Minggu, 27 Juli 2008

Dilarikan Cindaku

Sudah seminggu Mamad tidak pulang. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan. Ibunya yang dibantu oleh orang-orang sekampung sudah mencari ke mana-mana. Hasilnya nihil. Mamad tak ditemukan. Ia hilang seperti ditelan bumi. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan ke mana hilangnya bocah itu. Jejaknya pun tidak ditemukan. Kata orang-orang yang mencarinya, kemungkinan Si Mamad dilarikan cindaku.

Siang hari sebelum menghilang, Mamad masih bermain kancil-kancilan bersama Nuan, Jali, Ayuk dan Garende di kebun belakang rumahnya. Ketika teman-temanya itu ditanyai ke mana perginya Si Mamad, mereka menjawab tidak tahu. Mereka cuma memberi penjelasan bahwa selesai bermain kancil-kancilan, Mamad masih berada di kebun itu sendirian. Katanya dia mau istirahat sebentar sambil tidur-tiduran. Sedangkan yang lain pergi mandi-mandi ke sungai.

Sampai sore dan bahkan malam Mamad tak pulang. Tidak biasanya ia begitu. Seasyik-asyiknya bermain, kalau sudah pukul empat, ia pasti akan balik ke rumahnya dan mandi. Setelah itu bersiap-siap untuk pergi mengaji ke surau. Begitu setiap harinya.

Ketidakpulangan Mamad membuat ibunya risau. Wanita separuh baya itu lalu mencari putra semata wayangnya itu. Mencarinya di kebun dan menanyai teman-teman bermainnya. Namun, sampai menjelang jam sembilan malam, Mamad pelum juga ditemukannya. Wanita itu mulai khawatir dan kalut. Untunglah para tetangga dibantu oleh Nuan, Jali dan teman-teman bermain Si Mamad yang lain membantu mencari. Mereka menelusuri kebun di belakang rumah Si Mamad yang memang berbatasan langsung dengan hutan di sebelah selatannya. Karena keterbatasan alat penerangan, pencarian malam itu tidak dilanjutkan ke hutan.

Malam itu Mamad tak berhasil ditemukan. Pencarian dilanjutkan pagi harinya. Kali ini yang mencari semakin bertambah banyak, dikordinir oleh kepala kampung. Para pencari mulai menelusuri hutan di sekitarnya. Menelusuri jalan setapak yang biasanya di lalui warga untuk mencari kayu dan hasil-hasil hutan lainnya. Namun, sejauh perjalanan, rombongan itu tak menemukan apa-apa. Bahkan tanda-tanda yang menunjukkan ke mana hilangnya Si Mamad pun tidak ditemukan sama sekali.

Hari itu Mamad tak ditemukan. Kampung Siguntang di sekitar Lereng Gunung Talang itu menjadi geger. Orang-orang mulai menduga-duga. Ada yang berpendapat Si Mamad diculik oleh orang yang membutuhkan kepala manusia untuk tumbal pembuatan jembatan. Ada pula yang menduga Si Mamad dilarikan Harimau atau cindaku. Tidak ada yang tahu ke mana sebetulnya Si Mamad. Ibunya Si Mamad kelihatan seperti orang setengah gila, bingung, tak tahu apa yang harus dikerjakannya.

Berita hilangnya Si Mamad sampai ke tangan polisi. Polisi pun kemudian membentuk tim untuk membantu mencari Si Mamad. Tetapi, sampai hari ketiga, tetap tak ditemukan apa-apa. Orang-orang yang mencari mulai kendor semangatnya. Ke mana lagi mereka harus mencari. Seluruh pelosok kampung termasuk sepanjang aliran sungai sudah dilacak. Setiap jengkal hutan telah ditelusuri. Tetap saja Si Mamad tak ditemukan. Aneh memang. Semua berada di luar jangkauan akal penduduk kampung Siguntang.

Hari keempat, ibu Si Mamad masih saja mencari dibantu orang-orang terdekatnya. Tetap juga tak ada tanda-tanda Mamad akan ditemukan. Malah justru beredar kabar yang tidak tahu siapa yang menyebarkannya bahwa memang Si Mamad dilarikan cindaku. Pada sore hari sebelum Si Mamad hilang ada yang melihatnya berjalan dengan seseorang yang berambut panjang tergerai. Baunya wangi. Orang itu tidak mau memperlihatkan mukanya. Hanya membelakang saja. Ia berjalan menuju hulu sungai sambil menggandeng tangan Si Mamad. Ketika diikuti, orang itu secepat kilat menghilang, termasuk Si Mamad.

Hari-hari berikutnya pembicaraan orang tentang Si Mamad yang dilarikan cindaku semakin meluas. Bahkan teman-teman bermain Si Mamad pun turut meramaikan berita itu.

“Ada yang melihat Si Mamad berjalan ke hulu sungai dengan wanita berambut panjang waktu itu,” kata Garende pada ibunya.

“Siapa yang lihat?” tanya ibunya.

“Ndak tahu,” jawab Garende

“Kalau tak tahu, tak usang ngomong. Bisa-bisa kamu nanti ditanyai polisi,” nasehat ibunya.

“Saya dengar, orang-orang di lapau Uwo ngomongnya begitu.”

“Ssst... jangan diteruskan. Itu namanya gosip. Tidak baik. Orang muslim tidak boleh menggosip. Kamu tidak kasihan melihat ibunya Si Mamad. Dia sangat sedih dengan peristiwa ini. Kamu jangan menambah penderitaannya lagi.”

“Iya... saya ngerti kok, Bu!” jawab Garende sambil menatap ke depan tanpa berkedip. Dari kejauan ia melihat sesuatu berjalan ke arahnya. Garende mengucek-ngucek matanya. Tidak ada yang salah. Dia mencubit lengannya. Sakit. Berarti ia tidak bermimpi.

“Ada apa?” tanya ibunya

“Bu, lihat!” sambil menunjuk. “Bukankah itu Si Mamad,” katanya tak yakin.

Ibunya melihat ke arah yang ditunjukkan anaknya. Benar. Nun di depan sana ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar. Si Mamad dengan gaya berjalannya yang khas, menuju kearah mereka.”Benar itu Si Mamad?” katanya tak percaya.

“Benar, Bu...” jawab Garende yang langsung berlari ke arah Si Mamad. “Mamad, ke mana saja kamu. Kami semua mencemaskanmu. Ibumu apalagi. Telah seminggu ini kami mencarimu ke sana-kemari. Malah ada yang mengatakan kamu dilarikan cindaku,” kata Garende tanpa dapat dibendung.

“Aku pergi ke kota dengan Bapakku,” jawab Si Mamad tanpa dosa.

“Kenapa kamu tidak titip pesan?” kali ini ibunya Garende yang bertanya.

“Sudah... sama nenek,” jawan Si Mamad. “Waktu itu, kita kan main-main di kebun, lalu kalian pergi mandi. Aku tinggal sendirian. Saat itulah, Bapakku datang. Beliau mengajakku pergi ke kota. Ya sudah. Aku pergi, deh! Karena ibuku tidak ada di rumah, aku titip pesan saja sama nenek. Berarti nenek tidak menyampaikan pesanku kali, ya” jawab Si Mamad.

“Bagaimana nenekmu akan menyampaikan pesanmu, dia kan sudah pikun!” kata Garende.

“Sssttt...”

Tidak ada komentar: