Selasa, 05 Februari 2008

MEMBANGUN GENERASI MINANGKABAU DENGAN BUKU

Oleh RONIDIN

Ada pertanyaan menarik yang perlu kita renungkan: kenapa belakangan tidak muncul lagi tokoh-tokoh nasional dari Sumatera Barat alias Minangkabau ini? Apa memang benar Minangkabau hari ini hanya tinggal kerabang seperti yang pernah dikatakan Gus Dur? Atau karena generasi yang hidup sekarang adalah generasi orang-orang kalah? Atau karena pragmatisme?

Entahlah! Yang jelas bahwa ketakadaan tokoh Minang pasca Hatta, Hamka, dan Natsir adalah sebuah kemunduran di tanah yang dulunya subur melahirkan intelektual ini. Sesak dada ini menyaksikan episode kemunduran dinamika intelektual itu --terutama pasca PRRI. Lalu kenapa, seperti pertanyaan di muka ?

Salah satunya karena dalam kurun waktu yang panjang kita kekurangan buku. Padahal jika kita jujur, buku adalah sumber terpenting untuk mencetak generasi intelek. Tokoh-tokoh besar dunia adalah tokoh-tokoh yang dibesarkan buku. Tak seorang pun di antara mereka yang tidak membaca (memiliki) banyak buku. Mereka umumnya disukseskan oleh buku. Hatta, Hamka, Natsir, dll. adalah tokoh-tokoh yang “gila” buku. Bahkan Hatta memberi istrinya sebuah buku sebagai mahar perkawinan mereka, lalu menempatkan buku sebagai istri keduanya.

Orang-orang Minangkabau yang sukses umumnya memiliki dan membaca buku. Dulu para ulama atau guru mengaji di surau membaca dan menulis buku. Ini terbukti dengan ditemukan banyak naskah/manuskrip di segenap daerah di Minangkabau sebagai bukti kecendikian mereka di masa lalu. Sayang, sebagian naskah/manuskrip itu kini disimpan di Negeri Belanda, London, Kuala Lumpur dan sebagainya. Naskah/manuskrip yang ada di sepanjang daerah Minangkabau hari ini, umumnya tidak terawat.

Orang-orang Eropa semaju sekarang karena mereka memiliki/menyimpan banyak buku untuk dibaca—terlepas apakah mereka pernah mencuri buku-buku dari daratan Asia. Orang-orang di Amerika atau di belahan bumi lainnya dapat menguasai teknologi tak lain karena mereka memiliki dan membaca buku. Bahkan salah satu alasan kebencian Barat terhadap Islam adalah karena dipicu oleh pengaruh buku. Kita tentu pernah mendengar heboh buku Benturan Peradaban Samuel Hutington.

Begitulah, bagi mereka buku adalah jendela untuk menguasai dunia. Buku menjadi kebutuhan prioritas. Sedangkan bagi kita bukan begitu; buku adalah mimpi. Ia hanya barang sekunder. Bagi kita lebih penting membangun gedung dari pada mengisi gedung itu. Dana bermilyar-milyar untuk membangun gedung ini gedung itu, dan hanya sekian persen untuk membeli buku. Payah.

Karena itu, ketika sebuah generasi tumbuh sebagai generasi yang dimiskinkan dari buku, maka dapat dikatakan bahwa mereka bisa jadi pula miskin wawasan. Miskin wawasan bermuara pada miskinnya dinamika intelektual. Itu yang telah terjadi (setidaknya) di daerah ini.

Di mana-mana kita dengar keluh kesah bahwa buku adalah “barang” yang sulit didapat. Mahal. Kalau pun mau beli, barangnya yang tidak ada. Realitas yang sekarang terjadi, kita (di Minang dan daerah lain di luar jawa) yang ingin ‘mengejar’ ketertinggalan dengan membeli buku selalu saja mendapat sisa dari Jakarta. Penerbit daerah tidak berkembang –bahkan mati-- karena kekurangan suppor. Mereka yang bertahan itu tidak mendapat perhatian yang layak dari pihak-pihak yang berwenang. Bisa jadi ini karena pengaruh politik. Orang-orang di daerah (seperti di Minangkabau) ini tidak boleh maju. Penerbitan mereka biarlah merana. Kalau diberi “angin” nanti takutnya “melawan” lagi. Sudahlah.

Perpustakaan di mana pun menjadi perhatian nomor buncit aparat pemerintah. Buku-buku yang ada di sana selain sudah usang-usang juga tidak lengkap serta belum disesuaikan dengan kebutuhan baca masyarakat. Bayangkan, ada perpustakaan di zaman ini yang masih menggunakan pelayan manual apa adanya. Ada perpustakaan keliling, namun tidak efektif.

Sama juga dengan itu, di sekolah perpustakaan kalah saing dengan fasilitas yang lain. Bahkan ada sekolah yang tak punya pustaka sama sekali. Bagaimana siswa akan banyak membaca, buku yang akan dibaca itu benar yang kurang atau tidak ada. Kita selalu mengeluh minat baca rendah, padahal sebenarnya tidak. Minat baca tinggi, buktinya perpustakaan tak pernah sepi, tempat-tempat penyewaan buku penuh sesak, koran tetap laku—bahkan di kedai-kedai, koran itu sampai lusuh karena dibaca bergilir.

Jadi, agar pertanyaan di awal tulisan ini dapat dijawab, maka salah satu jalan keluarnya adalah dengan membeli/menyediakan buku sebanyak-banyaknya. Setiap nagari diharuskan membuat perpustakaan nagari. Dikelola oleh anak nagari. Tidak perlu ada perpustakaan keliling, tetapi perpustakaan tetap. Sekolah-sekolah dilengkapi dengan perpustakaan yang baik dan terawat dengan koleksi buku yang beragam. Mesjid/surau/musalla menyediakan perpustakaan untuk jemaahnya—bukan hanya untuk pengurus saja. Pribadi-pribadi yang punya buku diketuk pintu hatinya untuk membuka layanan bagi para tetangganya yang ingin membaca buku. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mendirikan rumah baca dipermudah urusannya dan dibantu.

Jika demikian halnya, maka bukan tidak mungkin akan lahir tokoh-tokoh baru dari daerah ini. Dengan banyaknya buku yang tersedia hampir di setiap pelosok negeri, maka mereka akan membaca. Kalau di mana-mana ada buku, ada pustaka, yakinlah masyarakat akan cerdas karenanya. Dari situ akan lahir tokoh-tokoh baru. Tidak seperti sekarang, anak-anak muda tidak tahu Medilog-nya Tan Malaka, Tafsir Al Azhar-nya Hamka, Tuanku Rao-nya Maharaja Onggang Parlindungan, Fatwa-Fatwa Kontemporer-nya Yusuf Qordawi, The Davinci Code-nya Dan Brown, Harry Potter-nya JK Rowling, Seratus tokoh Paling Berpengaruh-nya Micheal H. Hart dan sebagainya, karena memang buku-buku itu tidak tersedia di tempat mereka. Bahkan melihat saja mereka belum pernah sepanjang hidupnya.

Kinilah saatnya kita membangun generasi dengan buku. Membangun generasi Minangkabau yang akan menjadi tokoh sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Walahualam bissawab.


RONIDIN peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia Fak Sastra Unand

Tidak ada komentar: