatikan dengan seksama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mak Labai membaca &lt;i style=""&gt;Basmallah.&lt;/i&gt; Lalu mengayunkan kapaknya. Mata kapak yang tajam itu mengenai kulit pohon itu. Tidak tejadi apa-apa, kulit pohon itu tidak tergores sama sekali. Malah justru Mak Labai yang terjejar beberapa langkah ke belakang. Dicobanya lagi, lagi dan lagi, tetap sama. Kapak Mak Labai seperti membentur dinding tembok yang keras. Mak Labai akhirnya menyerah. Ia tidak sanggup lagi. Seluruh tubuhnya mandi keringat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kapak diambil Mak Sutan Penghulu. Ia melakukan seperti yang tadi dilakukan Mak Labai. Sama. Pohon itu tak bergeming. Lalu, anggota rombongan yang lain juga mencoba, termasuk Katik Mudo. Hasilnya sama. Pohon itu tak mempan dikapak. Sampai siang pohon itu masih seperti sedia kala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bagaimana ini?” seru mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kita minta dulu petunjuk Yang Kuasa,” kata Katik Mudo. “Mari kita sholat Zuhur dan berdoa bersama!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka lalu sholat Zuhur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cerita sampai di situ dulu. Istriku tidak melanjutkan karena anak-anak sudah tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam ini kembali giliranku meneruskan cerita yang masih belum kelar. Anak-anak makin penasaran bagaimana kelanjutan kisahnya. Baru saja selesai sholat Magrib, sudah ditagihnya aku untuk melanjutkan cerita itu. Aku pun melanjutkan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika rombongan Katik Mudo dan tetua &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt; kembali ke pohon itu, di sana sudah berdiri harimau besar yang tadi disalami Katik Mudo. Harimau itu membawa beberapa potong akar. Sambil menggigit akar itu, harimau itu menengadah ke atas dan mengangguk-anggukkan kepalanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anggota rombongan bingung; tidak mengerti maksud harimau itu. Tapi justru Katik Mudo dapat menangkap maksud harimau itu dengan jelas. Setelah Katik Mudo mengangguk mengiyakan maksud harimau itu, ia pun pergi seperti tadi. Menghilang dalam sekejab ke balik pepohonan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Apa maksud harimau itu, &lt;i style=""&gt;Angku Mudo?” &lt;/i&gt;tanya Sutan Penghulu dan Mak Labai hampir bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ia ingin kita menarik pohon itu bersama-sama ke bawah atau ke sungai.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Caranya?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kita pasang tali di atas dahannya, lalu kita tarik bersama-sama. Harus ada pula di sini yang bertugas menggali akarnya agar lebih mudah ditarik,” kata Katik Mudo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kalau begitu segera kita kerjakan,” kata Mak Labai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ayo, tunggu apa lagi,” timpal yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demikianlah. Pohon itu pun ditarik bersama-sama. &lt;i style=""&gt;Subhannallah,&lt;/i&gt; tiupan angin ikut membantu. Beberapa saat pohon itu berderit-derit dan akhirnya rubuh. Suara bergemuruh terdengar disertai terikan warga yang gembira. Pohon itu menggelinding ke sungai dan berhenti persis di bawah bendungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Benar-benar pertolongan Allah. Kita tinggal membobol bendungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan setelah itu pohon ini akan dihanyutkan. Kita akan tunggu di kampung. Di mana ia berhenti, di sanalah kita akan membangun mesjid,” ujar Kepala Kampung lega.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Demikianlah, pohon itu pun dihanyutkan. Dengan air bendungan yang berkekuatan seperti air bah itu, pohon itu pun hanyut tanpa kendala. Semua warga yang menyaksikannya berharap-harap cemas. Dimanakah pohon itu akan berhenti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bersamaan dengan pohon itu juga ikut hanyut batu-batu yang tadinya di pakai untuk membendung air. Maka antara batu dan pohon itu hanyut susul menyusul mirip galodo atau sekarang disebut banjir bandang. Bekas yang dilaluinya membentuk badan sungai yang agak lebar dibandingkan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kini pohon itu telah sampai di perkampungan. Satu dua tempat yang diharapkan sebelumnya untuk menjadi tempat perhentiannya telah dilewati. Namun, ia belum juga berhenti. Semua warga berharap pohon itu segera berhenti karena sudah hampir mendekati batas kampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya sebuah batu besar yang hanyut mendahului pohon itu berhenti. Berhentinya batu itu menghambat hanyutnya pohon. Ya, pohon itu berhenti. Benhenti di sebuah lembah. Lembah itu oleh warga setempat dinamai &lt;i style=""&gt;Koto&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semua warga merasa lega. Mereka ramai-ramai memanjatkan doa syukur. Setelah itu pohon itu pun dibersihkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mesjid pun segera di bangun. Mereka bergotong royong dengan penuh semangat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya mesjid itu selesai juga. Berdiri kokoh di &lt;i style=""&gt;Lembah Koto&lt;/i&gt;. Mesjid itu dibangun hanya dengan sebatang pohon. Tidak dipaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di depan mesjid itu berdiri kokoh sebuah batu besar. Konon dari bawah batu itu memancarlah air bersih. Air itulah yang dipakai untuk berwudhuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hingga kini mesjid itu masih ada dan masih dipakai. Orang-orang menyebutnya mesjid &lt;i style=""&gt;Tua Koto&lt;/i&gt;. Menurut warga setempat, sekali setahun menjelang masuknya bulan puasa atau ketika akan datang bencana, maka mesjid itu akan bergetar dan membayang ke langit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Begitulah. Setelah mesjid itu selesai, kampungku diakui menjadi sebuah &lt;i style=""&gt;nagari&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Nagari &lt;/i&gt;itu dinamai Batang Barus. Berasal dari kata batang berarus. Batang yang dihanyutkan dengan arus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagian wilayah Batang Barus sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Sedangkan mesjid &lt;i style=""&gt;Tuo Koto&lt;/i&gt; lerletak kira-kira 6 kilometer ke arah selatan dari Aro Suka, ibu kota Kabupaten Solok Sumatera Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-1962247393777378145?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/1962247393777378145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=1962247393777378145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1962247393777378145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1962247393777378145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/07/mesjid-serumpun-kayu.html' title='Mesjid Serumpun Kayu'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-2612094953150151282</id><published>2008-05-13T02:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:24:23.608-07:00</updated><title type='text'>Menuntut Walikota</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Aku rasa aku mengenalnya. Tapi di mana ya? Aku tidak ingat lagi. Ketika kutanya maksud kedatangannya, dia bilang mau menghadap Tuhan. Untuk urusan apa? Aku tak memperoleh jawabannya. Dia hanya mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dituntutnya langsung di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;            “Aku ingin menemui Tuhan untuk minta keadilan atas sebuah persoalan yang  belum terselesaikan di dunia,” katanya.&lt;br /&gt;            “Persoalan apa?” kejarku.&lt;br /&gt;            “Kamu akan tahu jika kamu bersamaku menemui Tuhan,” jawabnya.&lt;br /&gt;            “Caranya?”&lt;br /&gt;            “Kamu ini bagaimana? Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian. Kamu kan sudah berwaktu-waktu di sini menjadi asisten Tuhan. Masa kamu tidak tahu prosedur menghadap-Nya,” katanya menohokku.&lt;br /&gt;            “Aku hanya seorang hamba. Seorang pesuruh Tuhan!”&lt;br /&gt;            “Terserah apalah namanya, yang penting kamu kan sering berhubungan dengan-Nya. Kamu tentu lebih dekat dan hafal dengan kebiasaan-kebiasaan Tuhan. Nah, sekarang kamu antarkanlah aku ke hadapan-Nya.”&lt;br /&gt;            “Aku tidak bisa!”&lt;br /&gt;            “Kenapa? Loyalitas kerjamu perlu dipertanyakan kalau begitu!”&lt;br /&gt;            “Sebagai pesuruh Tuhan, aku sendiri pun belum pernah bertemu dengan-Nya. Bagaimana pula aku akan membawamu menghadap-Nya. Apalagi persoalan yang akan kamu ajukan juga tidak jelas,” kataku beralasan.&lt;br /&gt;            “Ahk ... dari dulu kamu juga begitu. Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Biar aku sendiri yang akan pergi,” katanya berlalu meninggalkan aku yang kebingungan.&lt;br /&gt;            “Dari dulu kamu juga begitu,” kuulangi kalimat itu. Kurenung-renungkan maksudnya. Orang aneh. Mungkinkah dia mengenalku? Kalau tidak, mana mungkin dia akan berkata seperti itu. Aku berusaha mengingat-ingat. Pernah tidak, kami berurusan sebelumnya?&lt;br /&gt;            Ops... aku ingat. Bukankah dia itu Pak Dedi. Seorang guru privat yang dulu pernah datang ke Balaikota. Waktu itu dia marah-marah, menepuk-nepuk meja dan mengamuk karena tidak kuizinkan bertemu Pak Wako.&lt;br /&gt;            Sebagai sekretaris Pak Wako, aku tidak dapat mengizinkannya masuk karena di luar prosedur. Seharusnya terlebih dahulu dia memasukkan surat audiensi. Baru setelah itu akan diproses dan ditentukan jadwal untuk bertemu dengan Pak Wako. Ini tidak. Dia main serobot saja.&lt;br /&gt;            Pagi itu dia datang. Katanya ingin bertemu Pak Wako dan menuntutnya. Ketika kutanya duduk persoalannya, dia tidak mau menjelaskan, sama persis seperti kejadian  yang barusan dia lakukan ketika hendak menghadap Tuhan.&lt;br /&gt;            “Ini urusan aku dengan Pak Wako. Kamu tidak perlu tahu!” katanya.&lt;br /&gt;            “Ya. Tapi setiap urusan yang berhubungan dengan Pak Wako di kantor ini, harus diberitahukan di sini dulu.  Baru kemudian diagendakan,”  kataku memberi penjelasan.&lt;br /&gt;            “Aku tidak peduli, yang jelas aku harus bertemu dengan Pak Wako. Aku ingin menuntutnya!” katanya lagi.&lt;br /&gt;            “Menuntut Pak Wako dalam urusan apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;            “Kamu tidak perlu tahu,” katanya ketus.&lt;br /&gt;            “Mesti!”&lt;br /&gt;            “Tidak bisa. Ini urusanku dengan Pak Wako.”&lt;br /&gt;            “Kalau begitu, Anda saya ingatkan untuk tidak membawa dendam pribadi ke sini.&lt;br /&gt;Jadi, bersegeralah untuk meninggalkan ruangan ini,” kataku kesal.&lt;br /&gt;            “Ini bukan dendam pribadi. Ini demi kemaslahatan.&lt;br /&gt;“Kemaslahatan apa?”&lt;br /&gt;“Kemaslahatan umat. Karena itu, aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Pak Wako!”&lt;br /&gt;            “Anda jangan atas namakan kemaslahatan di atas kepentingaan pribadi. Sekali lagi saya ingatkan, Anda jangan bikin keributan di sini. Saya bisa saja panggil Pol PP untuk mengusir Anda.”&lt;br /&gt;            “Silahkan! Aku tidak akan pergi.”&lt;br /&gt;            “Tolonglah mengerti. Ini kantor, Bung!”&lt;br /&gt;            “Aku  paham ini kantor. Aku hanya ingin bertemu Pak Wako. Itu saja. Apakah itu salah?”&lt;br /&gt;            “Tidak.”&lt;br /&gt;            “lalu?”&lt;br /&gt;            “Untuk bertemu Pak Wako, ada prosedurnya.”&lt;br /&gt;            “Prosedur...?” katanya mencibir. “Prosedur apa?”&lt;br /&gt;“Ya, semacam aturan yang harus ditaati.” kataku memberi penjelasan.&lt;br /&gt;“Ah... omong kosong saja ‘tu. Bisa jadi, gara-gara prosedur-prosedur itu, negeri ini jadi salah urus,” katanya sinis.&lt;br /&gt;“Anda jangan berpikir begitu!”&lt;br /&gt;“Faktanya memang begitu kan? Dimana-mana bukan rahasia lagi kasus-kasus salah prosedur. Boleh jadi, kedatanganku ke sini salah satunya gara-gara kesalahan prosedur itu.” &lt;br /&gt;“Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat denganmu. Sekarang kamu tinggal pilih: pergi secara baik-baik atau kusuruh Pol PP mengusirmu!”  kataku mencoba bersikap tegas.&lt;br /&gt;“Kamu ini bagaimana?” tangannya menepuk meja. Keras sekali.  “Kan sudah aku katakan, aku tidak akan pergi sebelum bertemu Pak Wako. Minggir! Minggir!” Dia berdiri dan berusaha menerobos mejaku membuka pintu ruangan Pak Wako.&lt;br /&gt;Aku kaget. Aku berusaha menahannya. Menghalang-halanginya. Tapi tidak bisa. Dia seperti kerasutan. Tenaganya berlipat-lipat.&lt;br /&gt;Tidak ada jalan lain. Dia harus dihentikan. Aku segera menghubungi beberapa anggota Pol PP. Meminta mereka  menghentikan orang aneh ini. Dia harus dikeluarkan dari sini sebelum berbuat terlalu  jauh.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ketika beberapa anggota Pol PP datang, dia tetap saja bersikeras untuk masuk. Dengan nekat dia malah menendang Pol PP yang berusaha menghalanginya. Tak diharapkan, terjadilah keributan yang membuat para pegawai yang sedang bekerja terganggu. Mereka ramai-ramai meninggalkan pekerjaannya, melihat apa gerangan yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Pak Wako pun merasa terusik. Buru-buru ia keluar dari ruangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Ada apa? Kok ribut-ribut?” tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;“Ada orang stenggil  datang ke sini dan marah-marah semaunya, Pak!” kata seorang pegawai yang kebetulan  berada di samping Pak Wako.&lt;br /&gt;“Apa katamu? Aku kamu bilang stenggil ? Awas kamu, ya! Kurobek-robek mulutmu yang bau jengkol itu baru tahu rasa.” jawab Pak Dedi sambil menuding-nudingkan telunjuknya di antara kepitan tangan beberapa Pol PP. “Aku ke sini bukan untuk bikin keributan seperti ini. Aku hanya ingin bertemu Pak Wako. Itu saja. Tapi ternyata, karena aku orang kecil yang dekil,  di sini aku justru diperlakukan tak ubahnya seperti binatang saja.”&lt;br /&gt;“Ada perlu apa Anda ingin bertemu dengan saya?” tanya Pak Wako.&lt;br /&gt;“Bagaimana aku akan bisa bicara, kalau anak buah Bapak, mengekang saya seperti ini,” jawab Pak Dedi.&lt;br /&gt;“Parno, biarkan dia bicara,” perintah Pak Wako. “Nah, sekarang katakan ada apa Anda ingin bertemu saya!”&lt;br /&gt;“Aku ingin menuntut Bapak!”&lt;br /&gt;“Atas dasar apa?” tanya Pak Wako heran.&lt;br /&gt;“Atas kerusakan vespaku!”&lt;br /&gt;“Lho... vespamu yang rusak kok harus menuntut saya?!”  Pak Wako heran.&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Ya, kenapa?”&lt;br /&gt;“Karena kelalaian Bapak!”&lt;br /&gt;“Maksud Anda?”&lt;br /&gt;“Sejak terpilih jadi walikota, Bapak lebih suka bermegah-megah di kantor ini. Pada hal dulu ketika kampanye, Bapak pernah berjanji ini dan itu kepada kami. Salah satu janji Bapak yang masih saya ingat adalah janji untuk memperbaiki jalan di tempat kami tinggal. Namun, sampai sekarang janji itu tinggal janji saja,” kata Pak Dedi polos.&lt;br /&gt;“Lalu apa hubungannya dengan kerusakan vespa Anda dan kedatangan Anda ke sini?”&lt;br /&gt;“Aku kesini karena jalan yang sudah berlubang-lubang itu telah membuat banyak masalah bagi siapa saja yang lewat di sana. Misalnya, kehadiran para preman tukang palak yang meminta uang sebagai imbalan karena mereka telah menimbun lubang-lubang  itu dengan tanah yang jika hujan akan sangat becek. Tapi bagiku itu tidak terlalu dipusingkan. Yang justru aku pusingkan adalah kerusakan vespaku ketika lewat disana. Suatu kali sehabis hujan, aku lewat di sana. Tanpa kukira, karena tergenang air, aku kecemplung  ke lubang besar. Aku terjatuh. Vespaku terbalik dan rusak. Rusaknya parah.”&lt;br /&gt;“Lalu?”  tanya Pak Wako.&lt;br /&gt;“Karena vespaku rusak, sejak itu, aku pergi pergi ke mana-mana terpaksa naik angkot yang ongkosnya tak tanggung-tanggung tingginya, do. Kata sopir BBM mahal.  Akibatnya, honor privatku habis untuk ongkos saja. Karena itu aku ke sini. Aku ingin meminta ganti rugi. Aku ingin Bapak memperbaiki vespaku, sekaligus memperbaiki jalan itu secepatnya!”&lt;br /&gt;“O... itu persoalannya. Kalau begitu, mari kita bicarakan di ruangan saya saja. Saya pikir itu bukanlah masalah yang perlu diributkan,” kata Pak Wako. “Ayo, semua kembali ke tempat kerja masing-masing!” perintahnya.&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin ribut, Pak. Tapi anak buah Bapak yang memulainya,” kata Pak Dedi di ruangan Pak Wako.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Sudahlah, Pak! Sekarang begini saja: pertama, terkait dengan masalah verspa Bapak itu –meskipun ini sebenarnya bukan tanggung jawab saya—silahkan Bapak bawa ke bengkel dulu untuk diperbaiki. Berapa biayanya, Bapak bisa minta ke sini. Saya akan ganti. Ini sebagai wujud kepedulian saya kepada nasib Bapak. Apalagi Bapak seorang  guru privat. Kedua, tentang masalah jalan yang berlubang-lubang itu, memang sudah ada rencana untuk diperbaiki dalam waktu dekat. Bapak bersabarlah dulu. Kalau tidak ada aral melintang, bulan depan akan kita mulai pengerjaannya. Kami sedang menyusun rancangannya,” kata Pak Wako menjawab keinginan Pak Dedi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Kalau memang begitu kata Bapak,  aku merasa senang. Aku akan segera ke bengkel dan setelah itu kembali lagi ke sini. Tapi aku tidak mau berurusan dengan anak buah Bapak lagi.”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Nanti Bapak bisa langsung temui saya saja!”&lt;br /&gt;“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak.”&lt;br /&gt;“Lho, kok buru-buru. Nggak minum dulu?”&lt;br /&gt;“Tidak usah, Pak. Nanti keburu hujan!”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, terimalah ini sekedarnya! Untu ongkos” kata Pak Wako sambil memasukkan beberapa lembaran kertas ke kantong Pak Dedi.&lt;br /&gt;“Apa ini, Pak?”&lt;br /&gt;“Terimalah! Sekedar oleh-oleh dari saya!”&lt;br /&gt;“Tidak, Pak. Aku tidak bisa menerimanya. Maafkan aku. Sebaiknya Bapak berikan kepada yang lain saja!”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Aku tidak minta itu, Pak. Aku hanya minta seperti yang kukatakan tadi. Itu saja.”&lt;br /&gt;“Ya, sudah kalau memang begitu.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Berbulan-bulan kemudian, jalan itu belum juga diperbaiki. Kerusakan  bertambah parah.&lt;br /&gt;Pak Dedi tak habis pikir, kenapa Pak Wako belum juga memperbaikinya. Padahal, dulu jelas-jelas dia mengatakan akan memperbaikinya dalam waktu dekat. Pak Dedi penasaran. Dihidupkan mesin vespanya. “Aku harus kembali menemui Pak Wako itu,” katanya pada istrinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dengan rasa penasaran yang tinggi, Pak Dedi memacu vespanya sekencang-kencangnya.  Tak peduli apakah sekarang didepannya ada lubang atau bukan. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak;  ban depan vespa Pak Dedi pecah karena bergesekan dengan dinding lubang yang tajam. Tak pelak, Pak Dedi lepas kendali. Vespa itu rebah kuda. Pak Dedi terpelanting.&lt;br /&gt;Orang-orang yang ada di tempat itu terkejut. Mereka segera berhamburan ke TKP. Ketika mereka hendak menolong,  ternyata tubuh Pak Dedi sudah tak bernyawa lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-2612094953150151282?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/2612094953150151282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=2612094953150151282' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/2612094953150151282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/2612094953150151282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/05/menuntut-walikota.html' title='Menuntut Walikota'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-6771484711617233849</id><published>2008-04-13T22:21:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T22:27:43.654-07:00</updated><title type='text'>Persepsi Generasi Rantau terhadap Minangkabau</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;Generasi Minang rantau baik yang lahir dan besar di rantau atau generasi yang merantau setelah cukup usia menganggap diri mereka sebagai bagian dari etnis Minangkabau. Tidak ada yang ganjil dalam premis ini.  Namun, yang jelas, tentu saja denyut nadi kehidupan generasi rantau akan berbeda dengan generasi kampung. Dalam hal ini, generasi rantau sehari-harinya berinteraksi dengan kehidupan dan kebudayaan rantau yang majemuk, jauh berbeda dengan kebudayaan di kampung. Persoalan yang muncul: akankah generasi tersebut tetap bertahan dengan ‘kebudayaan asli’ atau ‘kebudayaan ibu’ mereka, atau justru malah tercerabut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab keraguan ini, saya menerima beberapa email dan SMS dari anak-anak muda Minang yang ada di rantau. Mereka berkomentar tentang kampung mereka; tentang kerinduan dan keprihatinan mereka. Salah satu email yang datang ke saya seperti ini:&lt;br /&gt; “Perkenalkan, nama saya Nopendri. Saya mahasiswa Minang yang kuliah di Bandung. Saya berasal dari kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Saya telah membaca buku Bapak yang berjudul Minangkabau Di Mata Anak Muda. Banyak hal  yang saya rasakan setelah membacanya. Mulai dari bangga sampaiprihatin. Bangga karena saya ternyata memiliki identitas, kultur dan sejarah daerah asal yang mengagumkan. Memiliki budaya yang kental akan Islamnya yang sering diingat dengan ABS-SBK. Memiliki tokoh-tokoh besar seperti Buya HAMKA dan Pak Natsir. Akan tetapi, saya juga prihatin akan keadaan sekarang. Di mana orang Minang sekarang bukan seperti dulu lagi. Generasi-generasi surau sudah tidak ada lagi. Bundo-bundo yang ada di kampuang sudah mandul melahirkan tokoh-tokoh besar. Para pemuda tidak tahu lagi tentang budayanya. Islam sebagai the way of live sudah lepas dari diri para pemuda Minang. Saya juga sering mendengar dari orang  non-minang tentang istilah “padang bengkok” yang memiliki makna negatif akan orang Minang di rantau. Seperti yang sering saya dengar bahwa Minangkabau hanya tinggal kabaunya saja, minangnya sudah hilang” Lalu ada SMS seperti ini:“Saya Lia asli Saning Baka, tapi besar di rantau. Saya seorang pelajar SMA kelas dua di Lumajang, Jatim. Saya baca buku karangan Bapak Minangkabau di Mata Anak Muda, di situ ada peristiwa PRRI tahun 1958-1961, itu peristiwa tentang apa, Pak?” Ada lagi seperti ini,“Saya Hendri, perantau Minang di Batam, saya baca buku Minangkabau di Mata Anak Muda. Bisa ‘ndak Bapak memberitahu saya di mana saya bisa mendapatkan informasi yang luas tentang Minangkabau?” Ada beberapa catatan saya tentang hal di atas. Pertama, ternyata anak-anak muda Minang yang ada di rantau (terlepas apakah mereka generasi yang lahir dan besar di rantau atau generasi yang datang belakangan) membaca buku-buku tentang kampung halaman mereka. Ini mengindikasikan bahwa mereka ingin tahu tentang kehidupan dan perkembangan Minangkabau. Mereka “haus” akan informasi-informasi  tentang perkembangan kampung halaman yang mereka tinggalkan; yang mereka amat rindukan. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah generasi yang tak hendak melupakan Minangkabau; tempat darah ibu/nenek mereka tertumpah melahirkan mereka. Mereka tak hendak menjadi malin Kundang. Mereka ingin berkontribusi membangun Minangkabau, minimal menyumbang saran ataupun unjuk keprihatinan terhadap gejala-gejala sosial yang sedang terjadi di ranah bundo ini. Kedua, ada ketegasan sikap bahwa perantau Minangkabau tetap mempertahankan identitasnya (“Saya Nopendri, mahasiswa Minang …; saya Lia asli Saning Bakar …, saya Hendri perantau Minang di….”) Mereka tidak hendak mengganti identitas sebagai orang Minang meskipun kehidupan di rantau mengepung mereka dengan berbagai tantangan. Dikatakan sebagai “Si Padang Bengkok” misalnya merupakan sebuah tamparan kultural yang amat keras. Sejauh ini sulit menjelaskan kepada etnis non-Minang hakekat pribahasa taimpik nak di atek, takurung nak dilua—sebagai implikasi tuduhan Si Padang Bengkok—karena mereka sudah keburu menjustifikasi bahwa orang Minang/Padang adalah curang/licik. Sulit bagi perantau Minang untuk mengubah imeg ini. Akan tetapi, walaupun demikian, perantau Minang tetap dengan identitasnya sebagai orang Minang--kecuali pada masa-masa tertentu pasca PRRI di tahun 60-an. Jadi, inilah wujud keterikatan hati yang tak lapuk kena hujan tak lekang kena panas terhadap Minangkabau tanah nan den cinto. Ketiga, agaknya generasi Minangkabau yang besar dan hidup di rantau perlu meningkatkan pemahaman dan pengetahuan keminangkabauan mereka. Para orang tua dan mamak yang melahirkan dan bertanggung jawab terhadap generasi tersebut merupakan pihak yang patut berada di barisan depan dalam soalan ini. Anak-anak/generasi rantau perlu ditunjukajari tentang seluk beluk Minangkabau, tidak hanya sebatas yang mereka dapatkan di sekolah atau buku-buku yang mereka baca. Mereka perlu pengetahuan adat dan kebudayaan Minangkabau praktis sebagaimana hal yang sama juga diperlukan generasi di kampung. Para orang tua, penghulu, niniak mamak dan cendikia Minangkabau yang ada di rantau mesti memprogramkan hal ini. Tidak perlulah dulu bicara soal hal ini efektif atau tidak, yang penting diprogram dan dilaksanakan dulu secara bertahap. Begitulah, generasi rantau masih menganggap diri mereka sebagai bagian dari generasi Minangkabau. Soal mereka tercerabut dari akar budaya dan tradisi Minangkabau, tidak akan ada bedanya dengan generasi kampung. Toh ketika tidak ada yang peduli dengan mereka, maka mereka akan mencari identitasnya sendiri, tak di rantau tak di kampung. Karena itu menunjukajari generasi rantau dan generasi kampung adalah tanggung jawab moral masyarakat Minagkabau. Wallahualam bissawab. RONIDIN KO&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-6771484711617233849?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/6771484711617233849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=6771484711617233849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/6771484711617233849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/6771484711617233849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/04/persepsi-generasi-rantau-terhadap.html' title='Persepsi Generasi Rantau terhadap Minangkabau'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-6236315127620749740</id><published>2008-03-16T20:57:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T20:59:07.703-07:00</updated><title type='text'>BELAJAR DARI HAMKA</title><content type='html'>Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada sampai hari ini lahir seorang ulama kharismatik yang juga seorang sastrawan bermoral kecuali HAMKA.  Ini fakta sejarah. Tidak dilebih-lebihkan. Sebagai Ulama, HAMKA adalah sosok yang begitu teguh memegang keyakinannya. Ia tidak takut pada siapa pun atas dasar kebenaran. Karena keteguhan itu, ia pernah dipenjara Soekarno. Tetapi, justru di dalam penjara ia kemudian berhasil merampungkan Tafsir Al Azhar. HAMKA pula yang memilih mundur dari ketua MUI dari pada harus mencabut fatwanya tentang haramnya natal bersama bagi umat Islam. Hamka sangat tegas dalam masalah keimanan. Di masa HAMKA, kata banyak orang, MUI lebih berwibawa.&lt;br /&gt;Dalam kesusastraan Indonesia, HAMKA adalah seorang sastrawan yang bermoral. Melalui karya-karyanya, ia menulis pesan-pesan moral dan kemanusian. Meskipun A. Teeuw mengatakan HAMKA bukanlah seorang sastrawan hebat karena terlalu melankolis, namun dalam  setiap karyanya kita bisa menemukan “ruh” kehidupan. Dalam Tenggelammnya Kapal Vander Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Dijemput Mamaknya dan karyanya yang lain, HAMKA mengemukakan kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat di negerinya, utamanya adat dan budaya Minangkabau; memotretnya dari perspektif religi. Bila kemudian ada yang menyebutnya sebagai “kiyai cinta” karena menulis roman percintaan, maka itulah sisi romantis hidup HAMKA.&lt;br /&gt;Sejarah kehidupan HAMKA di masa lalu perlu dikaji dan dipelajari sebagai reflesi perjuaangan panjang sosok HAMKA dari seorang yang “kecil” dari tepi Danau Maninjau sana, yang pada akhirnya menjadi seorang yang “besar” di seantero Nusantara ini. HAMKA adalah putra negeri yang telah memberi marwah terhadap tanah kelahirannya.&lt;br /&gt;HAMKA adalah petarung sejati. Sejarah hidupnya penuh liku. Untuk menjadi HAMKA yang dikenal seperti sekarang, sosok ini telah kenyang dengan asam garam kehidupan. HAMKA kecil bukanlah seorang anak yang suka diam; nrimo begitu saja. Dari kecil ia sudah dihadapkan pada tantangan hidup yang ruwet. Ketika ayahnya menikah lagi, HAMKA  kehilangan romansa masa kecilnya. Lalu ia mulai melakukan “pemberontakan”. Ia berani berdebat dan tidak setuju dengan ayahnya. Perkembangan kemudian membawa  menjadi remaja pemburu ilmu. Sebanyak bahan bacaan yang ada padanya, sebanyak itu pula yang dilahapnya. Ia juga melalap pelajaran-pelajaran agama dari ulama-ulama yang ditemuinya di mana-mana.&lt;br /&gt;Menyadari kampungnya tak akan memberi apa-apa, maka ia putuskan untuk  berguru ke mana pun. Di usia 10 tahun ia masuk Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Usia 19 tahun ia sudah menjadi guru agama di Tebing Tinggi Medan Sumatera Utara. Lalu, berbagai daerah pun dijajakinya untuk mengasah pengalamannya, Makasar, Yogya, dan akhirnya berlabuh di Jakarta. Daerah-daerah itulah yang kemudian menginspirasinya dalam menulis roman.&lt;br /&gt;HAMKA juga melakukan studi mandiri terhadap berbagai ilmu pengetahuan seperti filsafat, kesusastraan, sejarah, sosiologi dan politik. HAMKA juga merupakan teman diskusi yang hangat bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.&lt;br /&gt;Sebelum tutup usia tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta, HAMKA pernah menerima beberapa penghargaan, antara lain Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar Mesir tahun 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia tahun 1974, gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Sedangkan roman-romanya menjadi bacaan wajib siswa-siswi di Singapura dan Malaysia.&lt;br /&gt;Itulah HAMKA dari masa lalu. HAMKA dengan kelebihan-kelebihan dan prestasinya yang bukan saja diakui oleh bangsa Indonesia, tapi juga oleh masyarakat internasional. HAMKA yang kepiawaian keulamaannya sama baiknya dengan kepiawaiannya dalam menulis.&lt;br /&gt;Lantas, masihkah akan lahir HAMKA seperti itu di masa depan? Walahualam. Namun, inilah pertanyaan penting yang perlu direnungkan dalam menyenang 100 tahun HAMKA (17 Februari 1908 — 17 Februari 2008). Kenapa begitu? Karena memang kita amat merindukan kelahiran tokoh kharismatik seperti HAMKA sebagai pengobat nestapa pasca krisis ketokohan yang melanda negeri ini dalam beberapa dekade terakhir.&lt;br /&gt;Secara fisik HAMKA mungkin tidak akan lahir kembali, tetapi secara non fisik kemungkinan untuk melahirkan “HAMKA baru” atau “HAMKA masa depan” amat terbuka. Karena itu,  tidak ada kata lain, memprogram HAMKA masa depan berarti memprogram diri untuk mencontoh dan belajar dari HAMKA masa lalu. Maka bersiaplah. Jadilah petarung sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-6236315127620749740?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/6236315127620749740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=6236315127620749740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/6236315127620749740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/6236315127620749740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/03/belajar-dari-hamka.html' title='BELAJAR DARI HAMKA'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-7545818461653287389</id><published>2008-02-19T01:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-19T01:40:08.266-08:00</updated><title type='text'>Pencurian Kekayaan Tradisi</title><content type='html'>Oleh RONIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Musik, tari, teater, teater rakyat, seni rupa, sastra, upacara adat, makanan tradisional, ritual tradisional, dan ungkapan-ungkapan tradisonal lainnya merupakan ekspresi folklor yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Ekspresi folklor tersebut mengandung nilai-nilai estetik, nilai simbolik, dan nilai fungsi. Semua nilai itu untuk memperkukuh sistem sosial dalam masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;Karena itu,  banyak orang akan keberatan dan komplein ketika ekspresi folklor (kebudayaan) yang mereka miliki  diklaim oleh pihak lain sebagai milik mereka pula. Hal itulah yang terjadi ketika negeri Jiran Malaysia mengklaim ini dan itu sebagai milik mereka, padahal yang diklaim itu hidup dan berakar di Indonesia. Lagu “Rasa Sayange” diklaim milik mereka, lalu “Reog Ponorogo”. Di Sumatera Barat (Minangkabau) heboh terjadi soal rendang Padang dan indang Sungai Garinggiang yang khabarnya juga telah “dicuri” Malaysia.&lt;br /&gt;Terjadinya klaim oleh pihak “asing” yang bukan pemilik ekspresi folklor tersebut, jelas merupakan “pencurian” terang-terangan terhadap kekayaan tradisi milik orang lain. Karena itu, wajar bila pemiliknya marah dan kemudian menggugat. Tidak wajar bila mereka hanya diam saja. Komplein dan gugatan dilancarkan sebagai akibat dari “pencurian” itu yang pada akhirnya akan berujung pada pemanfaatan tidak adil oleh pihak-pihak di luar pemilik syah folklor yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Permasalahan selanjutnya yang lebih penting selain soal klaim mengklaim dan gugat menggugat itu adalah sejauh mana pemilik ekspresi folklor tersebut merasa memiliki kekayaan mereka. Hal ini penting karena kepemilikan yang benar-benar akan menuntun pemiliknya untuk menjaga, melindungi, memelihara, melestarikan dan mencintai milik mereka secara sepenuh hati. &lt;br /&gt;Kontradiktif, mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan antara pemilik folklor tersebut dengan keberadaannya. Masyarakat sekarang umumnya tidak abai lagi dengan ekspresi folklor mereka. Tetapi ketika ada yang mengambil (mengklaim) sebagai milik mereka, maka pemilik aslinya akan marah, harga dirinya tersinggung meskipun sebelumnya sikap mereka seperti tak memiliki. Kepedulian dan kepemilikan mereka akan muncul manakala orang telah mengambilnya.&lt;br /&gt;Sikap keseharian sebagian pemilik ekspresi folkolor hari ini hanya mengikuti arus zaman. Ekspresi folklor itu mau hidup, ya syukur; mau mati/punah, mereka juga tidak akan menangisi. Mereka tidak perlu risau. Bila ada yang punah mereka akan menggantinya dengan yang lebih moderen, yang in fashion. Mereka tidak perlu merevitalisasi.&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Minangkabau muncul istilah “hiduik sealiran maso, adat di dunia baganti-ganti”. Zaman berganti, kebudayaan pun berubah. Jadi wajar bila ada ekspresi folklor (terutama tradisi/sastra lisan) yang punah dan tak ada yang menyesali. Dari catatan Adriyetti Amir—pakar tradisi/sastra lisan Unand—ada beberapa yang telah punah sama sekali seperti indang tagak di Solok, banalam di Payakumbuh; ada yang hampir punah seperti bataram di Pesisir Selatan, barabuak di Padang, batintin di Batusangkar, si jobang di Payakumbuh.&lt;br /&gt;Masih menurut Adriyetti, perubahan yang signifikan itu terjadi pada aspek  fungsi. Dulu orang datang dan menikmati berbagai bentuk ekspresi folklor seperti disebut di atas, sebagai sarana perekat hubungan sosial. Masyarakat akan ke galanggang rami—mereka mewajibkan dirinya hadir—karena ingin menunjukkan kesediaan sehilir-semudik dengan orang kampung, kepedulian pada urusan kampung. Kepedulian dan kesedian sehilir semudik dengan orang sekampung itu merupakan wujud kehidupan komunal; orang hidup saling terkait satu dengan lainnya, saling tergantung, saling membutuhkan, dan hampir semua dilakukan bersama. Kalau untuk acara-acara yang bersifat pribadi seperti kenduri, maka akan  dihadiri orang lain dengan undangan. Namun dalam kemalangan, amat ditentukan oleh kepedulian. Ketika orang tidak peduli pada kemalangan orang lain, maka orang pun tidak akan peduli pada kesulitannya.&lt;br /&gt;Itu dulu, sekarang kehidupan komunal itu telah berganti dengan kehidupan pribadi. Ekspresi folklor (utamanya tradisi yang dulu dipertunjukkan untuk kepentingan komunal) sekarang telah berubah menjadi milik pribadi. Sekarang orang akan menonton indang, saluang, randai, teater rakyat, rabab, petatah petitih, melalui VCD/DVD. Di satu sisi ada untungnya, kekayaan tradisi (ekspresi folklor Minangkabau yang belum punah dapat direkam (diarsipkan) agar generasi mendatang juga dapat menikmatinya. Namun, di sisi lain, fungsinya sosialnya hilang. Tidak ada lagi interaksi hangat yang terjadi di antara penampil dengan audiensnya, tidak ada pula interaksi antara sesama anggota masyarakat sebagai pemilik bersama. Setiap orang bisa menikmati itu secara pribadi, di rumah (bahkan di kamar) masing-masing. Fungsi galanggang rami menjadi mati. Kepemilikan bersama menjadi pudar. Kesediaan sehilir semudik menjadi kesedian nafsi-nafsi.&lt;br /&gt;Lalu, ke depan, ada sebuah gelagat yang menggusarkan, ketika masyarakat kita tak peduli, dan kepemilikan pribadi sudah menjadi panglima, maka orang asing akan memanfaat kondisi itu. Mereka berebut. Mereka “berburu”. Gatra No. 6 yang beredar 20 Desember 2007, menurunkan laporannya bahwa peneliti-peneliti Malaysia saat ini dengan dana besar sedang “berburu” naskah kuno/manuskrip  ke Minangkabau. Manuskrip yang mereka buru itu umumnya berisi tentang kebudayaan Minangkabau/Melayu masa lalu. Di samping itu, mereka juga “memburu” berbagai ekspresi folklor yang tak lagi dipedulikan pemiliknya. Malaysia sekarang memang sedang getol-getolnya mempopulerkan kebudayaan Melayu sebagai bagian dari kebudayaan dunia yang berakar di Malaysia. Ekspresi-ekspresi folklor yang hidup di Semenanjung Melayu “dicap” sebagai milik mereka, tak peduli itu “hidup” di luar wilayah teritorial Malaysia. Maka jadilah mereka seperti sekarang, sebagai  “tukang klaim”  milik orang lain.&lt;br /&gt;Menyadari kondisi seperti yang disebutkan di atas, agaknya berbagai ekspresi folklor sebagai kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat butuh perlindungan. Perlindungan yang bisa menjamin agar kekayaan tradisi itu tak diambil orang lain. Kalau jawaban sudah ada aturan-aturan tentang Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), maka itu perlu dijalankan. Selama ini kita terlalu lengah. Konsep-konsep perlindungan dalam undang-undang HaKi dipandang memberatkan, berbelit-belit dan tak tersosialisasi. Untuk mengurus paten saja misalnya, banyak masyarakat yang tidak tahu. Lalu kita juga miskin aplikasi. UU ada, tapi tak dijalankan efektif.&lt;br /&gt;Kita tentu hanya bisa menyaran. Keputusannya ada di tangan Pemerintah. Bagaimana Ditjen HaKI? Wallahualam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-7545818461653287389?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/7545818461653287389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=7545818461653287389' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/7545818461653287389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/7545818461653287389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/02/pencurian-kekayaan-tradisi.html' title='Pencurian Kekayaan Tradisi'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-8391026213283568930</id><published>2008-02-05T23:22:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T23:28:25.488-08:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN GENERASI MINANGKABAU DENGAN BUKU</title><content type='html'>Oleh RONIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan menarik yang perlu kita renungkan: kenapa belakangan tidak muncul lagi tokoh-tokoh nasional dari Sumatera Barat alias Minangkabau ini? Apa memang benar Minangkabau hari ini hanya tinggal kerabang seperti yang pernah dikatakan Gus Dur? Atau karena generasi yang hidup sekarang adalah generasi orang-orang kalah? Atau karena pragmatisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Yang jelas bahwa ketakadaan tokoh Minang pasca Hatta, Hamka, dan Natsir  adalah sebuah kemunduran di tanah yang dulunya subur melahirkan intelektual ini. Sesak dada ini menyaksikan episode kemunduran dinamika intelektual itu --terutama pasca PRRI. Lalu kenapa, seperti pertanyaan di muka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya karena dalam kurun waktu yang panjang kita kekurangan buku. Padahal jika kita jujur, buku adalah sumber terpenting untuk mencetak generasi intelek. Tokoh-tokoh besar dunia adalah tokoh-tokoh yang dibesarkan buku. Tak seorang pun di antara mereka yang tidak membaca (memiliki) banyak buku. Mereka umumnya disukseskan oleh buku. Hatta, Hamka, Natsir, dll. adalah tokoh-tokoh yang “gila” buku. Bahkan Hatta memberi istrinya sebuah buku sebagai mahar perkawinan mereka, lalu menempatkan buku sebagai istri keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Minangkabau yang sukses umumnya memiliki dan membaca buku. Dulu para ulama atau guru mengaji di surau membaca dan menulis buku. Ini terbukti dengan ditemukan banyak naskah/manuskrip di segenap daerah di Minangkabau sebagai bukti kecendikian mereka di masa lalu. Sayang, sebagian naskah/manuskrip itu kini disimpan di Negeri Belanda, London, Kuala Lumpur dan sebagainya. Naskah/manuskrip yang ada di sepanjang daerah Minangkabau hari ini, umumnya tidak terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Eropa semaju sekarang karena mereka memiliki/menyimpan banyak buku untuk dibaca—terlepas apakah mereka pernah mencuri buku-buku dari daratan Asia. Orang-orang di Amerika atau di belahan bumi lainnya dapat menguasai teknologi tak lain karena mereka memiliki dan membaca buku. Bahkan salah satu alasan kebencian Barat terhadap Islam adalah karena dipicu oleh pengaruh buku. Kita tentu pernah mendengar heboh buku Benturan Peradaban Samuel Hutington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bagi mereka buku adalah jendela untuk menguasai dunia. Buku menjadi kebutuhan prioritas. Sedangkan bagi kita bukan begitu; buku adalah mimpi. Ia hanya barang sekunder. Bagi kita lebih penting membangun gedung dari pada mengisi gedung itu. Dana bermilyar-milyar untuk membangun gedung ini gedung itu, dan hanya sekian persen untuk membeli buku. Payah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ketika sebuah generasi tumbuh sebagai generasi yang dimiskinkan dari buku, maka dapat dikatakan bahwa mereka bisa jadi pula miskin wawasan. Miskin wawasan bermuara pada miskinnya dinamika intelektual. Itu yang telah terjadi (setidaknya) di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana kita dengar keluh kesah bahwa buku adalah “barang” yang sulit didapat. Mahal. Kalau pun mau beli, barangnya yang tidak ada. Realitas yang sekarang terjadi, kita (di Minang dan daerah lain di luar jawa) yang ingin ‘mengejar’ ketertinggalan dengan membeli buku selalu saja mendapat sisa dari Jakarta. Penerbit daerah tidak berkembang –bahkan mati-- karena kekurangan suppor. Mereka yang bertahan itu tidak mendapat perhatian yang layak dari pihak-pihak yang berwenang. Bisa jadi ini karena pengaruh politik. Orang-orang di daerah (seperti di Minangkabau) ini tidak boleh maju. Penerbitan mereka biarlah merana. Kalau diberi “angin” nanti takutnya “melawan” lagi. Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan di mana pun menjadi perhatian nomor buncit aparat pemerintah. Buku-buku yang ada di sana selain sudah usang-usang juga tidak lengkap serta belum disesuaikan dengan kebutuhan baca masyarakat. Bayangkan, ada perpustakaan di zaman ini yang masih menggunakan pelayan manual apa adanya. Ada perpustakaan keliling, namun tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga dengan itu, di sekolah perpustakaan kalah saing dengan fasilitas yang lain. Bahkan ada sekolah yang tak punya pustaka sama sekali. Bagaimana siswa akan banyak membaca, buku yang akan dibaca itu benar yang kurang atau tidak ada. Kita selalu mengeluh minat baca rendah, padahal sebenarnya tidak.  Minat baca tinggi, buktinya  perpustakaan tak pernah sepi, tempat-tempat penyewaan buku penuh sesak, koran tetap laku—bahkan di kedai-kedai, koran itu sampai lusuh karena dibaca bergilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, agar pertanyaan di awal tulisan ini dapat dijawab, maka salah satu jalan keluarnya adalah dengan membeli/menyediakan buku sebanyak-banyaknya. Setiap nagari diharuskan membuat perpustakaan nagari. Dikelola oleh anak nagari. Tidak perlu ada perpustakaan keliling, tetapi perpustakaan tetap. Sekolah-sekolah dilengkapi dengan perpustakaan yang baik dan terawat  dengan koleksi buku yang beragam. Mesjid/surau/musalla menyediakan perpustakaan untuk jemaahnya—bukan hanya untuk pengurus saja. Pribadi-pribadi yang punya buku diketuk pintu hatinya untuk membuka layanan bagi para tetangganya yang ingin membaca buku. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mendirikan rumah baca dipermudah urusannya dan dibantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya, maka bukan tidak mungkin akan lahir tokoh-tokoh baru dari daerah ini. Dengan banyaknya buku yang tersedia hampir di setiap pelosok negeri, maka mereka akan membaca. Kalau di mana-mana ada buku, ada pustaka, yakinlah masyarakat akan cerdas karenanya. Dari situ akan lahir tokoh-tokoh baru. Tidak seperti sekarang, anak-anak muda tidak tahu Medilog-nya Tan Malaka, Tafsir Al Azhar-nya Hamka, Tuanku Rao-nya Maharaja Onggang Parlindungan, Fatwa-Fatwa Kontemporer-nya Yusuf Qordawi, The Davinci Code-nya Dan Brown,  Harry Potter-nya JK Rowling, Seratus tokoh Paling Berpengaruh-nya Micheal H. Hart dan sebagainya, karena memang buku-buku itu tidak tersedia di tempat mereka. Bahkan melihat saja mereka belum pernah sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinilah saatnya kita membangun generasi  dengan buku. Membangun generasi Minangkabau yang akan menjadi tokoh sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Walahualam bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RONIDIN peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia Fak Sastra Unand&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-8391026213283568930?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/8391026213283568930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=8391026213283568930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8391026213283568930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8391026213283568930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/02/membangun-generasi-minangkabau-dengan.html' title='MEMBANGUN GENERASI MINANGKABAU DENGAN BUKU'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-5876218935228771146</id><published>2008-01-29T01:03:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T01:07:15.205-08:00</updated><title type='text'>GERAKAN KEBUDAYAAN PASCA KEMERDEKAAN</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;Selepas Indonesia merdeka, semua orang ingin agar bangsa ini segera berbenah diri dari keporakporandaan akibat perang. Para intelektual bangsa terus berjuang membebaskan bangsa ini dari pengaruh-pengaruh asing yang ingin kembali menguasai Indonesia. Masa-masa antara tahun 1945 sampai tahun 1949 adalah masa-masa berat bagi para pejuang menentang  keinginan Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, para pejuang melakukan berbagai perlawanan baik dengan senjata maupun dengan diplomasi.&lt;br /&gt;Para intelektual bangsa dengan kegigihannya memperlihatkan kepada dunia internasional bahwa bangsa Indonesia masih ada dan akan terus ada. Kegigihan ini kemudain berbuah dengan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda di awal 50-an. Lalu, masa-masa selanjutnya, tahun 1950-an ke atas, bangsa ini mengalami berbagai persoalan internal, baik di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, maupun kesusastraan. Persoalan itu bermula dari perbedaan persepsi ke arah mana bangsa ini akan dibawa. Terjadilah ketika itu berbagai bentuk agresifitas masyarakat baik berupa gerakan daerah maupun gerakan-gerakan lainnya. Rata-rata terjadi perbedaan pandangan menyikapi berbagai kebijakan pelaksana pemerintahan ketika itu.&lt;br /&gt;Di bidang kebudayaan dan kesusastraan, pada masa ini, para seniman dihadapkan pada perbedaan pandangan  mengenai eksistensi kebudayaan dan kesusastraan itu sendiri. Perbedaan ini ditandai dengan adanya polemik atau perselisihan pendapat antara generasi yang memproklamirkan diri sebagai generasi gelanggang (kemudain melahirkan surat kepecayaan gelanggang) yang berpijak pada paham humanisme universal (kemanusian sejagat) dengan generasi realisme sosialis yang berpandangan bahwa para seniman semestinya lebih berpihak pada rakyat.&lt;br /&gt;Perbedaan pandangan ini kemudain menyebabkan dunia kebudayaan dan kesusastraan Indonesia menjadi terkotak-kotak, terpecah menurut ideologi yang menaunginya, serta mengikuti intrik politik yang berkembang kala itu. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) sebagai lembaga kebudayaan yang didirikan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) mengedepankan pandangan bahwa sastrawan atau seniman mestinya memihak pada rakyat (ploretal), serta menempatkan politik sebagai panglima. Sedangkan LESBUMI (Lembaga Seniman dan Budayawan  Muslim Indonesia) yang didirikan oleh Asrul Sani dan Usmar Ismail  yang berinduk pada NU, memilih mengedepankan peran agama dalam membangun kebudayaan atau kesusastraan. Lalu, para sastrawan dan seniman yang tidak memihak pada Lekra maupun  Lesbumi, mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang berinduk pada PNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pergerakan kebudayaan dan kesusastraan pasca-kemerdekaan menjadi begitu penting karena mencerminkan semangat masyarakat Indonesia waktu itu. Jika kala itu, kesusastraan maupun seni lainnya berkembang sesuai dengan arah perkembangan politik, maka dapat dikatakan bahwa semangat kaum seniman dan budayawan untuk ikut serta mengisi kemerdekaan dengan pembangunan kebudayaan tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pembangunan politik dan militer yang sangat mendesak waktu itu. Jadi, pergerakan kebudayaan tersebut merupakan bagian penting dari sejarah bangsa ini.&lt;br /&gt;Cuma sayang, pertentangan politik dan stabilitas nasional yang tidak kondusif mereduksi keberadaan gerakan kebudayaan sebagai pilar pembentuk kesadaran sosial maupun politik masyarakat tadi. Penerbitan karya-karya kebudayaan dan sastra justru berubah arah menjadi ajang ketidaksenangan, iri hati, dengki dan berujung pada polemik yang menjurus pada kebencian, caci maki, dan fitnah. Lihatlah bagaimana tidak senangnya seniman-seniman Lekra terhadap seniman-seniman yang religius seperti HAMKA. HAMKA dihujat, dicaci dan dituduh plagiator. Novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menurut golongan kiri (Lekra) diplagiat HAMKA dari roman Alphonse Karr, sastrawan Prancis, yang sudah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi.&lt;br /&gt;Kemudian pemerintah Sokarno pernah melarang Manifes Kebudayaan (Lekra menyebutnya Manikebu) pada tanggal 8 Mei 1964. Para penandatangannya tidak diberi ruang gerak, HB Jassin diberhentikan jadi dosen di FSUI. Ini adalah sebagai akibat keberhasilan propaganda Lekra yang sebagian cakarnya sudah mencengkram pemerintah. Mereka berusaha menerkam lawan-lawan politiknya dengan polemik yang keras (bahkan kemudian menjadi teror budaya) terutama terhadap seniman yang kontra revolusioner melalui penerbitan mereka seperti Zaman Baru, Bintang Timur dan Harian Rakyat..&lt;br /&gt;Manifes Kebudayaan lahir sebagai bentuk perlawan terhadap situasi politik yang semakin menguntungkan Lekra (PKI) waktu itu.  Para seniman dan budayawan yang berbeda pandangan dengan Lekra menyatukan langkah dan merapatkan barisan. Mereka bertahan pada konsep otonomi seni dalam kehidupan, walaupun harus berhadapan dengan agresifitas kelompok Lekra. Puncaknya pertahanan konsep ini adalah deklarasi Manifes Kebudayaan tanggal 17 Agustus 1963 yang ditandatangani HB Jassin dan kawan-kawan.  Bagi kelompok ini, “Kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”&lt;br /&gt;Manifes kebudayaan ini kemudian mendapat sambutan hangat dari kelompok kebudayaan yang terancam oleh agresifitas Lekra. Tetapi, justru kemudian Lekra menyerang serta menuduh kelompok Manikebu ini sebagai kelompok yang anti Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) yang ditetap sebagai GBHN melalui Tap MPRS No. 1/MPRS/1960. Lekra juga mendeskreditkan kelompok Manikebu sebagai kelompok kontra-revolusioner sehingga harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Itulah salah satu sebabnya kemudian pemerintahan Soekarno melarang Manifes Kebudayaan.&lt;br /&gt;Akan tetapi, pasca G 30 SPKI 1965 yang gagal, perkembangan gerakan kebudayaan justru berbalik arah. Perubahan yang sangat drastis adalah pelarangan PKI dan sayap-sayap politiknya. Kemudain terjadilah penangkapan terhadap orang-orang PKI, sehingga dalam waktu yang singkat hancurlah slogan progresif revolusioner itu. Ternyata orang-orang PKI tidak sehebat dan segarang ketika mereka berpolemik.  Mereka harus rela dianggap sebagai orang-orang yang berkianat terhadap bangsa Indonesia. Lalu, buku-buku mereka pun kemudian dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah disampaikan di RRI Padang, Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-5876218935228771146?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/5876218935228771146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=5876218935228771146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/5876218935228771146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/5876218935228771146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/01/gerakan-kebudayaan-pasca-kemerdekaan.html' title='GERAKAN KEBUDAYAAN PASCA KEMERDEKAAN'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-1670028505500939321</id><published>2008-01-17T23:33:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T23:35:03.728-08:00</updated><title type='text'>GENERASI MINANGKABAU: Dari Generasi Penakut  ke Generasi Televisi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dulu, ketika saya masih kecil, entah kenapa saya begitu takut mendengar atau mengucapkan kata Minangkabau. Bagi saya ketika itu, kata Minangkabau adalah sesuatu yang asing, begitu aneh dan menyeramkan. Bisa jadi kemungkinannya karena saya tidak mengerti apa itu Minangkabau atau karena saya memang pernah ditanduak kerbau. Entahlah, yang saya ingat, ketika itu, setiap orang menyebut Minangkabau, maka saya akan lari, sama persis ketika orang memperlihatkan kepada saya gambar tengkorak.&lt;br /&gt;            Bertahun-tahun saya hidup dalam ketakutan itu, hingga suatu saat guru saya di Sekolah Dasar mengajarkan kepada saya bahwa kata Minangkabau itu berasal dari kata “menang” dan “kerbau”. Guru saya itu  kemudian menceritakan bahwa dulu pernah ada pertandingan adu kerbau antara orang-orang Pagaruyung dengan orang-orang Majapahit. Dalam pertandingan itu, kerbau orang Pagaruyung berhasil mengalahkan kerbau orang Majapahit. Orang-orang Pagaruyung yang gembira, lalu meneriakkan “menang kerbau”. Lama kelamaan, istilah menang kerbau ini berubah menjadi Minangkabau seperti yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;Berawal dari situ, ketakutan saya terhadap kata Minangkabau berangsur-angsur mulai berkurang. Ketika saya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, saya dengan sendirinya jadi terpicu; ingin tahu dan berhasrat sekali untuk mempelajari seluk-beluk Minangkabau. Ouu ternyata, Minangkabau itu adalah negeri saya; tempat darah ibu saya tertumpah untuk melahirkan saya. Keinginan saya berlanjut. Saya kemudian terobsesi membaca buku-buku yang berbicara tentang daerah saya itu. Namun, ketika pembacaan saya sampai pada catatan/ulasan tentang keadaan/nasib rakyat Minangkabau pasca peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), saya jadi terpana, hening beberapa saat, Astagfirullah, ternyata yang mengalami ketakutan itu tidak cuma saya. Dari catatan sejarah, ketakutan rupanya telah menjadi bagian kolektif derita masyarakat Minangkabau dalam kurun waktu yang panjang pasca peristiwa berdarah itu. Bukan cuma takut, masyarakat Minangkabau juga kehilangan harga dirinya, hidup selama 40 tahun lebih tanpa bisa manegakkan kepala.&lt;br /&gt;Peristiwa PRRI tahun 1958 dan berakhir tahun 1961 menyisakan trauma kemanusian yang mendalam bagi rakyat Minangkabau.  Bukan hanya korban jiwa dan harta yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi PRRI juga dicap sebagai pemberontak dan dianggap sebagai pembawa nasib buruk bagi rakyat Sumatera Barat. Kekalahan PRRI berarti penderitaan dan penghinaan yang tak alang kepalang besarnya. Harga diri  orang Minangkabau diinjak-injak dengan cara yang tak dapat mereka terima. Keadaan ini bahkan berlangsung untuk waktu yang lama, hingga 40 tahun kemudian tatkala orde reformasi digerakkan oleh orang-orang muda (Mestika Zed dan Hasril Chaniago dalam bukunya Perlawanan Seorang Pejuang: Biografi Kolonel Ahmad Husein, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001 halaman 2).&lt;br /&gt;Di awal-awal usai  kekalahan PRRI, masyarakat Minangkabau menjadi centang prenang. Pranata sosial tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Kejahatan merajalela di mana-mana. Rakyat dicekam ketakutan. Ekonomi memburuk, banyak rakyat yang kelaparan, kebutuhan hidup sulit di dapat, sawah-sawah tidak bisa digarap, ladang dibiarkan merimba. Para pemuda pergi ijok atau pergi merantau. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat Minangkabau kehilangan harga diri sehinga berubah menjadi penakut,  pemalu, dan merasa rendah diri. Anak-anak mereka dibesarkan dalam kehidupan yang serba tidak menentu dan penuh ketakutan. Mereka takut dengan tentara, helikopter, mobil jeep dan segala sesuatu yang asing di tengah-tengah mereka. Semua generasi PRRI pasti bisa menceritakan betapa mencekamnya suasana setelah PRRI. Siapa pun yang melewati pos penjagaan tentara harus turun dan membimbing sepedanya di sepanjang kawasan tersebut. Kalau tidak,  mereka akan dipanggil untuk melapor dan bisa-bisa tamparan akan mendarat di muka. (Mestika Zed, Edi Utama, dan Hasril Chaniago dalam bukunya Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995, 1998 halaman 164).&lt;br /&gt;Tidak hanya sampai di situ,  Ahmad Syafei Maarif ( dalam Republika, 2004: 12)  malah mengatakan bahwa kekalahan PRRI kemudian telah merubah orang Minangkabau menjadi pragmatis. Asa lai tanduak makan, biarlah kapalo bakubang. Makanya, banyak orang Minangkabau yang memakai nama dengan ujung huruf o demi pragmatisme dalam menghadapi rezim Soekarno dan Soeharto yang otoritarian. Bahkan yang agak menggelikan adalah kebiasaan sebagian elit Minang yang mengucapkan akhiran kan dengan ken dan pemakaian perkataan daripada yang tidak pada tempatnya. Inilah pertanda budaya orang-orang yang kalah (Maarif, 2004). Sementara itu Mursal Esten dalam makalahnya “Tantangan Budaya Minangkabau dalam Menghadapi Globalisasi”, yang terhimpun dalam buku Tantangan Sumatera Barat, Mengembalikan Keunggulan Pendidikan Berbasis Budaya Minangkabau, Jakarta: Citra Pendidikan, 2001 halaman 124, dikatakan bahwa orang Minangkabau telah kehilangan jati dirinya dan menjadi objek perubahan selama 40 tahun lebih di bawah rezim yang sentralistik. &lt;br /&gt;Kini, ketakutan sudah mulai hilang dari masyarakat Minangkabau seiring dengan bergantinya generasi. Generasi yang dibesarkan dengan ketakutan sepanjang 40 tahun itu, sekarang sudah memiliki anak, di antara mereka ada yang telah bersekolah tinggi. Anak-anak mereka itu telah mengajarkan mereka banyak hal, telah membawa perubahan dalam hidup mereka. Namun demikian, perubahan-perubahan yang terjadi kemudian membawa saya pada “ketakutan” jenis baru. Agaknya, ketakutan itu tidak akan pernah beranjak dari saya, atau dari bumi Minangkabau ini. Saya takut (lagi) karena generasi Minangkabau sekarang di samping tidak pula memahami apa itu Minangkabau sebagaimana saya dulu, juga merupakan generasi yang hidup di tengah-tengah kemerosotan budaya.&lt;br /&gt;Generasi Minangkabau sekarang adalah generasi yang dibesarkan oleh televisi. Melalui siaran-siaran televisi yang beragam jenisnya, mereka akrab dengan berbagai macam budaya dan gaya hidup. Termasuk di antaranya budaya dan gaya hidup yang bukan saja tidak mengakar, tapi juga bertentangan dengan kebiasaan di Minangkabau. Dapat kita ambil contoh misalnya melalui acara-acara telusur kasus yang berbagai bentuk dan jenisnya. Melalui acara itu masyarakat dibuat akrab dengan berbagai jenis kekerasan, sehingga mudah saja disulut untuk kemudian menimbulkan kejahatan dan amuk massa; terjadilah tawuran antara kampung (cakak banyak) atau tawuran antar pelajar/mahasiswa, terjadilah pembunuhan mamak oleh kemenakan, pembunuhan orang tua oleh anak, terjadi pula berbagai bentuk kejahatan kelamin dan sebagainya. Melalui acara-acara hiburan dan infotaiment, masyarakat kemudian menjadi terhipnotis dengan gaya hidup materialistik dan konsumenistik, sehingga terjadilah  kemudian berbagai bentuk kejahatan ketika hasrat untuk memenuhi kebutuhan itu terhambat.  Terang saja, untuk memenuhi gaya hidup demikian diperlukan “sesuatu”. Pada kenyataannya “sesuatu” itu terbatas dimiliki. Kalau pun ada, ia ada pada orang lain, atau bahkan milik negara. “Sesuatu” itu mau tak mau harus dimiliki/didapatkan, maka menjadilah mereka sebagai penjambret, penipu, pembual dan sebagainya. Lebih parah lagi, ada juga mereka yang menjadi penjahat terhormat di gedung-gedung elit. Parahnya, karena mereka tidak hanya makan makanan kelas orang-orang elit, tapi mereka juga makan beton, aspal, semen dan benda-benda lain yang menjadi milik negara. Mereka lakukan itu secara berjamaah pula.&lt;br /&gt;Pengaruh negatif yang kuat dari budaya televisi, juga terjadi dalam kehidupan perempuan Minangkabau. Sebagaimana kenyataan yang ada, sebagian dari mereka telah menjadikan standar duniawi sebagai tolak ukur berhasil tidaknya kualitas hidup mereka. Tengoklah, ketika orang ramai-ramai menjadikan artis sebagai idola/rujukan, sebagian perempuan Minangkabau (terutama kelompok mudanya) tidak mau ketinggalan. Ketika Agnes Monika mengecat rambutnya, mereka ramai-ramai meniru. Ketika Inul Daratista membuat sensasi dengan goyang ngebornya, gadis-gadis Minang pun menirunya. Buktinya: betapa banyak kaset-kaset/VCD lagu-lagu Minang yang diikuti goyangan seronok. Ketika para selebritis ramai-ramai berpakaian sempit, transparan dan mengumbar pusar, gadis-gadis Minang mengikutinya tanpa sungkan. Baju kurung mereka tanggalkan, lalu diganti dengan baju kurang yang katanya lebih modis dan moderen.&lt;br /&gt;Jadi, generasi televisi sama saja dengan generasi sebelumnya. Bedanya, generasi televisi dan generasi sebelumnya hidup di dua era yang berbeda. Generasi televisi tumbuh dan berkembang dengan apa-apa yang disodorkan televisi itu.  Jika tidak direfresh secara budaya, generasi televisi sebagai korban budaya, jauh lebih “berbahaya”  mengeroposkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Minangkabau dibandingkan generasi penakut sebagai korban pelaku sejarah yang masanya telah lewat. Demikianlah, generasi yang dibesarkan oleh televisi sama parahnya dengan generasi yang dihantui ketakutan selama puluhan tahun. Saya tidak tahu ke depan entah apa lagi yang akan terjadi di Minangkabau ini. Yang saya tahu generasi penakut dan generasi televisi adalah dua hantu yang pernah ada di negeri ini. Walahualam Bissawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-1670028505500939321?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/1670028505500939321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=1670028505500939321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1670028505500939321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1670028505500939321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/01/generasi-minangkabau-dari-generasi.html' title='GENERASI MINANGKABAU: Dari Generasi Penakut  ke Generasi Televisi'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-4258126636526873370</id><published>2008-01-09T01:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-09T01:29:11.729-08:00</updated><title type='text'>Mahasiswa: Intelektual vs Pengkianat</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi generasi bodoh. Kalau pun ada, itu adalah orang yang benar-benar bodoh. Demikian juga menjadi seorang yang intelek (sukses menjalani fase-fase kehidupannya) tidak seorang pun yang tidak menginginkannya. Kalau pun ada, itu tidak lain adalah generasi yang benar-benar dilingkupi kebodohan. Paling tidak punya cita-cita untuk sukses. Kalau toh kemudian cita-cita itu tidak dapat diwujukan karena berbagai kendala, maka cita-cita itu dapat dikatakan sebagai sebuah ikhtiar untuk keluar dari kebodohan.  Bukankah sebagai manusia ‘hidup’ kita perlu berikhtiar (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya yang dapat ditempuh seseorang untuk mewujudkan impiannya mencapai keberhasilan (dengan titik fokus menjadi generasi yang intelek) adalah dengan terus meningkatkan atau  meng-up grade pendidikannya. Pendidikan perlu terus ditingkatkan karena ilmu dalam setiap zaman terus berkembang. Bukankah pendidikan itu tidak mengenal batas-batas sebagaimana kita mengenal batas-batas lain secara fisik. Pendidikan mesti dijalani selama hayat masih dikandung badan. Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai menjelang masuk liang lahat. Lalu cari dan gali pulalah ilmu itu walau sampai ke negeri China, begitu kata Rasulullah Muhammad saw lima belas abad yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dapat dikatakan sebagai kendaraan yang akan membawa seseorang menjadi dihormati. Secara formal, pendidikanlah yang akan membawa seseorang menjadi intelektual sejati. Pendidikanlah yang akan menyelamatkan masa depan seseorang sekaligus membawanya mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Lengkap sudah, pendidikan adalah alat untuk mengantarkan seseorang kepada cita-cita yang diimpikannya. Pendidikan merupakan jendela untuk menjelajah/mengitari dunia dan alam sekitarnya (lihat Q.S. 55: 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu level pendidikan formal adalah Perguruan Tinggi (PT) yang dapat dicapai sesudah melewati level-level di bawahnya. Perguruan  Tinggi merupakan jenjang terakhir yang hampir mendekati puncak keberhasilan meraih impian. Di Perguruan Tinggi-lah sejatinya keintelektualan itu dapat diasah setajam-tajamnya. Para pelajar yang mengasah pisau keintelektualan itu kemudian disandangkan ke pundak mereka sebutan mahasiswa. Maha sepadan dengan agung atau  tinggi sedangkan siswa sepadan dengan pelajar/penuntut ilmu. Mahasiswa: pelajar yang agung atau penuntut ilmu di kelas yang tinggi. Dengan demikian, sebutan mahasiswa tidak hanya berupa status, di baliknya tersimpan tanggung jawab moral seseorang untuk “belajar” menjadi seorang intelektual; orang yang tidak hanya sekedar berilmu, tetapi juga mengamalkan ilmu itu serta mengajarkannya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi mahasiswa menyebabkan seseorang begitu dihargai di tengah-tengah masyarakatnya. Hal itu tidak lain karena status mahasiswa dipandang sebagai sesuatu yang bergengsi, tinggi, dan terhormat. Mahasiswa dianggap sebagai agent of change untuk kemudian dititahi sebagai golden boy bangsa ini di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian agungnya status mahasiswa di mata masyarakat, supaya gayung bersambut kata berjawab pula, maka mau tidak mau, mahasiswa semestinya menampakkan identitas dan keberadaan diri mereka sebagaimana yang  dipersepsikan masyarakat tersebut. Sebagai bagian dari generasi yang sedang berusaha menjadi generasi intelektual, mahasiswa  tidak boleh apatis apalagi skeptis dengan apa yang ada. Justru itu, mahasiswa sepatutnya berada di garis depan dalam mendadarkan pengetahuan dan kemampuan akademisnya untuk kepentingan masyarakat luas. Dengan bekal yang diporoleh secara akademis maupun nonakademis di lingkungan kampus dan masyarakat, kelak mahasiswa semestinya tak terkendala mengejawantahkan ilmu itu untuk kepentingan orang banyak. Selain itu, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang, mahasiswa mesti berperan aktif di masyarakat, mengisi pembangunan terutama dalam upaya mengawal jalannya cita-cita “reformasi” sebagai harapan kaum muda terhadap perbaikan nasib bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menjadi mahasiswa sebenarnya tidaklah hanya sekedar menyandang status sebagai mahanya siswa. Tidak sekedar gagah-gagahan. Tidak sekedar untuk berbangga-bangga kepada orang-orang di kampung dengan mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa, saya adalah agent of change maupun golden boys.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja menjadi mahasiswa adalah menjadi tulang penyangga bangsa ini di masa mendatang. Sebuah tugas yang teramat berat, sekaligus sebuah tugas yang mulia. Nilainya kira-kira sama dengan nilai jihad jika dilakukan dengan kesungguhan dan tanpa pamrih. Jika saja tulang penyangga itu rapuh dan hanya mentreng karena statusnya, maka dapat dipastikan bahwa generasi bangsa ini akan sulit bersaing dengan bangsa lain yang terus berkembang secara pesat. Jika saja tulang penyangga it uterus berbangga karena statusnya tanpa berusaha mengisi otak dan imannya, maka status itu akan membuatnya menjadi orang yang mudah lupa diri seperti yang diingatkan Milan Kundera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika ada gelombang mahasiswa yang tercerabut dari akar akademisnya, maka dapat dikatakan itulah sebuah pernistaan terhadap kaum akademis dan almamaternya. Itulah sebuah kedurhakaan intelektual. Dikatakan demikian karena esensi dari intelektualitas itu sudah mengirap dari mereka. Bagi mereka itu, status mahasiswa hanyalah sekedar tempelan, sekedar status yang diumbar ke mana-mana demi gengsi. Sekedar mengambil contoh, tengoklah betapa naifnya kelompok mahasiswa opurtunis, yaitu kelompok mahasiswa yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai dan ijazah. Bagi mereka nilai dan ijazah itu lebih penting dari pada ilmu. Maka akibatnya, lahirlah sarjana dengan ijazah yang bagus-bagus, namun ketika dihadapkan pada tantangan kerja mereka gagap. Mereka miskin ilmu maupun skill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kelompok mahasiswa oportunis, ada pula kelompok mahasiswa apatis. Kelompok mahasiswa apatis adalah mereka yang tidak peduli dengan diri mereka sendiri apalagi dengan lingkungannya. Mereka adalah mahasiswa tipe cuek, tidak pernah belajar dengan serius, kuliah senin-kamis, terperangkap pada kehidupan bebas, terlibat narkoba dan bahkan free seks, suka hura-hura menghabiskan uang orang tuanya yang diperoleh dengan tunggang-tunggik tidak siang tidak malam, dan sebagainya. Jadi, siapa yang akan membantah, kalau prilaku demikian dikatakan sebagai sebuah luka nestapa; tragedi bagi kaum akademisi di tengah gegap gempitanya orang-orang mempersepsi mereka sebagai agent of change maupun golden boy. Mereka itulah para pengkianat terhadap orang tua mereka dan pengkianat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kiranya perlu diinap-inapkan sebuah renungan yang disampaikan Taufik Ismail: mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut pada mentri, mentri takut pada presiden, dan presiden takut pada mahasiswa. Itulah sebuah renungan yang menggelitik; menunjukkan bahwa peran mahasiswa sebagai generasi muda (sebagai agen perubah) terutama dalam mengontrol baik buruknya suatu bangsa sangat besar, sehingga seorang presiden “harus” merasa “takut” dengan mahasiswa.  Dua kali sejarah bangsa ini mencatat bahwa mahasiswa mampu menjadi lokomotif perubahan dari ototarian sebuah rezim yang berkuasa. Jelas semua itu dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang intelek, bukan mahasiswa oportunis apalagi apatis. Walahualam bissawab.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-4258126636526873370?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/4258126636526873370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=4258126636526873370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4258126636526873370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4258126636526873370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2008/01/mahasiswa-intelektual-vs-pengkianat.html' title='Mahasiswa: Intelektual vs Pengkianat'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-8986162072170157627</id><published>2007-12-26T21:12:00.000-08:00</published><updated>2007-12-28T21:21:27.908-08:00</updated><title type='text'>Menulis = Ibadah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/R3XXdBDqHZI/AAAAAAAAACU/isb5RUJJxrU/s1600-h/Blue+hills.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5149258642467986834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/R3XXdBDqHZI/AAAAAAAAACU/isb5RUJJxrU/s200/Blue+hills.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Oleh: Ronidin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Tulisan jelek dengan maksud baik lebih baik&lt;br /&gt;dari tulisan baik tetapi bermaksud jelek&lt;br /&gt;(Jalaluddin Rahmat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Menulis sebagai sebuah kreatifitas adalah aktivitas intelektual yang menyenangkan dan berharga. Tidak banyak orang yang mampu melakukannya dan tidak banyak pula yang mampu menghargainya. Menulis berkaitan dengan keahlian, sedangkan menghargai tulisan berkaitan dengan moral. Kalau begitu, intelektual sejati adalah penulis yang bermoral. Artinya, ia mampu mencurahkan ide atau gagasan yang ada di sekitarnya secara tertulis dan kemudian menempatkannya menjadi barang berharga yang harus dijaga.&lt;br /&gt;Menulis adalah amal jariah. Itu kalau tulisan yang ditulis bermaksud baik lagi mencerahkan seperti dikatakan Kang Jalal di atas. Coba bayangkan! Sekian ratus orang yang membaca sebuah tulisan, lalu karena tulisan itu, beberapa orang diantaranya berubah menjadi lebih baik: bukankah itu suatu amalan yang menyegarkan? Atau gara-gara sebuah tulisan, orang jadi rajin ke mesjid, murah berinfak, santun, memakai jilbab dan sebagainya: bukankah itu suatu pencerahan yang nyata? Justru itu, menulis dan menghargai sebuah tulisan sama pentingnya. Setidaknya, kalau belum bisa menulis, maka hargailah tulisan orang lain! Bukankah Islam selalu menganjurkan kita untuk selalu menhargai orang lain?&lt;br /&gt;Lantas, Pertanyaan yang mengedepan: bagaimanakah sebenarnya menulis itu dan bagaimana pula menghargai sebuah tulisan dimaksud?&lt;br /&gt;Menulis sebenarnya tidak susah. Menghargainya juga mudah. Mulailah menulis dari hal-hal yang kecil. Hal-hal yang dekat dengan kita dan hal-hal yang kita ketahui. Jangan menulis sesuatu yang tidak kita ketahui dan sesuatu yang “jauh” dari kita. Menulislah dengan persepsi bahwa menulis itu adalah ibadah. Menulislah dengan senang hati bukan dengan beban.&lt;br /&gt;Setelah tulisan jadi, jangan disimpan (saja) di laci lemari, di antara halaman buku atau di file komputer Anda. Kalau itu dilakukan, sama artinya dengan tidak menghargai tulisan tersebut. Tulisan menjadi bernilai kalau sudah dibaca atau diapresiasi orang lain. Ketika menulis jangan berfikir bahwa tulisan itu hanya untuk diri sendiri, tetapi bayangkan tulisan itu akan dibaca banyak orang. Akan memberi pencerahan pada banyak orang. Ini penting agar kita terpicu menulis sebaik mungkin. Segurih mungkin.&lt;br /&gt;Selama ini yang sering menjadi masalah bagi seseorang ketika menulis adalah cara memulainya. Selain itu, kebanyakan kita “takut” kalau karyanya dibaca orang lain apa lagi dikritiknya. Rata-rata mental orang kita masih anti kritik dan takut salah. Padahal kritikan adalah aktor penting dalam menulis.&lt;br /&gt;Selanjutnya …&lt;br /&gt;Menulis tentunya memproduksi bahasa. Nah, ketika mulai menulis, maka kita harus memiliki stok bahasa yang cukup untuk diproduksi. Sejauh ini pernahkah kita menghitung sudah berapa banyak kosa kata yang kita miliki. Kalau sudah cukup, menulis akan menjadi mudah. Topik-topik yang terpampang di depan mata kita, akan dapat diolah menjadi sesuatu yang gurih seperti pizza, begitu kata Hernowo. Sejauh ini, secara jujur harus kita akui bahwa bahasa kita memang miskin. Itulah sebabnya kita susah untuk mulai menulis.&lt;br /&gt;Selain itu, kesusahan menulis juga karena kurangnya motivasi. Jarang di antara kita yang menjadikan menulis sebagai hobi. Malah justru sebaliknya: menjadi beban. Kalau menulis itu telah menjadi hobi, maka kita akan melakukannya dengan senang hati. Kita akan membaca dengan senang hati pula karena membaca adalah saudara kandungnya menulis. Orang yang hobi menulis pasti dia juga hobi membaca. Kalau kita banyak membaca, berarti kita banyak memiliki simpanan untuk dituliskan.&lt;br /&gt;Faktor penghambat lainnya dalam menulis adalah malas, takut, nggak pede, tidak mau belajar dan niat yang tidak afdhol. Yang disebut terakhir, misalnya menulis untuk mendapatkan “si anu” atau karena ingin “dipuji” karena ingin honor dan sebagainya. Jadi, kalau ingin beramal dengan tulisan, maka menulislah! Niat harus diikui dengan tekat dan perbuatan. Menjadi seorang penulis tidak hanya bisa dengan berkata, “O…, aku pengen jadi penulis,” tanpa berbuat.&lt;br /&gt;Nah, Kalau tulisan kita sudah jadi, cepat-cepatlah perlihatkan kepada teman atau kirimkan langsung ke koran atau majalah. Jangan disimpan! Yang suka menyimpan tulisan berarti dia tidak menghargai hasil usahanya. Seberapa pun hasil tulisan kita, itu adalah jerih payah kita. Tidak mungkin sebuah tulisan dibuat oleh orang bodoh. Ingat, menulis adalah kreatifitas yang berharga. Kreatifitas yang tidak dimiliki semua orang. Kreatifitas yang hanya dimiliki orang-orang yang terbiasa berfikir, terbiasa membaca dan terbiasa menulis itu sendiri. Untuk itu kenapa harus ragu? Persoalan tidak lulus seleksi (ditolak media massa) itu perkara lain. Yang penting terlebih dahulu kita harus menghargai karya tulis kita sendiri. Jadikan tulisan kita itu sesuatu yang penting. Sesuatu yang berharga.&lt;br /&gt;Menghargai tulisan kita atau menjadikan tulisan kita sesuatu yang berharga harus bermula dari kita sendiri terlebih dahulu. Bagaimana orang lain akan menghargai tulisan kita kalau kita sendiri belum menghargainya. Jadi, menghargai tulisan sama dengan menghargai kreatifitas. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-8986162072170157627?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/8986162072170157627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=8986162072170157627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8986162072170157627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8986162072170157627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/menulis-ibadah.html' title='Menulis = Ibadah'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/R3XXdBDqHZI/AAAAAAAAACU/isb5RUJJxrU/s72-c/Blue+hills.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-5800717595764785742</id><published>2007-12-19T00:53:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T01:00:17.134-08:00</updated><title type='text'>“Menyelamatkan” Siswa Kurang Mampu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Oleh Ronidin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Vika Cikita, Tessy Pratama Faradila, Muhammad Rinaldi Putra, dan Nesia Riska adalah contoh kecil dari anak-anak keluarga miskin yang memiliki otak cemerlang. Vika Cikita peraih nilai tertinggi UN se Sumbar kesulitan biaya untuk melanjutkan studinya di perguruna tinggi. Tessy, M.Rinaldi dan Nesia juga mengalami nasib sama; lulus PMDK di Unand dan UNP tetapi kesulitan biaya untuk kuliah, minimal untuk biaya masuk pertama.&lt;br /&gt;Vika, Tessy, M. Rinaldi dan Nesia hanyalah potret kecil dari sekian banyak siswa kurang mampu yang memiliki otak cerdas di negeri ini. Mereka mengimpikan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi sayang kendala keuangan bak tembok kokoh menghadang mereka. Banyak di antara mereka itu yang harus berhenti di tengah jalan. Bahkan, ada di antaranya yang stress, lalu jadilah ia menghitung-hitung kerikil di jalan, manatap orang-orang berseragam sekolah dengan tatapan aneh, atau mencibiri setiap orang yang berbicara tentang sekolah.&lt;br /&gt;Agaknya, siswa-siswi miskin yang cerdas perlu diselamatkan. Pendidikan di negeri ini tidak diperuntukkan hanya untuk orang kaya--meskipun pada kenyataannya hanya anak orang-orang kaya yang bisa melenggang bebas untuk studi setinggi-tingginya. Bagi anak orang miskin, sekolah tinggi merupakan impian yang entah dengan apa akan dicapai. Hanya satu dua di antara mereka yang berhasil mewujudkan impian itu berkat kerja kerasnya. Ada pula yang berhasil karena bantuan orang lain. Hanya saja mengharapkan bantuan orang lain sebagai bapak angkat atau penyantun atau pemberi beasiswa sama susahnya dengan mengharapkan adanya institusi pendidikan yang benar-benar gratis.&lt;br /&gt;Fenomena ini tentu saja menyentak kita di tengah derasnya hasrat bangsa ini untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Anggaran pendidikan harus ditingkatkan. Itu suara yang dari dulu kita dengarkan di mana-mana. Cuma, sejauh ini, apa yang telah dilakukan belum mampu “membaca” kondisi dimaksud, apalagi mengatasinya. Lalu, apa solusinya?&lt;br /&gt;Menurut saya, banyak yang bisa diperbuat oleh masyarakat mengatasi masalah ini. Akan tetapi, suatu hal yang teramat terpenting sebelum melakukan aksi adalah menumbuhkan rasa kepedulian. Sebab, jika tidak ada yang peduli, maka persolan ini akan tetap seperti itu juga sepanjang masanya. Akibatnya, bangsa ini akan terus merugi karena SDM-SDM berkualitasnya terpaksa harus “gulung tikar” dari dunia pendidikannya karena “dilemahkan” oleh faktor ekonomi. Hal ini berbanding terbalik dengan SDM di negara lain yang terus dipacu kualitasnya. Bila ini tidak dipedulikan, bukan tidak mungkin suatu saat bangsa kita akan menjadi “budak” bagi negara lain. Sekarang saja “ekspor” kita yang tersukses adalah TKW untuk menjadi PRT.&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang perlu dikawatirkan adalah adanya program dari negara-negara asing untuk menyekolahkan anak-anak cerdas dari Indonesia yang kurang mampu. Mereka tidak hanya disekolahkan, tetapi juga diberi fasilitas mewah. Pada akhirnya mereka akan menjadi “hebat” di negara orang. Bukan tidak mungkin pula suatu saat sebagai upaya balas budi, mereka “menjual” Indonesia kepada negara penyantunnya.&lt;br /&gt;Jika kita peduli, maka yang dapat dilakukan misalnya adalah membentuk lembaga khusus penyantun anak-anak cerdas yang miskin itu. Lembaga tersebut mengkoordir bantuan dari orang-orang yang dianggap mampu dan peduli. Lalu lembaga ini menyalurkannya kepada para siswa miskin yang telah di data berupa beasiswa atau sejenisnya. Mungkin selama ini telah ada BAZ atau BAZIZ yang melakukan ini, tetapi pekerjaan BAZ atau BAZIZ lebih bersifat umum (melayani kaum duafa), sehingga untuk melayani atau membantu siswa kurang mampu secara khusus perlu lembaga dimaksud.&lt;br /&gt;Itu satu cara, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pengalihan alokasi dana pembangunan fisik mesjid kepada pembangunan jemaahnya melalui pendidikan dan yang lainnya secara relevan. Dalam hal ini, bisa dibayangkan berapa jumlah mesjid yang ada di negeri ini, lalu dari jumlah yang sebanyak itu, berapa dana yang beredar yang dipakai untuk pembangunan fisik mesjid. Konon, malah ada mesjid yang harga gubahnya saja mencapai 1,5 Miliyar. Jika dana-dana itu dialihkan atau minimal diperdua untuk membangun masyarakat pengisi mesjid-mesjid itu, yang salah satunya melalui pendidikan siswa-siswi kurang mampu, maka berkemungkinan tidak akan ada lagi anak-anak miskin nan cerdas yang harus pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana ia mencari biaya untuk melanjutkan studinya.&lt;br /&gt;Selama ini di berbagai daerah orang berlomba untuk memperindah mesjid mereka. Lantai dan dinding dilapisi keramik yang berkilat-kilat bila disinari. Sudah berkeramik sebagus itu, masih ditambah lagi dengan karpet permadani yang mahal-mahal. Padahal kenyataan ketika sholat berjemaah, bagian mesjid yang terpakai tidaklah seluas bangunannya. Inventaris mesjid yang mahal-mahal itu kadang hanya tersimpan di gudang dan dimakan kepuyuk. Keramik-keramik yang melapisi dinding itu memang indah, tetapi sadarkah kita bahwa di balik dinding keramik itu ada anak-anak miskin yang membutuhkan uluran tangan. Jika tidak dibantu, orang lain dari agama lain selalu saja mengincarnya untuk diberi bantuan. Setelah itu secara perlahan-lahan mereka dibawa mengikuti keyakinan si pemberi bantuan itu.&lt;br /&gt;Jadi, untuk sementara “beristirahatlah” membangun fisik mesjid, biarlah mesjid itu seperti yang sudah ada. Tidak perlu bermegah-megah. Justru yang lebih penting adalah membantu orang-orang yang ada di sekitar mesjid itu. Menyekolahkan anak-anak yang patut untuk disekolahkan. Memberi beasiswa bagi mereka yang sedang studi dan sebagainya. Ini perlu dilakukan agar orang-orang seperti Vika Cikita, Tessy Pratama Faradila, Muhammad Rinaldi Putra, Nesia Riska dan masih banyak yang lainnya tidak kehilangan kecerdasannya atau tragisnya “diculik” orang lain dari agama yang lain untuk dididik dengan cara mereka.&lt;br /&gt;Berikutnya, kalau cara yang ditawarkan di atas tidak mempan, mau tidak mau untuk menolong anak-anak miskin dari kehilangan masa depan pendidikannya adalah dengan mengembalikan persoalan ini kepada pemerintah. Sebab fakir miskin dan anak-anak terlantar pada prinsipnya berada di bawah tanggungan negara. Dengan demikian, sistem pendidikan yang mesti dikembangkan adalah sistem pendidikan yang berpihak kepada warga miskin. Tidak seperti yang selama ini terjadi di mana yang bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah orang-orang dari keluarga the have. Memang ada program yang membebaskan warga miskin dari beban biaya pendidikan, tetapi mereka yang miskin tetap saja tidak bisa bersekolah dengan aman karena sistem pendidikan telah dikomersilkan. Okelah mereka tidak dikenakan biaya SPP, tetapi biaya-biaya operasional lainnya tetap saja tak sanggup mereka sediakan.&lt;br /&gt;Karena itu pemerintah mesti konsekuen untuk menciptakan pendidikan yang terjangkau keluarga miskin. Bantuan-bantuan pendidikan harus disalurkan secara tepat sasaran. Anak-anak miskin yang pintar-pintar mesti didiperhatikan untuk kemudian diprioritaskan mendapat bantuan. Tahun-tahun selanjutnya kita tidak melihat lagi Vika Cikita, Tessy Pratama Faradila, Muhammad Rinaldi Putra, Nesia Riska dan siswa-siswa lainnya “meratap” dulu untuk bisa kuliah. Walahualam bissawab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-5800717595764785742?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/5800717595764785742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=5800717595764785742' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/5800717595764785742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/5800717595764785742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/menyelamatkan-siswa-kurang-mampu.html' title='“Menyelamatkan” Siswa Kurang Mampu'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-1190032820817543130</id><published>2007-12-19T00:41:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T00:43:16.849-08:00</updated><title type='text'>Quo Vadis Uda Uni Sumbar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet pertanyaan mengedepan mengomentari iven Uda-Uni Sumbar. Para Uda-Uni yang dikonteskan itu sebenarnya mewakili siapa? Pantaskah disebut mewakili Sumatera Barat atau setidaknya sebagai duta wisata Sumatera Barat? Apa perlu dunia parawisata itu pakai duta? Hebor-heboh yang terdengar,  Uda Uni tidak hanya berfungsi sebagai duta, namun juga sebagai penyambut tamu kalau ada pejabat yang datang. Entahlah, yang jelas iven Uda Uni itu berwujud dan katanya yang terpilih sebagai Uda Uni itu adalah putra putri terbaik daerah ini (?)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau dia memang putra-putri yang terbaik,: dari segi apa diukur? Pengetahuankah, keterampilankah, kepribadiankah, sikapkah, agamakah atau apalagi? Okelah dari semua komponen itu. Akan tetapi jika kita kembali kepertanyaan Uda Uni mewakili siapa, maka jika disebut mewakili (duta) wisata Sumatera Barat berarti juga bisa disebut mewakili suku Minangkabau.  Kalau mewakili (mendutai) wisata Minangkabau, muncul lagi pertanyaan lain: adakah Uda Uni itu—sesuai namanya—memiliki ciri khas atau karakteristik seorang uda dan uni Minangkabau? Adakah  mereka dapat menjiwai kepribadian pemuda Minangkabau? Kalau itu terlalu ideal, adakah mereka mengetahui dan punya skill masalah-masalah keminangkabauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu yang pasti, mereka tentu tidak dari kalangan tak terdidik. Itu jelas. Ilmu dan kecakapan mereka membawakan diri tentu tidak diragukan lagi. Mereka kalau bukan mahasiswa, pasti mantan mahasiswa. Setidak-tidaknya mereka pernah mengecap pendidikan formal yang telah membentuk mereka menjadi pemuda yang memiliki wawasan serta pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang meragukan adalah soalan-soalan yang berhubungan dekat dengan keseharian mereka. Soalan-soalan itu mungkin saja bagi mereka adalah hal-hal yang kecil dan spele, akan tetapi bagi masyarakat yang mereka dutai merupakan suatu hal penting. Itulah kebudayaan mereka. Nah, tatkala Uda Uni  mewakili atau mendutai (wisata) Minangkabau, adakah mereka, para Uda Uni itu mampu memahami, menjiwai, dan (tentu saja) melaksanakan wujud-wujud kebudayaan masyarakat yang mereka wakili? Paling tidak pada tingkat yang mampu mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin terkesan konyol, namun sangat penting. Bagaimana jadinya jika seorang yang akan mewakili “sesuatu” tidak memahami secara utuh apa yang diwakilinya. Dengan kata lain, tidak mungkin mewakili sesuatu yang hanya dipahami secara setengah-tengah atau pada taraf ilmunya saja tanpa bisa mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. Jadi,  Uda Uni mesti terampil ketika mereka mengikuti kontes/lomba dan terampil pula dalam kehidupan mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;Bagi Uda misalnya, adakah ia memiliki ilmu bersilat—baik bersilat sebagai ilmu bela diri maupun “bersilat lidah” (dalam pengertian yang positif) sebagai seorang juru penerang, orator, jago lobi dan sebagainya. Adakah Uda itu bisa mengaji/membaca Al quran, bisa melafazkan bacaan sholat dengan benar, bisa menyelenggarakan jenazah (memandikan mengafani, dan menyolatkan), bisa azan dan khotbah Jumat. Adakah Uda itu bisa berteka-teki tradisional, bisa meniup/memainkan saluang, talempong, bansi dan alat-alat musik minang lainnya, bisakah Uda itu melakukan beberapa permainan rakyat; mengerti dengan sepak tekong, tokok lele, sepak rago, dsb.  Adakah Uda itu bisa memasang umpan untuk memancing belut, atau berlari di sepanjang pematang sawah tanpa terjatuh. Adakah Uda yang gagah-gagah itu bisa meneteng piring/ menghidangkan makanan sepanjang tangannya seperti layaknya seorang pelayan rumah makan Padang. Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Uni: adakah ia bisa memasak dengan baik; bisa membuat randang, kalio, samba lado tanak, onde-onde, bubua cande, nasi lamak, lemang dsb. Adakah Uni itu bisa membedakan mana yang bumbu jahe, lengkuas, serai, atau kunyit. Adakah Uni itu bisa manampi beras dengan niru. Adakah Uni itu bisa manumbok pakaian yang robek. Adakah Uni yang cantik-cantik itu bisa menggiling cabe di atas batu lado tanpa tangannya kepedasan, bisa mengukur kelapa dengan kukuran, dan bisa membawa air dengan ember di atas kepalanya tanpa dipegang. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, hal-hal yang disebutkan itu memang terkesan spele dan tradisional sekali. Akan tetapi bagi masyarakat Sumatera Barat (Minangkabau) hari ini, hal itu masih tetap penting dan dikedepankan karena merupakan identitas budayanya. Sebagai contoh misalnya, di kampung-kampung masih berlaku sebuah kebiasaan, jika orang ingin mencari menantu, maka salah satu yang akan menjadi pertimbangan adalah persoalan pandai tidaknya seorang anak gadis memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah para Uda Uni itu tinggal di kota dan tidak lagi kenal dengan kebiasaan-kebiasaan yang tradisional itu, lalu kalau ada tamu dari daerah lain atau  tamu mancanegara yang menginginkan belajar yang tradisonal itu, apa yang dapat dilakukan oleh para duta wisata, ya, uda Uni itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, memperkenalkan parawisata Sumatera Barat --kalau ia memang perlu diduta-dutai-- kiranya penting pula memperkenalkan nilai-nilai tradisional atau budaya yang sudah mengakar kuat itu seperti yang disebutkan tadi. Maka, keterampilan tentang hal itu mencerminkan sebuah identitas yang mau tidak mau harus dimiliki bagi siapa saja yang ingin memperkenalkan wisata (budaya) Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah kiranya diharapkan Uda Uni mampu memperkaya dirinya. Namun, apakah mereka seperti yang diharapkan itu? Suatu yang diragukan dari mereka adalah kompetensi terhadap yang tradisional-tradisional dan spele itu. Saya berani mengatakan bahwa jika diuji tentang “keterampilan tradisonal”  yang merupakan ciri khas urang Minangkabau seperti disebutkan, maka hanya satu dua yang memilikinya. Banyak anak muda Minang hari ini (termasuk Uda Uni itu) yang tidak lagi bisa mengaji, tidak bisa menjadi iman sholat berjemaah, tidak punya keterampilan menyelenggarakan jenazah, tidak bisa menjadi khatib Jumat, tidak bisa memasak, tidak kenal dengan bumbu-bumbu dapur dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak percaya, tanyakanlah kepada Pak Wako Padang (Drs. Fauzi Bahar, M. Si) ketika Pemko mengadakan lomba malamang; kenapa peserta lomba malamang di Pantai Padang baru-baru ini tidak ada yang diikuti oleh anak muda. Maka jawabannya (kira-kira saya) karena anak muda itu sudah tidak mengerti lagi bagaimana membuat lemang tersebut, berapa takaran santan dan pulutnya, berapa lama harus dipanggang dan sebagainya. Kalau saja Uda Uni itu diajak untuk mengikuti lomba membuat lemang: mampukah  mereka? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau keterampilan itu tidak dimiliki, masihkah sesuatu yang elegan bila Uda Uni itu dinobatkan sebagai duta wisata (budaya) Sumatera Barat?  Belum lagi kalau kita bicara dari aspek yang lain yang selama ini diprokontrakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-1190032820817543130?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/1190032820817543130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=1190032820817543130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1190032820817543130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/1190032820817543130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/quo-vadis-uda-uni-sumbar.html' title='Quo Vadis Uda Uni Sumbar'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-4830206501956917535</id><published>2007-12-19T00:38:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T00:40:43.795-08:00</updated><title type='text'>FIKSI DAN NONFIKSI: BERMULA DARI IDE</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada daun jatuh&lt;br /&gt;tulis&lt;br /&gt;ada rumput menghijau&lt;br /&gt;tulis&lt;br /&gt;ada tanah terbakar&lt;br /&gt;tulis&lt;br /&gt;ada anak pipit terjatuh dari sarangnya&lt;br /&gt;tulis&lt;br /&gt;(Saut Sitompul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis fiksi dan nonfiksi itu mudah dan dapat dilakukan siapa saja. Seperti puisi di atas, apa pun dapat ditulis. Tidak perlu mesti menulis yang rumit-rumit, duan, rumput, tanah, burung pipit pun dapat ditulis. Saya maunya menulis dalam bentuk fiksi, ya tulis sesuatu itu menjadi fiksi; lalu yang mau menulis dalam bentuk nonfiksi, lakukan itu. Gampang kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiksi dan non fiksi sama-sama berasal dari kenyataan. Bedanya, fiksi kenyataan yang disajikan dengan bungkusan imajinasi, sedangkan nonfiksi kenyataan yang dituliskan dengan cara bertutur yang sistematis didukung oleh referen tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagian mana yang penting: membicarakan fiksi dan nonfiksinya atau membicarakan cara/teknik melakukannya? Dua-duanya penting, tetapi untuk kondisi tertentu, membicarakan cara/teknik menulis dianggap lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman mengatakan, banyak calon penulis yang berkeinginan menjadi penulis bertanya-tanya cara menulis yang praktis.  Sebelum menjawab soalan ini, ada sesuatu yang perlu disadari bahwa untuk menjadi penulis dan menulis itu sendiri gampang, tetapi tidak segampang membalik telapak tangan. Seperti tadi, menulis menjadi sesuatu yang gampang karena kita bisa menulis apa saja tanpa harus berkeringat-keringat, tanpa harus ada orang yang mendikte-dikte. Kita cukup menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang berkelindan di sekitar kita, apa yang pernah kita alami, apa yang pernah kita rasakan, apa yang kita impikan, lalu membungkusnya dengan bahasa yang bagus, baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, menulis itu tidak semudah mebalik telapak tangan karena ia butuh proses yang panjang dan kontinyu. Menulis bukan pekerjaan orang-orang yang malas, enggan berpikir dan emoh membaca. Menulis merupakan keterampilan praktis yang setiap saat harus diasah. Bukti menulis itu susah, tidak semua orang mampu  untuk menjadi penulis. Bahkan ada profesor di universitas terkenal tidak mampu menulis dengan baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu,  dari mana kita harus mulai menulis? Jawabannya bisa dari mana saja. Puisi di atas menunjukkan bahwa Maksudnya, menulis itu tidak terikat dengan waktu dan tempat. Kita bisa menulis kapan saja dan di mana saja: di mobil, di kereta, di pesawat, di kampus, di sekolah dan di mana pun. Ketika ada ide, jangan di simpan-simpan. Catat dulu ide-ide itu, lalu kembangkan secepatnya. Biasanya, ide yang disimpan akan hilang begitu saja. Ide yang ada sejam yang lalu belum tentu akan dapat kita ingat pada saat ini. Untuk itu, seorang penulis kemana pun harus membawa pulpen dan kertas (sekarang laptop). Kalau sering ada ide di kamar mandi, taruh white bord di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ada di mana-mana. Bertebaran disana-sini. Tinggal tugas kita memungutinya. Memilah-milah untuk diklasifikasikan sesuai jenisnya. Lantas mengolahnya sebagaimana koki mengolah bahan-bahan masakannya. Supaya sedap, beri ia bumbu selengkapnya. Ketika menulis, jangan mensekat-sekat ide. Ide ini tidak boleh dan ide ini boleh.  Ide apa pun dapat kita tuliskan. Syaratnya kita harus memiliki ilmu atau referensi tentang ide itu. Jangan mencari ide yang jauh-jauh yang tidak kita ketahui. Sekali lagi, di sekitar kita saja ide sudah melimpah. Misalnya, seokor kucing atau apa pun bisa menjadi sumber ide. Kenapa kucing warna begitu? Kenapa matanya tajam dan bercahaya bila disenter? Bagaimana kalau kucing itu sebesar harimau?  Bagaimana kalau kucing pipis di sofa?  Atau ide yang lebih nyentrik: bagaimana kalau kucing berkelahi dengan maling ketika mereka hendak mencuri rumah tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja masih banyak ide yang lain, yang mungkin jarang kita pikirkan. Umpamanya berapa jumlah  bulu ayam yang melekat di seluruh badannya barangkali? Atau tentang Malin Kundang yang durhaka yang bisa saja kita balikkan menjadi ibunya yang durhaka karena telah menyia-nyiakan anaknya. Bisa pula ide tentang jalan yang berlobang-lobang di lingkungan tempat kita masing-masing. Ide tentang SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), maupun kekerasan di IPDN.  Tentang orang-orang  yang telah sekian banyak mengkonsumsi formalin.  Tentang kekerasan terhadap perempuan, anak dan penjualan bayi (trafficking). Tentang narkoba dan dampaknya di kalangan generasi muda. Tentang cinta dan pacaran. Tentang ini dan itu dalam dunia muda-mudi. Tentang bencana alam, busung lapar, kelaparan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau ide sudah ada, bagaimana kita mengolahnya? Ops... mudah kok.  Mengolah ide sama artinya dengan mengembangkan ide itu menjadi lebih luas. Mula-mula  mencoba mengembangkan ide itu secara umum. Semua hal yang berkaitan dengan ide itu kita catat –makanya bagi penulis pemula dianjurkan untuk membuat outline atau kerangka karangan—tanpa ada yang tertinggal. Setelah semuanya kita catat, lalu kita pilih skala prioritasnya. Soalan-soalan yang lebih dekat dan dianggap penting dari perincian ide yang telah kita buat itu, kita urutkan di bagian awal atau kita jadikan sebagai gagasan pokok. Sedangkan yang lebih rendah kedudukannya kita tempatkan sebagai gagasan bawahan yang nantinya berfungsi untuk menjelaskan gagasan pokok. Soalan yang tidak perlu atau jauh hubungannya dengan ide dapat kita buang (delete). Rumusan yang dapat kita pakai dalam hal ini adalah seperti ketika kita mencari KPK dan FPB dengan akar bilangan atau pohon faktor.  Bisa pula dengan rumusan pohon beneran yang tentunya terdiri dari batang sebagai keseluruhan (ide/gagasan awal) cabang (sebagai perincian, gagasan pokok), ranting (gagasan bawahan) dan daun serta tulang-tulangnya (gagasan tambahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pertimbangan, ada baiknya kita perhatikan contoh berikut: Ide yang telah kita dapatkan dan ingin kita tuliskan adalah fenomena tarkam (tawuran  antar kampung) dalam masyarakat Minangkabau. Maka, yang pertama kita lakukan adalah mencatat semua hal yang berkaitan dengan ide ini. Umpamanya tentang kesehariam masyarakat Minangkabau yang tenang, damai dan egaliter. Lalu ada suntikan pengaruh budaya asing yang masuk  ke masyarakat Minangkabau melalui berbagai media. Akibatnya masyarakat Minang menjadi berubah. Kriminalitas meningkat. Semangat egaliterisme menurun. Masyarakat menjadi cendrung provokatif dan bar-bar. Terjadilah berbagai tindak penyimpangan  seperti tawuran antar desa/kampung/nagari, tawuran antar kampus, tawuran antar preman dan sebagainya. Tawuran ini melibatkan anggota masyarakat yang kadang-kadang masih berhubungan famili atau berkarib kerabat. Tak ayal, peristiwa ini akan membawa banyak masalah maupun kerugian. Ada kerugian material seperti pembakaran rumah, sekolah maupun fasilitas-fasilitas umum lainnya. Ada pula kerugian moril seperti rusaknya hubungan kekerabatan yang selama ini berjalan akur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hal-hal yang tersebut di atas kita catat semuanya. Lalu kita pilah-pilah (klasifikasikan) sesuai dengan kedudukannya. Nantinya kita akan menemukan kerangka dari ide tersebut berupa latar belakang permasalahan yang didukung oleh apa yang telah kita perincikan. Lainnya kita mendapatkan pula pokok  persoalan tentang tawuran dalam masyarakat Minangkabau: bagaimana prosesnya terjadi, apa latar belakangnya, melibatkan siapa, dan seterusnya. Dapat pula kita rumuskan akibat dari tawuran itu serta bagaimana cara mengatasi atau mencegahnya. Demikian pula persoalan-persoalan yang kita perinci tetapi hanya sedikit memiliki hubungan dengan ide utama dapat dihilangkan, misalnya tentang sejarah masyarakat Minangkabau yang begini dan begitu. Setelah semuanya lengkap tersusun, kita baru bisa mulai menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira kita mengolah ide. Bagi penulis pemula cara seperti ini akan amat membantu. Tetapi bagi penulis senior, dia akan langsung menuliskannya karena dalam pikirannya sudah terplot ide-ide tersebut secara sistematis. Untuk menjadi yang demikian perlu latihan yang panjang dan terus menerus. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-4830206501956917535?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/4830206501956917535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=4830206501956917535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4830206501956917535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/4830206501956917535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/fiksi-dan-nonfiksi-bermula-dari-ide.html' title='FIKSI DAN NONFIKSI: BERMULA DARI IDE'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-3048829840434812739</id><published>2007-12-19T00:29:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T00:33:04.038-08:00</updated><title type='text'>Menggagas Kritik Sastra Islami</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#3333ff;"&gt;Oleh: Ronidin&lt;br /&gt;Dosen Fak Sastra Unand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam suatu kesempatan berdiskusi di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Maman S. Mahayana mengatakan bahwa selama ini penelaahan tentang sastra Indonesia masih merujuk barat. Teori dan kritik sastra yang ada semua bersumber dari barat. Kang Maman menghendaki kita berhenti merujuk barat. Tetapi, diskusi itu terhenti sampai di sana. Belum ada rumusan yang jelas tentang model atau arah kritik sastra Indonesia ke depan.&lt;br /&gt;            Kemana kita harus berpijak?&lt;br /&gt;Sebenarnya terbuka di hadapan khalayak sastra kini kemungkinan untuk melahirkan pendekatan kritik sastra bercorak Islam. Pendekatan dari  barat yang selama ini dipakai, semestinya diubahsesuaikan. Kita mesti menyaring atau menyunting aspek-aspek yang berseberangan dengan Islam serta tetap memakai pendekatan yang bersesuaian.&lt;br /&gt;Kenapa begitu?&lt;br /&gt;Rasanya, Dalam sejarah kesustraan, kesustraan Islam tidak bisa diabaikan begitu saja. Belakangan ini pembicaraan tentang sastra Islam menjadi topik yang menarik di mana-mana. Lomba-lomba atau sayembara sastra islami semakin marak diadakan. Ini pertanda bahwa sastra islami itu memang ada dan (tentunya) diminati.&lt;br /&gt;Karena itu, kiranya perlu dirumuskan kritikan islami pula untuk menelaah karya-karya tersebut. Sangat ironis, ketika karya sastra yang berunsur islami ditelaah dengan pendekatan yang tidak berasal dari negeri Islam (baca: barat).  Dalam kajian psikologis misalnya, teori kejiwaan Freud dapat digantikan dengan teori-teori Islam tentang kejiwaan. Jika memakai pendekatan sosiologis, falsafah determinisme atau marxisme dapat digantikan dengan pendekatan kemasyarakatan dan muamalat dalam Islam.&lt;br /&gt;Usaha ini tentunya tidak mudah. Menciptakan model kritik sastra islami di tengah kuatnya eksistensi teori sastra barat, jelasnya akan menghadapi berbagai rintangan. Rintangan utama yang menghadang di depan mata tentunya adalah kesiapan kritikus Islam untuk memformulasikan model kritik sastra islami yang dikehendaki dengan model yang sudah ada. Hal ini tentunya harus ditopang oleh pengetahuan, bukan hanya pengetahuan keislaman tetapi juga pengetahuan berkesenian atau kesusastraan serta pengetahuan ilmu kemasyarakatan (sosiologi).&lt;br /&gt;Selain itu, kritikus sastra Islam juga harus benar-benar berikhtiar untuk memasyarakatkan model ini. Metodologi atau pendekatan yang dapat dirumuskan tentunya setelah dipersesuaikan dengan keberadaan teori sastra zaman ini, dengan penekanan pada sektor aqidah dan akhlak Islam, perlu ditumbuhkembangkan dalam setiap kesempatan yang ada. Sebenarnya, dalam berbagai pembicaraan tentang sastra Islam atau dalam penjurian lomba/sayembara sastra bercorak Islam, pendekatan kritik islami telah dilakukan. Di sana telah dibeberkan (dalam proses penilaian oleh dewan juri) tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut yang tentu saja mempertimbangan unsur-unsur yang melatarbelakanginya baik dari segi instrinsik maupun ekstinsiknya berdasarkan sudut pandang Islam. Kajian struktural (instinsik),  sosiologis (ekstinsik),  psikologi (ekstinsik), semiotik, stilistika, dan sebagainya telah dipakai untuk menelaah karya-karya sastra di tanah air yang sebagian besarnya bercorak Islam. Tinggal ikhtiar dan kerja keras untuk memasyarakatkan model kritik sastra islami ini lebih lanjut.&lt;br /&gt;Selanjutnya, islamisasi pendekatan kritik sastra juga dapat dilingkupkan pada: (1) studi kepengarangan (kritik ekspresif), (2) pembicaraan tentang karya itu sendiri (kritik objektif), maupun (3) pembicaraan tentang efek karya terhadap pembaca atau masyarakat (kritik pragmatis).&lt;br /&gt;Pertama, yang akan dibicarakan terlebih dahulu adalah keberadaan pengarang. Pengarang sebagai pencipta memiliki peran penting, karena itu tidak bisa dikemudiankan. Dalam hal ini, pengarang harus dipahami sebagai orang yang mencipta untuk kemaslahatan umat. Menyampaikan pesan-pesan moral kemasyarakatan yang tentunya sejalan dengan dakwah Islam. Bukan mencari selain ridha Allah. Tidak popularitas dan tidak pula uang.  Uang tentu, tapi tidak menjadi tujuan utama.&lt;br /&gt;Dalam pendekatan ini semua hal yang berseluk beluk dengan pengarang akan diperbincangkan. Latar belakang pengarang misalnya, tentu sangat mempengaruhi karyanya. Karena itu apa yang ditulis pengarang harus mencerminkan sikap dan pandangan hidupnya. Pada level ini,  seorang pengarang bukanlah seorang yang munafik, dimana antara karya dan dunianya saling bertolak belakang. Sekali lagi, bukan! Pengarang pada tataran sastra islami menduduki fungsi dan peran yang  teramat mulia sebagai pengemban risalah bil qolam.  Jadi, penganalisaan aspek kepengarangan ini pada prinsipnya untuk mempertegas keberadan pengarang Islam sebagai  orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang universal.&lt;br /&gt;Kedua, berbicara tentang karya, tentunya karya yang akan menjadi objek penelaahan adalah karya-karya yang memang berlatar belakang Islam.  Karya -karya yang isinya membawa pesan-pesan keislaman terutama berkaitan dengan akidah dan akhlak, baik yang dinyatakan secara langsung maupun yang melalui simbol atau metafor tertentu. Hakekat dari karya-karya itu tidak keluar dari fungsinya sebagai sarana untuk “mengingatkan” masyarakat akan nilai-nilai ilahiyah yang transenden secara mendalam. Misalnya, bagaimana sebuah karya menyampaikan nilai-nilai kemasyarakatan, syariah, ibadah, muamalah, moral dan sebagainya secara indah dan mengesankan. Jadi, karya-karya itu mestilah dibangun berdasarkan estetika dan logika islami.&lt;br /&gt;Apabila disebut estetika, maksudnya adalah keindahan yang dikonsepsikan dalam Islam. Nilai keindahan itu merupakan perpaduan antara nilai kerohanian, keimanan dan ketakwaan dengan nilai-nilai keintelektualan dan moral. Keindahan akan tercapai apabila tujuan dan aspirasi karya dipandang secara baik, serta menolak yang mungkar dan batil. Pendeknya, keindahan dapat disimpulkan sebagai karya yang memanifestasikan ciri-ciri keimanan, keluhuran, keikhlasan dan sebagainya. Keindahan-keindahan tersebut dapat diekspresikan melalui penggunaan imajinasi dan bahasa yang baik, kuat, tajam, dan sebagainya. Bukan memberikan penghormatan yang lumayan terhadap kebebasan imajinasi yang tidak terbatas, atau yang mementingkan keseronokan tubuh (seks), tetapi ia lebih kepada peningkatan pemikiran dan sifat kemanusiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;Lalu, ketika disebut pula logika islami, maka yang dimaksud adalah bagaimana dalam karya itu pusaran isinya dibangun dengan logika yang benar, tidak mengada-ada atau logika kosong yang membodohi. Misalnya seorang yang berwatak jahat, tiba-tiba berubah menjadi alim, rajin  beribadah tanpa sebab-musabab yang jelas dan meyakinkan bukanlah logika Islam. Atau penggambaran sesuatu yang tidak berpijak dari alam nyata yang dapat dipertanggungjawabkan (khayalan kosong begitu saja), juga bukan logika dalam Islam. Jadi, dalam hal ini yang terpenting itu adalah bagimana sebuah karya itu dibangun berdasarkan logika yang dapat dicerna oleh akal dan memberi kesan yang dalam. Termasuk pula dalam tataran ini adalah bagaimana karya sastra itu dibangun dengan  struktur yang logis dan baik.&lt;br /&gt;Dengan demikian, karya sastra yang memuat pesan-pesan keislaman dengan estetika dan logika yang islami, tentunya akan menarik perhatian para kritikus untuk melakukan pendekatan/kritik secara islami.&lt;br /&gt;Ketiga, kritik sastra islami juga tidak bisa mengabaikan analisis terhadap pembaca: sejauh mana efek karya tersebut terhadap pembaca. Seperti telah dikatakan di atas bahwa karya sastra islami bermaksud untuk memperkuat atau mengukuhkan  aqidah dan akhlak Islamiah, maka sejauh mana hal ini terjadi pada diri pembaca setelah ia menikmati karya sastra.  Pembicaraan tentang efek ini sangat penting mengingat karya sastra itu sebenarnya tidak hadir dengan kekosongan saja.&lt;br /&gt;Jadi, apakah karya tersebut mengajak pembacanya berbuat baik atau melarang berbuat mungkar? Apakah unsur-unsur kebaikan dapat dimafaatkan untuk mengatasi kejahatan? Atau apakah selesai membaca karya itu, pembaca hanya akan menjadi kasar, brutal atau malah melupakan Tuhannya? Tidak dapat ditolak, aspek kesan seperti ini sangat dekat hubungannya dengan aspirasi dan cita-cita pengarangnya dan sejauh mana semuanya itu dicapai dalam karya sastra.termasuk pula pengukuhan iman dan pembentukan akhlak Islamiah. Karena itu, analisis ini sangat penting dalam melihat kebermaknaan  karya sastra ilsmai dalam masyarakat Islam.&lt;br /&gt;Demikianlah, dengan menggunakan model pendekatan kritik sastra Islam seperti disebutkan di atas, sedikit-banyaknya dapat memberi alternatif dalam analisis karya sastra, jika memang kita harus berhenti merujuk barat. Pendekatan ini tentunya harus didukung dan dipopulerkan oleh  kritikus sastra yang bukan saja harus memahami sastra secara mendalam, tetapi juga memahami Islam secara kaffah. Wallahualam. (Disarikan dari berbagai sumber, utamanya dari Mana Sikana: Sastra Ta’abudiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-3048829840434812739?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/3048829840434812739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=3048829840434812739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/3048829840434812739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/3048829840434812739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/menggagas-kritik-sastra-islami.html' title='Menggagas Kritik Sastra Islami'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-9100256690484617569</id><published>2007-12-18T23:49:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T23:51:55.439-08:00</updated><title type='text'>MENULIS CERPEN DENGAN MUDAH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dikatakan oleh banyak orang bahwa menulis itu ibarat rumah dengan pintu yang selalu terbuka. Siapa pun orangnya dapat memasuki rumah itu. Tidak terkecuali kamu. Syaratnya kamu harus memiliki motivasi dan tekad untuk melaksanakan motivasi itu. Tidak ada teori yang dapat mengantar seseorang untuk menjadi penulis jika tidak diaplikasikan langsung. Jadi, untuk menjawab pertanyaan bagaimana sebenarnya menjadi seorang penulis itu, maka jawabannya adalah dengan menulis, menulis dan menulis.&lt;br /&gt;      Lalu, bagaimana dengan menulis cerpen? Jawabannya sama. Mulailah menuliskannya. Dari mana harus dimulai? Dari dalam rumah yang pintunya selalu terbuka itukah atau dari mana saja? Terserah Anda. Yang penting menulis dulu. Menulis cerpen (seperti juga menulis yang lain) mulanya berawal dari ide. Dari mana ide diperoleh? Dari sekitar kita. Ide-ide yang berceceran di mana-mana kita punguti dan kita olah. Untuk mengolah ide-ide itu perlu pengetahuan yang cukup tentang apa saja termasuk pengetahun kemanusiaan serta ketajaman Anda  dalam melakukan observasi. Tanpa pengetahuan itu, Anda tidak mungkin bisa melukiskan peristiwa dan  tokoh cerita Anda dengan meyakinkan. Tanpa observasi yang tajam, Anda tidak bisa melihat apa-apa dari kehidupan di sekeliling Anda, meskipun kedua pelupuk mata Anda terbuka lebar-lebar. Untuk itu langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membuka mata batin Anda. Cari ide itu dengan cara mengamati siklus kehidupan sehari-hari dengan cermat. Anda tidak bisa menunggu ide itu turun dari langit. Misalnya: Anda pulang pergi ke sekolah, kampus, pasar, sawah, dan lain-lain. Dalam perjalanan itu Anda pasti menyaksikan banyak peristiwa. Jangan Anda lewatkan peristiwa itu. Manfaatkan momen itu untuk mencari ide cerita apa yang bisa Anda tulis menjadi cerpen.&lt;br /&gt;            Selanjutnya setelah ide itu Anda dapatkan, maka jangan tunggu lama. Segeralah menuliskannya. Kalau tidak ide itu akan hilang berganti dengan ide yang baru. Agar ide itu tidak hilang, ada cara yang biasa dilakukan dengan menyediakan potongan kertas atau kartu ide. Setiap Anda menemukan ide, Anda catat di kartu itu. Sewaktu diperlukan, Anda tinggal menuliskannya. Catatlah ide itu dengan kalimat yang baik dan jelas. Tidak serampangan. Kalau perlu dengan kalimat yang menggugah minat untuk meneruskannya.&lt;br /&gt;Ketika ide sudah ada, observasi sudah dilakukan  dan bahan-bahan lain sudah tersedia pula, lalu apa yang akan dilakukan? Mulailah menulis kalimat pembuka. Ingat, kalimat pembuka itu harus menarik, supaya pembaca merasa tertarik untuk meneruskan bacaannya terhadap cerpen Anda. Dengan kalimat pembuka yang baik, Anda telah memberikan daya kejut kedua setelah judul. Sebuah pembuka  yang menarik menyebabkan pembaca bertanya-tanya: apa peristiwa sebenarnya yang ingin disampaikan dalam cerpen tersebut. Contoh pembuka yang baik dapat Anda baca dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis.&lt;br /&gt;            Sementara itu hal lain yang paling penting dalam sebuah cerpen adalah konflik. Terserah Anda mau menulis cerita tentang apa saja, yang penting Anda tidak mengabaikan konflik di dalamnya. Cerpen tanpa konflik hanya akan jadi teks pidato. Konflik terjadi karena pertentangan kepentingan yang Anda bangun dalam cerpen itu, umpamanya pertentangan kepentingan antara yang baik dengan yang tidak baik.&lt;br /&gt;            Seterusnya yang perlu ada dalam cerpen adalah suspensi atau ketegangan. Hadirkanlah suspensi atau ketegangan itu dengan cara-cara yang tidak diduga pembaca. Misalnya suspensi saat-saat si tokoh cerita menghadapi masalah yang begitu besar, sehingga rasa-rasanya ia tidak akan mampu menyelesaikannya. Efek dramatik dari detik-detik genting ini sangat besar perannya dalam cerita, karena ia sangat kuat merangsang tanggapan emosional pembaca. Tapi jangan lantas mendramatisir cerita. Kalau masalahnya kecil, jangan dibesar-besarkan.&lt;br /&gt;            Selain konflik dan  suspensi, hal yang tak kalah pentingnya adalah penokohan. Penokohan penting karena apa yang digambarkan dalam cerpen sebenarnya adalah realitas yang ada dalam masyarakat. Dalam hal inilah pentingnya Anda memiliki pengetahuan yang dalam tentang sifat dan karakter manusia. Kalau Anda membuat beberapa tokoh, bagaimana sifat-sifat  tokoh itu Anda harus hafal betul. Kalau dia seorang dokter, bagaimana karakter dokter itu, bagaimana caranya berbicara, berjalan, berpakaian, dll. Penokohan yang baik menimbulkan kesan bahwa penulisnya memiliki pengetahuan tentang itu. Selanjutnya fokus cerita dalam cerpen harus jelas. Tidak bercabang ke mana-mana. Cerpen biasanya berupa penggalan peristiwa yang dialami oleh seseorang. Jadi, ceritanya tidak bercabang seperti yang ada dalam novel atau roman. Satu hal lagi adalah soal dialog sebagai pemberi informasi kepada pembaca. Dialog dalam cerpen harus dirangkai dengan jelas dan efektif.&lt;br /&gt;Terakhir, sebuah cerpen hendaknya ditutup dengan ending yang mengesankan Terserah Anda, mau memilih happy ending atau unhappy ending. Yang jelas, ending harus benar-benar memberi kejutan dan kesan yang mendalam bagi pembaca. Jangan membuat ending yang sudah bisa ditebak. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-9100256690484617569?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/9100256690484617569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=9100256690484617569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/9100256690484617569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/9100256690484617569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/menulis-cerpen-dengan-mudah.html' title='MENULIS CERPEN DENGAN MUDAH'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-7847885192498432345</id><published>2007-12-14T01:25:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T23:43:51.157-08:00</updated><title type='text'>The Da Vinci Code: Kebenaran Sastra dan Imajinasi Kontroversial</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Kebenaran sastra tidak sama dengan kebenaran agama, hukum dan undang-undang (Gama, Singgalang, 11/06/06). Kebenaran sastra melingkupi tiga dimensi silendris: sastra itu sendiri (teks), pengarang sebagai pencipta sastra dan pembaca sebagai penikmat sastra. Ketiga unsur tersebut memiliki hubungan yang erat, tetapi masing-masingnya memiliki hak otonom. Setiap pengarang memiliki hak untuk menulis apa saja. Pembaca juga bebas memahami atau mengintepretasi teks sastra sesuai persepsinya sendiri-sendiri. Jadi, tidak ada pemaksaan untuk memahami dan tidak ada yang berhak mengatakan bahwa pemahaman mereka paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati karya sastra sebenarnya merupakan rekreasi untuk menyelami pikiran penulisnya. Pikiran-pikiran penulis disuguhkan untuk dinikmati pembacanya. Tentunya, seorang pembaca dengan pembaca yang lain akan menemukan titik pandang berbeda dari suguhan yang sama. Itulah uniknya karya sastra. Tetapi, ada kalanya intepretasi pembaca menimbulkan suasana tidak menyenangkan bagi pembaca lainnya. Pembaca A mengintepretasi begini, sedangkan pembaca B mengintepretasi begitu. Terjadilah perbedaan persepsi. Itu hal yang wajar. Beda pendapat biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah penghakiman yang membabi buta. Ramai-ramai karya yang berhaluan ini dilarang, yang berhaluan itu dibredel bahkan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dapat dipahami, terjadinya kontroversi seputar novel The Da Vinci Code karena novel ini tidak lagi dipandang dengan kebenaran sastra. Fakta yang difiksikan dan fiksi yang difaktakan Dan Brown telah dipersepsi dengan kebenaran bukan sastra; kebenaran agama ataupun kebenaran sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Tahun 2003, Dan Brown menulis novel The Da Vinci Code yang menggemparkan jagat ini. Sampai saat ini, novel tersebut sudah dicetak sebanyak 40 juta kopi ditambah 6 juta paperback dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Da Vinci Code menggemparkan dunia karena secara provokatif telah menyinggung umat khatolik hingga ke Vatikan. Karya Dan Brown ini dianggap secara terang-terangan telah mencampur-adukkan antara fakta-fakta kekristenan dengan fiksi sebagai kekayaan imajinasi. Hal-hal yang dianggap kontroversial misalnya perkawinan Yesus dan Maria Magdalena, pendeskripsian organisasi Opus Dei sebagai kelompok Kristen yang melakukan praktik menyakiti tubuh, merendahkan wanita dan terlibat skandal keuangan Vatikan. Lalu, Bibel diceritakan Brown sebagai produk manusia yang telah menghilangkan ayat-ayat tentang keberadaan Yesus sebagai manusia biasa. Namun, yang paling dianggap kontroversial adalah penggambaran Brown tentang ketuhanan Yesus yang ditetapkan melalui sebuah voting oleh Konsili Nicea (hal. 325).&lt;br /&gt;Sebenarnya, apa yang dikemukan Brown ada benarnya dan juga ada salahnya. Namun, saya tidak akan berbicara tentang itu. Saya hanya akan melihat novel ini dalam perspektif sastra sebagai kebenaran imajinasi yang bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;The Da Vinci Code menarik karena pengarang berhasil membangun peristiwa secara berangkai dan unik. Pemabaca tidak akan beranjak dari bacaannya karena ada teka-teki yang mesti dipecahkan, ada kode-kode yang menantang, ada konspirasi yang membingungkan, ada rangkaian penyelidikan dedektif yang mendebarkan dan tentunya ada skandal yang menegangkan. Pembaca seolah-olah dibawa serta dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena itu, pembaca yang tidak jeli, bisa jadi akan langsung menganggap yang diklaim fiktif oleh Brown menjadi sebuah fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain peristiwa, kekuatan lain yang nampak dalam The Davinci Code adalah kecerdasan Dan Brown mengeksplorasi sain (kecanggihan teknologi) dengan estetika seni. Lalu, kemapuan Brown menghadirkan setting dengan deskripsi yang memukau juga merupakan kekuatan yang tidak terpisahkan dari novel ini. Tempat-tempat yang ada dalam novel ini seolah-olah ada di depan mata pembaca. Saya belum pernah ke Louvre, tetapi saya dapat membayangkan keberadaan museum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam novel ini diawali dengan peristiwa pembunuhan kurator museum Louvre di Paris, Jacques Sauniere. Sauniere yang sekarat menjelang ajalnya masih sempat menulis pesan berupa kode-kode rahasia untuk cucunya Sophie Neveu, seorang ahli kriptolog di kepolisian DCPJ (FBI-nya Perancis) dan Robert Langdon, ahli simbologi Universitas Harvard yang kebetulan sedang berceramah di kota Paris. Melalui rangkaian peristiwa yang panjang, Sophie dan Langdon –yang melalukan pelarian karena Langdon dituduh sebagai pembunuh Sauniere oleh agen Fache, kepala DCPJ Perancis—mereka memecahkan kode-kode itu satu persatu. Perpaduan kedua ahli itu mampu memecahkan kode-kode rahasia yang bukan saja rumit tetapi juga membonceng dalam karya lukis seniman serba bisa Leonardo Da Vinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelariannya dari polisi Perancis yang menegangkan dan berliku-liku, Langdon dan Sophie kemudian bertemu dengan seorang sejarahwan Inggris, Leigh Teabing. Teabing membantu kedua pelarian itu di rumahnya. Pertemuan Langdon dengan Teabing menjadi begitu berarti karena kepakaran Taebing dalam mengungkap sejarah kristen yang ada dalam kode-kode itu. Teabing turut membantu memecahkan misteri di balik kode-kode rahasia yang ditinggalkan Sauniere. Teabing pula kemudian yang menerbangkan Langdon dan Sophie ke London dengan pesawat pribadinya untuk mencari Holy Grail –kesimpulan sementara dari petunjuk kode-kode yang telah mereka pecahkan-- yang diyakini ada di London, termasuk menemukan kode terakhir membuka batu kunci (cryptek) di atas makam Issac Newton. Teabing yakin kode pembuka batu kunci yang diyakini berisi peta tempat penyimpanan Holy Grail dapat mereka temukan di sana. Selain itu, penerbangan ke London juga untuk menyelamatkan Langdon dari kejaran polisi Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di London, terungkap bahwa Teabing ternyata menginginkan cryptek itu dan ingin sekali mendapatkan Holy Grail yang menghebohkan itu. Terungkap pula bahwa dalang pembunuhan Sauniere dan rangkaian pembunuhan lainnya adalah Leigh Teabing. Jauh sebelum Sauniere terbunuh, dia telah memasang alat penyadap di sekitar Sauniere dan orang-orang berpengaruh lainnya. Alat penyadap itu dipantau dari rumahnya dengan peralatan yang canggih. Teabing dalam menjalankan rencananya dibantu oleh Remy, biarawan taat pendeta Aringarosa dan Silas. Cerdiknya, kepada pendeta Aringarosa dan Silas yang merupakan anggota kelompok kristen Opus Dei, Teabing mengenalkan diri sebagai Guru. Teabing juga secara cerdik telah memperalat Vatikan untuk rencananya liciknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua berakhir, Teabing ditangkap, Aringarosa dan Silas menyadari kesalahannya, Remy mati dibunuh Taebing, Langdon dan Sophie berhasil memecahkan kode terakhir. Ternyata, Holy Grail yang menghebohkan itu tidaklah ada seperti yang dibayangkan sebelumnya. Petunjuk yang didapatkan Langdon dalam kode terakhir hanya mengantarkan Sophie untuk bertemu dengan nenek dan saudara laki-lakinya di gereja katedral Rosslyn di selatan Edinburgh, Skotlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;Kehadiran novel The Da Vinci Code memang telah mengundang berbagai kontrovesi. Dalam kacamata sastra, apa yang dikemukan dalam novel ini adalah tentu memiliki pesan karena memang sastra memiliki fungsi menghibur dan fungsi pesan (azaz mamfaat). Apa yang dikemukan Dan Brown memiliki fungsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosiologis, Dan Brown telah menulis apa yang dirasakannya, apa yang dilihat (ditelitinya), apa yang telah menjadi pengalamanya. Sastra sebenarnya berbicara tentang masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat, dan apa yang dikerjakan oleh masyarakat. Ketika ia ditulis, ia akan menjadi fakta yang difiksikan. Ketika sudah menjadi teks sastra, itulah sebuah kebenaran imajinasi. Ketika dalam novel ini Brown berbicara tentang penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam tubuh umat khatolik, itulah sebenarnya fakta yang dibangun dengan imajinasi. Itulah sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, fakta dan fiksi dalam sastra adalah kebenaran. Fakta adalah bahan untuk difiksikan. Namun, kadang-kadang fakta yang telah diolah dengan campuran imajinasi (fiksi) dapat menimbulkan sikap kontroversial seperti dalam Da Vinci Code. Misalnya Museum Lovre adalah fakta, tetapi peran Sauniere, Langdon, Sophie Aringarosa, Silas dan Teabing adalah fiksi. Leadardo Da Vinci dan lukisannya Manusia Vitruvian, Mona Lisa, dan Last Supper adalah fakta, tetapi menyebut lukisan-lukisan itu mengandung rahasia perempuan suci adalah fiksi. Lukisan Last Supper jelas merupakan penggambaran Leonardo yang merinci peran murid-murid Yesus dengan mimik masing-masing. Di kanan dan kiri Yesus yang duduk terdekat adalah murid Yohanes dan Yokobus menggambarkan permintaan ibu mereka (Matius 20:20-21). Yohanes dan Petrus disuruh Yesus menyiapkan perjamuan. Maka kalau tempat itu diganti Brown dengan Maria Magdalena dan Yohanes tidak ada, itu adalah fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam The Da Vinci Code, fiksi adalah kebenaran. Kebenaran Sastra.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-7847885192498432345?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/7847885192498432345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=7847885192498432345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/7847885192498432345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/7847885192498432345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/da-vinci-code-kebenaran-sastra-dan.html' title='The Da Vinci Code: Kebenaran Sastra dan Imajinasi Kontroversial'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-8749976284784114797</id><published>2007-12-14T00:27:00.000-08:00</published><updated>2007-12-14T00:28:53.812-08:00</updated><title type='text'>Sinetron: Media Pembodohan Masyarakat</title><content type='html'>Anda ingin melihat wajah bangsa Indonesia? Maka, tontonlah televisi. Dijamin Anda akan menemukan wajah Indonesia di sana. Wajah yang sebenarnya mulus tetapi telah dirusak sehingga menjadi bopeng-bopeng dan berjerawat. Wajah yang sengsara.&lt;br /&gt;            Di antara visualisasi wajah Indonesia yang paling dekat mencerminkan budaya bangsa tergambar melalui sinetron. Sinetron dibuat bukan berdasarkan sesuatu yang mengada-ada (social vacuum), tetapi berdasarkan realitas budaya yang berkembang dalam masyarakat. Meskipun hanya fiktif, sinetron berangkat dari sesuatu yang ada. Sesuatu yang berterima.&lt;br /&gt;            Sinetron sebagai bagian kerja kreatif –sebagaimana juga kerja kreatif lainnya—seyogianya memiliki fungsi menghibur sekaligus fungsi mencerahkan. Menghibur dalam pengertian memberikan tontonan (hiburan) alternatif bagi setiap anggota keluarga setelah seharian beraktifitas. Hiburan pelepas penat di waktu istirahat. Sedangkan pengertian mencerahkan adalah mampu memberikan kesan atau ajaran yang bernas dan bermanfaat. Selesai menonton, ada kebermaknaan  tontonan itu yang diperoleh penonton. Bukan cuma hiburan semata.&lt;br /&gt;            Sejauh ini, apa yang terjadi? &lt;br /&gt;            Membaca fenomena yang ada, sungguh disayangkan. Pada kenyataannya produksi sinetron oleh berbagai rumah produksinya hanya mengejar fungsi pertama. Sinetron-sinetron itu dibuat asal jadi, dangkal, alur cerita yang kadang-kadang tidak masuk akal, terlalu berlebihan mengeksploitasi sesuatu, misalnya kemewahan –padahal kita orang miskin, tidak memiliki pesan moral dan sebagainya. &lt;br /&gt;            Ketika menonton sinetron, para penonton  tidak perlu berpikir. Rangkaian peristiwa/cerita yang dibangun dalam sinetron itu tidak akan membuat kening jadi berkerut. Penokohan pun demikian. Peristiwa dan penokohan dibuat segampang mungkin dengan penyelesaian instan atau solusi seenaknya. Peristiwa bisa dibawa kemana-mana. Tokoh sekehendaknya. Jika misalnya sang tokoh terbentur, kalau tidak dibantu makhluk halus berupa jin atau peri, pasti si tokoh punya ilmu menghilang atau punya jimat khusus untuk mengatasi masalahnya.&lt;br /&gt;Kalau sinetronnya tentang sekolah atau anak sekolahan, maka peristiwanya tidak akan pernah beranjak dari masalah percintaan, pacaran dan kecemburuan. Tidak akan kita jumpai peristiwa pendidikan di sana. Soal pendidikan atau bagaimana siswa belajar dengan baik hanyalah  tempelan saja sesuai dengan latar ceritanya. Siswa tidak berkarakter seperti selayaknya siswa. Guru hanya digambarkan sebagai manusia dungu.&lt;br /&gt;Lain lagi kalau kita berbicara tentang tema. Belakangan tema yang lagi in adalah  tema-tema religi,  keluarga, cinta dan kasih sayang (utamanya sinetron remaja). Tidak ada yang salah soal tema, cuma  penggarapannya yang kadang berlebihan dan tidak masuk akal. Sinetron-sinetron bertema religi --yang mulanya diprakarsai TPI dengan  Kuasa dan Takdir Ilahinya, lalu diikuti stasiun TV lainnya—terlalu hitam putih. Suatu soal selalu dipandang dari sudut dosa dan akhirnya bermuara kepada hukuman. Sinetron religi ini tak ubahnya seperti khutbah saja. Sinetron ini hanya sampai pada taraf mengingatkan dan tidak akan menghadirkan apresiasi yang memungkinkan orang/penonton menjadi jera berbuat dosa. Buktinya semakin banyak sinetron religi dengan berbagai judulnya, sebegitu juga orang menipu, sebanyak itu juga tumbuh lentenir, koruptor dan penjarah harta orang lain, semakin banyak juga kejahatan kelamin dan sebagainya. Sinetron tema religi ini kemudian menjadi monoton.&lt;br /&gt;Kehadiran sinetron religi ini,  kalau begitu masih saja dapat ditafsirkan  membodohi masyarakat. Masyarakat jadi terkungkung dalam streotipe hitam putih. Kalau ini dilakukan ini yang akan terjadi dan ini hukumannya. Sehingga pola pikir masyarakat terhadap agamanya menjadi dangkal dan hitam putih pula. Tetapi walaupun demikian, sinetron religi ini jauh lebih baik dari sinetron yang merusak aqidah seperti sinetron jin atau peri.&lt;br /&gt;Sedangkan sinetron bertema keluarga, meghadirkan konflik suami istri, perebutan harta (warisan), hidup yang penuh keculasan, dan sebagainya. Tema-tema ini membuat ibu-ibu rumah tangga –sebagai konsumen terbesar penikmat  sinetron—menjadi hedonis maupun panjang angan-angan. Penonton ditipu dengan latar sosial sinetron yang serba mewah, memakai kawasan perumahan elit yang luas dan bertingkat, yang apabila ditelusuri akan kontras dengan penghuninya yang hanya seorang atau dua orang anak, sepasang suami istri dan seorang pembantu. Latar sosial mewah yang digambarkan bukankah mengingkari realitas yang sebenarnya dimana kebanyakan masyarakat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Ini adalah “penipuan” atau “pembodohan sosial”. Sama dengan “penipuan” atau “pembodohan sosial” yang dilakukan anggota DPR yang katanya mewakili rakyat dan sudah bergaji besar minta lagi kenaikan gaji berlipat-lipat sedangkan rakyatnya kian menderita.&lt;br /&gt;Sementara itu, sinetron-sinetron tema percintaan (remaja) juga memprihatinkan dan membodohi. Dalam sinetron-sinetron ini digambarkan bahwa pemasalahan remaja tidak lepas dari masalah cinta, bagaimana mendapatkan pacar, bagaimana seni merayu dan sebagainya termasuk pula pengeksploitasian masa pubertas secara hiperbol. Soalan seperti ini “digarap” habis-habisan dengan harapan dapat menyedot mayoritas penonton  remaja yang memang sedang berada dalam masa-masa itu. Di sini terasosiasi bahwa seolah-olah hidup remaja hanya untuk urusan yang begituan –padahal sebenarnya masih banyak remaja (siswa) yang kreatif dan inovatif, tapi kenyataan ini tidak akan laku dikomersilkan/disinetronkan.&lt;br /&gt;Akibat kongkrit yang dapat dirasakan adalah penyimpangan prilaku remaja. Apa yang ada di sinetron sepertinya  menjadi ikon remaja saat ini: model rambut, gaya bicara, kebiasaan, tata prilaku dan sebagainya. Oleh itu, janganlah heran bila remaja (siswa) jadi malas belajar –karena tidak pernah dilihatnya dalam sinetron sosok siswa yang belajar beneran. Selain itu siswa juga menjadi glamour bahkan hedonis --suka hura-hura atau pesta-pesta, kerap mejeng di mall,  minta dibelikan HP model terbaru, minta dibelikan motor dan sebagainya.&lt;br /&gt;Beralih  ke persoalan bahasa, hampir tidak ada sinetron yang ada di televisi Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Bahasa yang dipakai umumnya adalah Bahasa Indonesia dialek Jakarta. Seakan-akan itulah Bahasa Indonesia yang benar. Cara berbahasa semacam ini ditiruteladani oleh masyarakat, sehingga bahasa Indonesia kehilangan hakekat dan maknanya.&lt;br /&gt;Sebagai media yang banyak ditonton oleh masyarakat jelas fenomena ini sangat “menggenaskan”. Bukankah bahasa menunjukkan identitas bangsa? Bagaimana orang berbahasa maka seperti itu pulalah cara mereka berpikir. Jadi, ketika bahasa Indonesia dialek Jakarta dipopulerkan televisi melalui sinetron-sinetronnya, maka seolah-olah kita digiring untuk menerima hal itu sebagai bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagaimana yang didengung-dengungkan selama ini: “kita harus berbahasa Indonesia yang baik dan benar”. Bukankah ini penipunan atau pembodohan?&lt;br /&gt;Dengan demikian, sekiranya kita mencari hulu masalahnya: siapa kiranya yang patut disalahkan? Apakah: (1) mereka, para pengusaha pertelevisian Indonesia, (2) mereka yang mencari (dan numpang) hidup di sinetron, (3) mereka yang mengururusi kedua-duanya,  atau (4) mereka, para penonton yang menikmati semua itu? Entahlah. Yang jelas sinetron telah menjadi media pembodohan masyarakat Indonesia. Wallaulam Bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronidin, pemerhati masalah sosial, dosen Fakultas Sastra Unand&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-8749976284784114797?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/8749976284784114797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=8749976284784114797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8749976284784114797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/8749976284784114797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/sinetron-media-pembodohan-masyarakat_14.html' title='Sinetron: Media Pembodohan Masyarakat'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-2987263169337162632</id><published>2007-12-13T23:06:00.000-08:00</published><updated>2007-12-13T23:10:07.075-08:00</updated><title type='text'>Di Balik Kontroversi Imam Bonjol</title><content type='html'>Oleh Ronidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Momen peringatan hari pahlawan tahun ini ditandai dengan aksi pasang cabut gelar pahlawan nasional. Ada pihak yang mengusulkan agar beberapa nama yang telah berjasa pada negeri ini—yang kemudian tersangkut “gerakan daerah” pada tahun 1950-an seperti Syafruddin Prawiranegara dan M. Natsir (mereka terlibat PRRI) dianugerahi gelar pahlawan nasional. Lalu ada pula pihak yang ingin mencabut gelar pahlawan yang sudah ada.&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu muncul petisi di internet mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, dan meluruskan sejarah Kerajaan Pagaruyung, sejarah tanah Sumatera, dan sejarah Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Tuanku Imam Bonjol berkhianat pada Kerajaan Pagaruyung, membantai keluarga kerajaan itu, memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan lebih satu juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas masuknya Kerajaan Belanda di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau. Petisi ini ditulis oleh seorang pemuda Batak Mudy Situmorang—lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, kelahiran Simanindo, Pulau Samosir Sumatera Utara.&lt;br /&gt;Petisi untuk membatalkan gelar pahlawan nasional bagi Imam Bonjol ini ditanggapi oleh sejarawan Taufik Abdullah sebagai suatu hal yang nonsense. Menurut Taufik, kekerasan di awal gerakan Padri bukan tanggung jawab Tuanku Imam Bonjol. Saat gerakan Padri masih radikal di awal, Tuanku Imam Bonjol masih muda dan baru menjabat sebagai asisten Tuanku Bandaro, salah satu pemimpin gerakan Padri saat itu. Pada masa selanjutnya, malah bersama Tuanku Imam Bonjol, pasukan Padri lebih menitikberatkan serangan pada pihak Belanda. Sementara falsafah adat basandi syarak justru mengemuka di bawah kepemimpinan Imam Bonjol  (lihat www.dutamasyarakat.com, 17/10/07).&lt;br /&gt;Gerakan Padri merupakan gerakan sosial kolektif yang melibatkan banyak pemimpin. Tidak hanya Imam Bonjol saja. Masing-masing pemimpin itu memiliki ciri khas tersendiri dalam kepemimpinannya; ada yang “keras” dan ada yang moderat. Tuanku Tambusai misalnya, atas perintah Imam Bonjol pergi menunaikan ibadah haji dan melihat kondisi keislaman di Mekah, sekembalinya,  ia menjadi lebih moderat dari sebelumnya karena mendapati Islam moderat di Mekah. Seperti disebutkan dalam buku Tuanku Rao, Tuanku Tambusai menyesal melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wanita-wanita ditawan oleh pasukan Tuanku Lelo. Tuaku Lelo merupakan salah seorang pemimpin Padri yang bertipikal “keras”. &lt;br /&gt;Menjadi pertanyaan: apakah petisi pencabutan gelar pahlawan Imam Bonjol ini dilatari oleh “heboh” kembali buku Tuanku Rao—yang diterbitkan lagi tanpa perubahan oleh Penerbit LKiS Yokyakarta (Juni 2007) yang lalu atau karena sebab-sebab lain? Pertama, bisa jadi buku Tuanku Rao ini memicu (kembali) bangkitnya semangat anti Padri di kalangan pemuda Batak. Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1964 dan dipandang kontroversial. Buku ini membeberkan “kekerasan” yang dilakukan oleh komandan-komandan pasukan Padri versi Mangaradja Onggang Parlindungan (penulis buku ini). Parlindungan menyusun buku itu berdasarkan data sejarah Batak yang dimiliki ayahnya, Sutan Martua Radja. Pada 1918, ayahnya adalah guru sejarah di Normaalschool Pematangsiantar. Ayahnya memiliki warisan dokumen sejarah Batak turun-temurun dari tiga generasi sepanjang 1851-1955.&lt;br /&gt;Di samping itu, Parlindungan memakai bahan-bahan milik Residen Poortman. Posisi Poortman sama dengan Snouck Hurgronje. Snouck adalah seorang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda. Sedangkan Poortman adalah seorang ahli Batak. Poortman pensiun pada 1930 dan kembali ke Belanda. Di Leiden, Belanda, Poortman lalu menemukan laporan-laporan para perwira Padri sepanjang 1816-1820 untuk Tuanku Imam Bonjol. Parlindungan mengenal Poortman secara pribadi dan pernah bertemu di Belanda. Poortman mengirimkan bahan-bahan laporan itu ketika Parlindungan menulis bukunya (lihat www.tempointeraktif.com, 21/10/07).&lt;br /&gt; Apa yang ditulis Parlindungan ini mendapat sanggahan HAMKA melalui bukunya Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal 364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1974 itu, HAMKA menuding isi buku Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya, setiap kali HAMKA menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, ”sudah dibakar.”&lt;br /&gt;Selain itu, HAMKA mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitif misalnya pernyataan bahwa selama 300 tahun daerah Minangkabau menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta belaka.&lt;br /&gt;Sementara itu, Basyral Hamidy Harahap menulis buku  Greget Tuanku Rao, terbit September lalu sebagai reaksi terhadap buku Tuanku Rao. Basyral adalah Ketua Jurusan Perpustakaan Universitas Indonesia 1965-1967 dan pensiunan pustakawan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Ia ingin mengoreksi beberapa info tentang Tuanku Rao yang dianggapnya kurang tepat. Tapi, pada garis besarnya, ia sepakat dan bahkan menambahkan data kekerasan yang dilakukan Padri. ”Buku Parlindungan banyak salahnya, tapi buku itu ada di jalan yang benar.”&lt;br /&gt;Hal kedua yang berkemungkinan memicu lahirnya petisi pencabutan gelar pahlawan Nasional Imam Bonjol adalah konspirasi sentimen  agama. Bagi pemuda-pemuda Batak, masuknya Islam ke negeri Batak merupakan neraka yang sengaja diciptakan pasukan Padri untuk nenek moyang mereka. Jadi, ada “dendam” sejarah dan juga “dendam” agama di dada mereka.&lt;br /&gt;Seorang pemuda Batak, Samuel Hutagalung, S.Ag  menulis artikel yang cukup panjang tentang keberadaan dan sejarah Islam di tanah Batak yang “haus darah” dengan judul “Dakwah Islam di Tanah Batak” (lihat www.saumimansaud.org-a.googlepages.com). Tulisan ini secara subyektif memandang kekerasan orang-orang Islam dalam menyebarluaskan keyakinannya, termasuk proses masuknya Islam ke Batak melalui kekerasan orang-orang Aceh dan kaum Padri dari Minangkabau.&lt;br /&gt;Samuel Hutagalung juga mengaminkan apa yang ditulis Onggang Parlindungan dalam Tuanku Rao bahwa invasi Padri (Islam) ke tanah Batak telah mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat Batak. Hutagalung menulis bahwa penyerangan Padri ke tanak Batak adalah untuk membawa misi 3 G yaitu Gold, Glory dan Glorious Qur’an atau dengan kata lain untuk mencari harta (ghanimah – rampasan perang), kekuasaan politik atas darul harbi (daerah perang karena belum diislamkan) dan membawa Al-Qur’anul Karim (kitab suci Al-Qur’an yang mulia) agar orang Batak masuk Islam. Diperkirakan setidaknya 200.000 (dua ratus ribu) orang Batak menjadi korban jihad fisabilillah Mujahiddin Padri ini, sebuah jumlah yang sangat luar biasa mengingat populasi waktu itu tidak sebesar saat ini.&lt;br /&gt;Sedangkan hal ketiga yang berkemungkinan mendorong lahirnya petisi ini adalah skenario awal untuk mempopulerkan film layar lebar “Tuanku Imam Bonjol” yang sekarang digarap Reza Zulkifli lebih awal. Dengan adanya heboh Tuanku Imam Bonjol ini, maka produsen film ini akan menangguk keuntungan tersendiri. Tema filmnya menjadi popular lebih awal sebelum selesai syuting. Masyarakat akan bertanya-tanya seputar Imam Bonjol. Ketika rasa keingintahuan masyarakat tentang sosok Imam Bonjol besar, lalu muncul filmnya, sehingga animo untuk menonton akan sangat besar. Kemungkinan ini bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;Begitulah, kontroversi Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional menjadi sesuatu yang misteri. Ada apa sebenarnya? Ketiga kemungkinan yang dijelaskan di atas bisa jadi ada benarnya dan bisa jadi pula hanya praduga. Yang jelas pada peringatan hari pahlawan tahun ini dimeriahkan dengan wacana pasang cabut gelar pahlawan nasional. Walahualam bissawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-2987263169337162632?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/2987263169337162632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=2987263169337162632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/2987263169337162632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/2987263169337162632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/di-balik-kontroversi-imam-bonjol.html' title='Di Balik Kontroversi Imam Bonjol'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-9112420238335975833</id><published>2007-12-13T20:11:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T00:09:26.065-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Malamang: Antara Tradisi dan Harga Diri</title><content type='html'>Masyarakat Minangkabau sebagaimana juga masyarakat lainnya, memiliki tradisi yang unik dan beragam. Pada waktu-waktu tertentu, tradisi itu akan menjadi iven budaya yang menarik. Di Pariaman misalnya, ada tradisi Tabuik setiap bulan Muharam sebagai ivent budaya tahunan untuk mengenang peristiwa terbunuhnya cucu nabi Muhammad saw Hassan dan Hussen dalam perang Karbala. Di sebagian wilayah Kabupaten Solok ada tradisi mambantai di palo banda (menyemblih sapi atau kerbau di hulu sungai) sebelum turun ke sawah. Lalu, ada pula tradisi menujuh hari, empat belas hari, empat puluh hari dan seratus hari kematian.&lt;br /&gt;Malamang (membuat lemang) juga merupakan bagian dari tradisi yang ada di Minangkabau. Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat) maupun di daerah rantau (daerah tempatan). Tradisi malamang ini termasuk ke dalam ranah folklore. Karena menurut Oxford Dictionary, Folklore mengandung arti keyakinan atau kisah-kisah lama (tradisional) mengenai rakyat,sekaligus juga bisa dimengerti sebagai studi atas kisah, tradisi atau keyakinan rakyat itu sendiri. Rakyat di sini bisa suku, masyarakat, atau penduduk suatu wilayah dengan ragam budayanya sendiri (Helmi Mustafa, 2005 dalam http://www.padhangmbulan.com). Sedangkan menurut Maryaeni (dalam Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia&lt;a name="1_7"&gt; &lt;/a&gt;Tahun 10, Nomor 1, Februari 2004), secara etimologi, kata folklore terdiri atas kata folk dan lore. Folk adalah masyarakat pemilik suatu kebudayaan tertentu, sedangkan lore adalah suatu kebudayaan, tradisi, dan kesenian yang dimiliki oleh kolektif tertentu. Folklor dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan.&lt;br /&gt;Malamang termasuk folklore bukan lisan. Proses Malamang sebagai tradisi dilaksanakan masyarakat Minangkabau atas konvensi lingkungan sosialnya pada momen-momen tertentu misalnya ketika akan masuk dan sesudah puasa, ketika maulid nabi, ketika memperingati hari kematian, dan ketika baralek (pesta perkawinan). Tradisi ini ada karena merupakan warisan budaya. Oleh karena itu, malamang dapat dipandang sebagai kekhasan daerah yang perlu dilestarikan. Tradisi ini bukan saja bernilai budaya, tetapi juga dapat bernilai ekonomis.&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan, proses malamang dilaksanakan sebagai sebuah tradisi yang masih ada di Minangkabau. Untuk itu, ada beberapa pertanyaan yang mengedepan bagi saya terkait dengan ini. Pertama, apa dan untuk apa sebenarnya malamang itu? Kedua, kapan waktu pelaksanaannya? Ketiga, apakah ada sangsi bagi warga yang tidak malamang pada waktu yang sudah disepati bersama? Keempat, apakah ada perbedaan tradsi ini antara daerah satu dengan daerah lainnya di Minangkabau? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan coba dibentangkan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;Malamang merupakan akar tradisi yang tidak dapat dipisahceraikan dengan masyarakat Minangkabau. Malamang yang dimaksud di sini bukan yang dilakukan oleh pribadi untuk kepentingan pribadi, tetapi malamang sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama oleh sekelompok masyarakat. Malamang sebagai sebuah tradisi biasanya dilaksanakan untuk kepentingan tertentu. Di waktu akan masuk puasa, malamang dilaksanakan secara bersama oleh masyarakat sebagai tradisi menyambut Ramadhan. Lamang yang dibuat akan dihidangkan kepada tamu (atau siapa saja) yang datang ke rumah. Lamang merupakan kudapan resmi di saat sebuah keluarga mengundang warga untuk membaca doa selamat memasuki bulan puasa. Begitu pula di waktu memasuki hari raya, malamang dilaksanakan dengan tujuan yang tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;Sementara itu, di sebagian masyarakat Minangkabau seperti di Solok, tradisi malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati hari kematian. Utamanya pada peringatan empat belas hari kematian, empat puluh hari kematian atau seratus hari kematian. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan yang lain, yaitu untuk menjamu tamu (masyarakat) yang diundang. Malamang dalam konteks ini, sebenarnya akan menimbulkan kontradiksi sosial jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi keluarga yang meninggal. Adakalanya keluarga tersebut tidak sanggup, tetapi karena tidak mau menanggung malu sebagai salah satu bentuk penghukuman publik, maka, diusahakan dengan berbagai jalan bahkan dengan menghutang. Padahal yang demikian itu tidaklah disyariatkan agama. Sementara itu di beberapa daerah, adakalanya tradisi malamang dilaksanakan pada pesta perkawikan. Dalam kondisi ini sebagai tradisi, maka ia tidak akan berbenturan dengan kepentingan lain, karena memang dalam pesta perkawinan pihak keluarga penyelenggara sudah berniat untuk “berhabis-habis”.&lt;br /&gt;Sebagai tradisi, malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati maulid nabi. Hampir seluruh negeri di Minangkabau melaksanakannya pada waktu dimaksud. Di Pariaman misalnya, tradisi ini dilaksanakan secara besar-besaran. Menurut Drs. M.Yusuf, M. Hum. (Pimpinan Studio Audiovisual Fakultas Sastra Universitas Andalas) yang merekam peristiwa ini Sabtu dan Minggu (27-28/05/06) yang lalu, rata-rata sebuah keluarga membuat lemang 150-250 batang atau setara dengan 75-125 liter sipuluik. Menurut Azwar, S.S. yang juga ikut serta dalam rombongan tim Audiovisual FSUA itu, Masing-masing keluarga akan berlomba-lomba untuk malamang. Melihat tetangganya malamang 80 liter misalnya, kalau bisa, ia akan malamang sebanyak 90 atau 100 liter. Semiskin-miskinnya sebuah keluarga, minimal mereka akan malamang 80-90 batang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebiasaan/tradisi malamang ini dilaksanakan demi sebuah harga diri. Harga diri di mata sesama anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut Azwar, malamang versi masyarakat Pariaman, sebenarnya bermula dari kehendak Syeh Burhanudin Ulakan pada awal-awal penyebaran Islam di Pariaman kira-kira pada abad ke XVI. Syeh Burhanudin menginginkan makanan yang dibuat dari benda-benda yang bersih dari najis. Dapat diketahui bahwa ketika itu, masyarakat masih berada dalam masa pra-Islam yang serampangan menggunakan peralatan masaknya antara memasak makanan yang diharamkan dengan makanan yang dihalalkan Islam. Syeh Burhanudin ingin makanan yang di masak dengan alat yang alami dan bersih. Maka salah satu cara yang ditempuh masyarakat adalah dengan membuat makanan dengan menggunakan bambu yang dibakar (lemang). Dalam perkembangannya kemudian, lemang menjadi makanan wajib bagi guru-guru mengaji di surau. Murid-murid akan membawakan lemang untuk gurunya di surau karena di samping praktis, makanan ini juga lambat basi.&lt;br /&gt;Begitulah, tradisi malamang menjadi tradisi yang sampai hari ini masih ada dan akan tetap ada. Masyarakat Pariaman dan juga masyarakat lainnya di Ranah Bundo ini akan tetap mempertahankan tradisi itu karena memang di sana tersimpan entitas budaya dan harga diri. Masyarakat Minangkabau tidak mungkin menggadaikan identitasnya. Wallahualam Bissawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-9112420238335975833?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/9112420238335975833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=9112420238335975833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/9112420238335975833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/9112420238335975833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/malamang-antara-tradisi-dan-harga-diri_13.html' title='Malamang: Antara Tradisi dan Harga Diri'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1655862807826970580.post-3623268117791730520</id><published>2007-12-12T00:28:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T00:35:01.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Perempuan: Dipinggirkan atau Meminggirkan Diri</title><content type='html'>Orang-orang jahiliyah memandang perempuan sebagai makluk kelas dua yang pantas diperlakukan semau-maunya. Demonthenes&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn1" name="_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; pernah berkata, “kita perlu gundik untuk memuaskan kesenangan  kita dan istri untuk melahirkan keturunan kita.” Tidak ada gundik dan istri yang laki-laki.  Orang-orang jahiliyah sebelum datangnya Rasulullah SAW melakukan wa’datul banat yaitu penguburan setiap anak perempuan yang lahir. Aib besar bagi orang-orang itu mendapatkan anak perempuan. Bagi suami, begitu ada kabar bahwa anak yang dilahirkan istrinya adalah perempuan, maka serta merta mukanya merah padam menahan geram. Secepatnya ia akan menggali lubang untuk menimbun bayi itu hidup-hidup. Atau si istri disuruh melahirkan di depan lubang yang sudah disiapkan, begitu yang mengoek adalah anak perempuan, secepat kilat akan ditendang ke dalam lubang itu. Sang bayi menangis sebentar, setelah itu diam untuk selamanya. Tapi, jika yang lahir anak laki-laki, maka akan disambut dengan penuh kebahagian.&lt;br /&gt;Kalau ada anak perempuan yang terlanjur dewasa, maka ia akan diperlakukan seperti hewan. Dia akan dikurung atau disimpan; tidak diperlihatkan kepada orang lain. Dia dijadikan tahanan rumah, suruh bekerja yang berat-berat, suruh dia bekerja paksa. Jika ada yang bertanya berapa orang anakmu, jawab saja sebanyak anak laki-laki.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn2" name="_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;  Kalau perempuan itu telah bersuami, suaminya berhak melakukan apa saja terhadapnya. Kalau kemudian dia menjadi janda, dia boleh diwariskan seperti barang. Di India, seorang suami berhak membakar hidup-hidup istrinya bila istrinya itu sudah tidak menggairahkan lagi atau kulitnya sudah mulai kendor.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian citra perempuan diangkat Rasulullah Muhammad SAW semulia-mulianya. Perspektif masyarakat jahiliyah yang keliru memandang keberadaan perempuan, dikembalikan pada tempat yang semestinya. Nabi Muhammad SAW menempatkan peran dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam konstruksi sosial yang sama dan dinamis. Tidak ada dasar hukumnya laki-laki lebih baik, terhormat dan lebih mulia dari perempuan kecuali bila dilihat dari sisi ketaqwaanya (Q.S. 49: 13). Perempuan sama-saama berhak untuk menjalani hidupnya dalam masyarakat (bergaul, berinteraksi, berkarir, beribadah, dsb) sebagaimana laki-laki menjalani hidupnya pula. Perempuan bukanlah “makhluk kelas dua” yang bisa diperlakukan  sekehendak hati laki-laki. Perempuan tidak ditakdirkan untuk berada di bawah “kekuasaan” laki-laki. Melalui salah satu hadisnya, Rasulullah SAW memposisikan bahwa perempuan adalah mitra atau saudara kandung laki-laki (HR Abu Daut). Jadi, dapat dikatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah orang pertama sebagai peletak dasar konsep kesetaraan gender&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn3" name="_ednref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Pondasi kesetaraan gender yang dicanangkan Nabi Muhammad SAW itu menempatkan perempuan dan laki-laki secara adil dan setara. Keduanya berhak memperoleh akses manfaat dan partisipasi dalam berbagai segi kehidupan. Laki-laki dan perempuan dapat berperan secara dinamis dalam lingkup budayanya masing-masing. Tidak ada perempuan yang terpinggirkan atau inferior. Dalam masyarakat Hindu dikenal konsep Ardanariswari yaitu simbol Tuhan dalam manifestasi sebagai setengah `purusa` (laki-laki) dan `pradana` (perempuan). Makna simbolis dari konsep Ardanariswari itu adalah bahwa kedudukan dan peranan perempuan setara dan saling melengkapi tugas kaum laki-laki. Tidak ada alasan serta argumentasi teologis yang menyatakan, kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Itu sebabnya dalam berbagai sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan di antara laki-laki.&lt;br /&gt;Dalam logika yang sederhana, dapat dipahami bahwa kesetraan gender itu menghendaki laki-laki berperan sebagaimana mestinya laki-laki dan perempuan berperan sebagaimana mestinya perempuan. Kalau toh kemudian ada perempuan memiliki fisik yang kuat lalu bekerja dengan menggunakan kekuatan fisiknya itu--seperti ibu-ibu di pedesaan yang turut bertani atau menjadi buruh membantu suaminya mencari nafkah atau bekerja di sektor publik lainnya-- itu adalah sesuatu yang wajar dalam sebuah konstruksi sosial. Hal itu tidak perlu diperdebatkan sebagaimana adanya laki-laki yang lemah dan tidak bekerja. Justru menjadi aneh kalau ada perempuan maupun laki-laki yang berkutat memegang prinsip 3 M (malas, manja dan memble).&lt;br /&gt;Namun, jauh hari kemudian--seperti yang kita nikmati hari ini--pondasi pokok kesetaraan gender yang telah diperjuangakan Nabi Muhammad SAW itu tercerabut kembali dari akarnya. Kini terjadi (lagi) berbagai bentuk kesenjangan atau ketidakadilan gender.  Di satu sisi, perempuan dan laki-laki saling berebut untuk mengukuhkan eksistensi mereka masing-masing pada level yang dipandang lebih terhormat. Sedangkan pada sisi yang lain,  laki-laki dan perempuan melakukan prosesi dehumanisasi. Laki-laki “menjual” perempuan dan perempuan “memperbudak” laki-laki untuk berbagai kepentingan kehidupan moderen. Ujungnya-ujungnya kembali lagi ke persoalan klasik; perempuan selalu saja berada pada posisi yang  “kalah”.  Laki-laki berkuasa atas dirinya. Sekuat apapun perempuan itu, tetap saja ia menjadi “korban” atau bahkan “dikorbankan”. Sungguh naïf.&lt;br /&gt;Jadi, persoalan yang berkaitan dengan perempuan memang tidak akan habis-habisnya sampai dunia ini tutup usia. Justru itu, yang dapat dilakukan adalah memandang persoalan-persoalan tersebut secara proporsional. Kalau dulu perempuan dipinggirkan perannya, direndahkan, dilecehkan, dikasari, dan bahkan keberadaannya dianggap sebagai makhluk “kelas dua” tidak lain karena memang tradisi masyarakat jahiliyah mempersepsi perempuan seperti itu. Jika sekarang perempuan (kembali) merasa diperlakukan seperti yang demikian itu dan bahkan “dijual” untuk berbagai kepentingan, maka harus ditelisik secara berkejelasan sebab-musabab yang melatarbelakanginya. Dapat diduga bahwa pada fenomena ini sudah bertengger berbagai kepentingan seperti kepentingan kapitalisme moderen, kepentingan materialisme, kepentingan kolonialisme dan kepentingan-kepentingan globalisme lainnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, ada sesuatu yang mengusik kita:  benarkah para perempuan di zaman ini “dipinggirkan” peran dan keberadaannya atau mereka sendiri yang sengaja “meminggirkan” diri. Kalau mau jujur, memang banyak peran dan keberadaan perempuan yang dipinggirkan. Ini terkait dengan berbagai kepentingan laki-laki atas perempuan tersebut. Akan tetapi, kita tidak pula perlu menutup mata bahwa banyak juga perempuan yang secara sengaja maupun tidak telah beraktivitas pada posisi yang dapat  meminggirkan keberadaannya. Karena ada jurang menganga, mereka yang berada terlalu di pinggir, akhirnya terpeleset. Lalu hanyut (terjerumus) diseret perputaran arus peradaban (globalisasi) yang umumnya memang menawarkan kesenangan-kesenangan tanpa batas dan glamor.&lt;br /&gt;Di Barat atau di negara-negara liberal lainnya, perempuan yang mendapati dirinya direndahkan memobilisasi gerakan perlawanan yang kemudian dikenal dengan gerakan feminisme. Gerakan ini lahir sembari mengusung cita-cita ingin memperjuangkan kesetaraan laki-laki perempuan dengan landasan equal right’s movement ‘gerakan persamaan hak’ (kesetaraan gender). Gerakan ini melakukan perlawanan terhadap berbagai ketidakadilan yang diperlakukan terhadap perempuan di seluruh pelosok bumi dengan mendorong perempuan untuk lebih maju, lebih berpendidikan dan sebagainya. Di satu sisi gerakan ini memang memberi “pencerahan”  terhadap eksistensi perempuan. Akan tetapi, pada sisi lain, mereka justru seruduk sana seruduk sini dan bahkan feminisme radikal pernah menyalahkan Tuhan atau minimal protes pada Allah karena menciptakan para nabi dari jenis kelamin laki-laki saja, tidak ada nabi yang perempuan. Mereka mempertanyakan apakah karena Tuhan itu juga laki-laki. Nauzubillah.  &lt;br /&gt;Belakangan, dari pergerakan kaum feminisme ini telah melahirkan perbuatan-perbuatan yang dapat dianggap bias gender. Umpamanya, gerakan ini menentang habis-habisan persoalan poligami. Namun mereka hanya berkoar menentang poligami dengan berbagai cibiran  tanpa dapat mencarikan solusi untuk menghadapi persoalan perempuan dewasa untuk bisa berumah tangga (bersuami dan kemudian memiliki anak) secara legal  sebagai sebuah kebutuhan fitrah (biologis) dan kebutuhan sosial. Bukan cuma tak dapat memberi solusi, akan tetapi justru banyak aktivis feminis yang kemudian memilih hidup sendiri tanpa bersuami (berkeluarga)&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn4" name="_ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Cara ini bertujuan  ingin membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga yang biasa disebut women’s liberation movement atau women’s emancipation movement yaitu gerakan pembebasan wanita&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn5" name="_ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;. Akibatnya, mereka kemudian hidup dengan kondisi psikis yang cendrung labil dan kesepian di hari tuanya tanpa anak dan keluaga. Mereka menderita di atas cita-cita kesetaraan yang mereka perjuangkan .&lt;br /&gt;Dalam propaganda-propaganda pergerakan kaum feminis ini, mereka mempopulerkan imeg bahwa poligami sesuatu yang menguntungkan laki-laki saja. Perempuan hanya menjadi korban (objek) laki-laki. Padahal sebenarnya poligami justru dapat dipandang sebagai sesuatu yang juga menguntungkan perempuan. Jika kita bicara secara kuantitatif, maka jumlah perempuan –baik yang masih gadis maupun yang sudah menjadi janda--jelas melebihi laki-laki, maka cara untuk melindungi perempuan dari perbuatan-perbuatan maksiat –terkait dengan penyaluran hasrat biologis yang halal tentunya—dan menyelamatkannya  dari kesepian di hari tua –sebab memiliki suami dan anak sebagai belahan jiwanya—salah satuya adalah dengan poligami. Adakah perempuan-perempuan di Barat  berpikir soal kemaksiatan dan kesepian  itu (?) Tidak. Justru perempuan yang berusaha menjaga kesalehan dan kemurnian diri mereka, dianggap sebagai salah satu faktor penyebab inferioritas dan penghambat perkembangan perempuan menjadi manusia seutuhnya.&lt;br /&gt; Selain itu, gerakan feminisme menuding bahwa telah terjadi banyak ketidakadilan gender dalam urusan poligami. Kenapa laki-laki saja yang berhak berpoligami, sementara perempuan dilarang berpoliandri &lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn6" name="_ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;. Kalau pandangan ini diteruskan untuk ukuran Indonesia, maka ada sesuatu yang mesti dipikirkan; jika poliandri itu terjadi, belum terbayangkan --setidaknya bagi saya--  bagaimana seorang perempuan dengan kondisi ke-indonesiaannya harus melayani suami-suaminya. Berbanding terbalik dengan kondisi di Eropa yang memang telah melegalkan kebebasan. Perempuan yang telah lepas dari tanggung jawab orang tuanya berhak melakukan sesuatu yang dikehendakinya tanpa harus ada yang merintang-rintanginya. Poliandri mungkin tidak mereka lakukan secara kasat mata, tetapi praktik poliandri tersebut telah membias dari perbuatan mereka di mana seorang perempuan bebas memilih laki-laki yang diinginkannnya dan setelah itu dapat berganti-ganti pasangan kencan sesering yang diinginkannya. Oleh karena itu,  tuntutan persamaan hak (gender) untuk melegalkan poliandri bagi perempuan, pada kenyataannya tetap saja sebagai bola liar yang memposisikan perempuan sebagai “korban”. Hal ini terjadi karena laki-laki mempersepsi perempuan tersebut sebagai “barang” yang “menjajakan diri”. Inilah sebuah fenomena tragis yang meruntuhkan derajat kemuliaan yang diberikan kepada perempuan.&lt;br /&gt;Satu masalah penting lainnya yang menunjukkan terjadinya bias gender dalam perjuangan kaum feminis adalah keinginan mereka untuk melegalkan aborsi. Dalam Deklarasi Beijing tahun 1995 disebutkan bahwa aborsi adalah hak legal kaum perempuan. Pelegalan aborsi jelas bertujuan untuk melegalkan pula hubungan bebas pranikah yang dilakukan pasangan muda-mudi seperti di Barat. Akan tetapi, masalah ini mendapat penentangan dari negara-negara muslim. Doktor Alasvand, seorang dosen di Universitas Teheran, menyatakan, “Deklarasi Beijing tidak memberikan penghormatan kepada nyawa manusia (perempuan) sehingga deklarasi ini sama saja dengan dokumen-dokumen internasional lain yang tidak menghiraukan masalah budaya pribumi dan agama. Deklarasi ini tidak menyajikan penjelasan yang tepat mengenai berbagai masalah perempuan serta tidak mengemukakan jalan keluar  dari masalah-masalah tersebut yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya berbagai bangsa”&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn7" name="_ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nah, itulah beberapa contoh bias gender dalam gerakan feminisme yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap ketertindasan/keterpinggiran perempuan. Boleh dikata bahwa bias gender tersebut menyebabkan perempuan tetap dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dalam konteks ini gerakan feminis dipandang gagal memperjuangkan cita-citanya yang justru berbalik arah membawa perempuan pada upaya pengingkaran naluri dan fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Terpinggirkan atau Meminggirkan Diri, Lalu Jalan Keluarnya Gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembicaraan di atas,  jelaskah bahwa persoalan perempuan yang terpinggirkan—sebenarnya dalam konsep kesetaraan gender yang dicetuskan Rasulullah SAW, tidak ada perempuan yang terpinggirkan atau dipinggirkan perannya,  yang ada kemudian adalah perempuan yang sengaja meminggirkan diri mereka sendiri—menjadi fenomena yang tak terelakkan ketika kita menyadari banyaknya perempuan yang tidak (lagi) memahami keberadaan diri mereka. Ketika masyarakat kapitalis “memperdagangkan” perempuan, sangat jarang perhimpunan perempuan meresponnya, bahkan  anehnya para perempuan yang terlibat di dalamnya melakukan peran itu  dengan senang hati (enjoy).&lt;br /&gt;Tengoklah bagaimana perempuan “diperjualbelikan” dan dieksploitasi untuk menjual barang. beberapa industri mutakhir seperti mode, kosmetik, dan hiburan termasuk parawisata hampir sepenuhnya memanfaatkan perempuan. Pendidikan  dan media massa menampilkan citra perempuan yang penuh glamour, sensual dan fisikal. Pada masyarakat yang bebas, perempuan dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif  kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Mobil mewah tidak lengkap kalau tidak ada perempuan setengah telanjang tidur di atasnya. Kopi tidak enak kalau tidak disajikan gadis belia yang seronok. Rokok baru memuaskan bila diselipkan di sela-sela bibir yang menantang. Film tidak menarik kalau tidak dibungkus dengan adegan perempuan yang berbusana seadanya&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn8" name="_ednref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan di atas yang selanjutnya dapat menstimulus terjadinya berbagai tindak pelecehan terhadap perempuan, tidak pernah direspon dengan serius. Hanya ditanggapi secara dingin dan bahkan dianggap angin lalu saja. Sepanjang berkuasanya Megawati Soekarno Putri sebagai seorang presiden perempuan, tak satu pun program pembangunannya yang menyinggung-nyinggung masalah ini. Ya, dia memang presiden perempuan, tetapi dia tidak mempunyai keberpihakan dan sensifitas terhadap masalah-masalah  perempuan. Sebagai seorang presiden perempuan, Megawati dianggap gagal  berjuang untuk kepentingan perempuan.&lt;br /&gt; Sementara itu, para aktivis perempuan lebih sibuk meneriakkan emansipasi dan pemberdayaan perempuan di meja-meja diskusi dan seminar dengan meraup dana-dana dari pemerintah maupun donator lainnya. Mereka gagal memberi penyadaran ataupun pencerahan terhadap banyak perempuan di sekeling mereka yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang secara tidak sadar telah telah “memperkeruh” citra diri mereka sendiri. Para perempuan yang muncul ke publik dengan menjual sensualitas  atau kemolekan tubuhnya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu adalah sebuah penistaan yang merendahkan diri mereka. Mereka mungkin saja diprogram oleh laki-laki, tetapi program itu tidak akan berjalan kalau tidak dilaksanakan oleh perempuan yang bersangkutan. Lalu, apakah sebenarnya yang diinginkan, dicari, diharapkan dan didambakan oleh perempuan-perempuan tersebut? Tak tahulah, yang jelas, jaring-jaring kapitalistik telah memerangkap mereka dan  menyeretnya kepada kekeliruan memaknai hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jalan Keluar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terpingirkannya peran perempuan atau memang sengaja dipinggirkan dan meminggirkan diri di tengah-tengah publik menunjukkan bahwa keberadaan perempuan belum dipandang seutuhnya. Padahal dalam upaya membangun masyarakat, tidak ada langkah yang lebih berperan selain dari memberdayakan perempuan. Kaum perempuan mempunyai hak untuk memiliki kehidupan yang sesuai dengan esensi kemanusiaan dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Adalah jelas bahwa untuk menyelesaikan masalah perempuan, diperlukan langkah yang lebih jauh dari sekadar mengeluarkan beberapa piagam dan resolusi. Kaum perempuan memerlukan fasilitas hukum dan perundang-undangan untuk merealisasikan hak-hak mereka&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_edn9" name="_ednref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref1" name="_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual (Bandung: Mizan, 1998) hal. 192. Dalam tulisan ini Kang Jalal memulai dengan pertanyaan: untuk apa perempuan diciptakan? Untuk menyenangkan laki-laki kata kawannya yang sarjana fisika. Lihat saja berbagai tempat hiburan, perempuan-perempuan “dijual” untuk memuaskan selera laki-laki.  Tak ada tempat hiburan yang menjual laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;/a&gt; [2] HAMKA, Kedudukan Perempuan dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996) hal.  22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;/a&gt; [3] Jender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk berdasarkan kontruksi sosial  maupun budaya. Karena dibentuk oleh konstruksi sosial dan budaya setempat, maka jender tidak berlaku selamanya, tetapi dapat berubah dan diubah berdasarkan perbedaan waktu, tempat, budaya dan perubahan tata nilai. Karena bentukan pula, maka jender bisa dipertukarkan. Misalnya kalau dulu pekerjaan mengurus rumah tangga selalu diidentikkan dengan perempuan, maka sekarang ini sudah mulai banyak laki-laki yang malu karena tidak bisa mengurusi dapur atau keperluan perut lainnya.  Dengan demikian, jelaslah bahwa antara jender dan seks merupakan dua hal yang berbeda. Jender ditentukan oleh konstruksi sosial dan budaya setempat, di mana konstrusi sosial tersebut merupakan buatan manusia yang bersifat dinamis. Sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan bersifat kodrat, tidak bisa dipertukarkan. Misalnya laki-laki mempunyai jakun, penis dan bisa memproduksi sperma, sementara perempaun mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui.. Lihat  Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003) hal. 3-4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref4" name="_edn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;Perempuan yang merasa puas dan bahagia dengan hanya semata-mata mengurus keluarga dan rumah tangganya akan ditentang oleh para feminis. Perempuan tersebut membiarkan dirinya tidak saja tergantung pada suami dan kemudian anak-anaknya, melainkan juga tidak sanggup mengembangkan diri menjadi orang yang mandiri. Lihat  Soenarjati Djajanegar,  Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003) hal. 52 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref5" name="_edn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;Ibid. hal. 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref6" name="_edn6"&gt;&lt;/a&gt; [6]Dalam hal ini adakah poligami dapat didekonstruksi menjadi sesuatu yang dapat dilakukan oleh perempuan (poliandri) sebagaimana yang dapat dipahami dari defenisi gender di atas…. “Karena dibentuk oleh konstruksi sosial dan budaya setempat, maka jender tidak berlaku selamanya, tetapi dapat berubah dan diubah berdasarkan perbedaan waktu, tempat, budaya dan perubahan tata nilai. Karena bentukan pula, maka jender bisa dipertukarkan….”  Dengan bertopang pada dasar ini, dapatkah dikatakan seorang perempuan yang  melalukan poliandri sebagai wujud kesetaraan gender. Tentu saja tidak, bukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref7" name="_edn7"&gt;&lt;/a&gt;  [7] Pendapat Doktor Alasvand ini dikutip dari situs Radio IRIB Berbahasa Indonesia (&lt;a href="http://www.irib.com/"&gt;http://www.irib.com&lt;/a&gt;),  April 2005.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref8" name="_edn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;Ronidin. “Kekerasan Terhadap Wanita, Warisan yang Dilematis” dalam Singgalang (Padang,  2000). hal. 3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1655862807826970580#_ednref9" name="_edn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Pendapat ini dikemukan Sekjen PBB Kofi Annan terkait dengan Sidang Komisi Status Perempuan PBB tanggal 28 Februari hingga 11 Maret 2005. Komisi Status Perempuan atau Commission on The Status of Women yang disingkat dengan CSW, mengadakan sidang mereka yang ke-49. CSW adalah sebuah lembaga di bawah pengawasan PBB yang bertugas meningkatkan pemberdayaan perempuan di dunia. Sidang yang dihadiri oleh para wakil dari lebih 100 negara dunia dan enam ribu aktivis perempuan ini digelar di Markas PBB di New York. Lihat &lt;a href="http://www.irib.com/"&gt;http://www.irib.com&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1655862807826970580-3623268117791730520?l=ronidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ronidin.blogspot.com/feeds/3623268117791730520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1655862807826970580&amp;postID=3623268117791730520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/3623268117791730520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1655862807826970580/posts/default/3623268117791730520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ronidin.blogspot.com/2007/12/perempuan-dipinggirkan-atau.html' title='Perempuan: Dipinggirkan atau Meminggirkan Diri'/><author><name>Ronidin dan Keluarga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06793571176090588488</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_RsfrQ_8Uzmk/SHbLhfpPJ5I/AAAAAAAAADg/VlyJ-72mWBw/S220/100_7080.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
