Jumat, 14 Desember 2007

The Da Vinci Code: Kebenaran Sastra dan Imajinasi Kontroversial

Oleh Ronidin

I
Kebenaran sastra tidak sama dengan kebenaran agama, hukum dan undang-undang (Gama, Singgalang, 11/06/06). Kebenaran sastra melingkupi tiga dimensi silendris: sastra itu sendiri (teks), pengarang sebagai pencipta sastra dan pembaca sebagai penikmat sastra. Ketiga unsur tersebut memiliki hubungan yang erat, tetapi masing-masingnya memiliki hak otonom. Setiap pengarang memiliki hak untuk menulis apa saja. Pembaca juga bebas memahami atau mengintepretasi teks sastra sesuai persepsinya sendiri-sendiri. Jadi, tidak ada pemaksaan untuk memahami dan tidak ada yang berhak mengatakan bahwa pemahaman mereka paling benar.

Menikmati karya sastra sebenarnya merupakan rekreasi untuk menyelami pikiran penulisnya. Pikiran-pikiran penulis disuguhkan untuk dinikmati pembacanya. Tentunya, seorang pembaca dengan pembaca yang lain akan menemukan titik pandang berbeda dari suguhan yang sama. Itulah uniknya karya sastra. Tetapi, ada kalanya intepretasi pembaca menimbulkan suasana tidak menyenangkan bagi pembaca lainnya. Pembaca A mengintepretasi begini, sedangkan pembaca B mengintepretasi begitu. Terjadilah perbedaan persepsi. Itu hal yang wajar. Beda pendapat biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah penghakiman yang membabi buta. Ramai-ramai karya yang berhaluan ini dilarang, yang berhaluan itu dibredel bahkan dibakar.

Jadi, dapat dipahami, terjadinya kontroversi seputar novel The Da Vinci Code karena novel ini tidak lagi dipandang dengan kebenaran sastra. Fakta yang difiksikan dan fiksi yang difaktakan Dan Brown telah dipersepsi dengan kebenaran bukan sastra; kebenaran agama ataupun kebenaran sejarah.

II
Tahun 2003, Dan Brown menulis novel The Da Vinci Code yang menggemparkan jagat ini. Sampai saat ini, novel tersebut sudah dicetak sebanyak 40 juta kopi ditambah 6 juta paperback dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa di dunia.

The Da Vinci Code menggemparkan dunia karena secara provokatif telah menyinggung umat khatolik hingga ke Vatikan. Karya Dan Brown ini dianggap secara terang-terangan telah mencampur-adukkan antara fakta-fakta kekristenan dengan fiksi sebagai kekayaan imajinasi. Hal-hal yang dianggap kontroversial misalnya perkawinan Yesus dan Maria Magdalena, pendeskripsian organisasi Opus Dei sebagai kelompok Kristen yang melakukan praktik menyakiti tubuh, merendahkan wanita dan terlibat skandal keuangan Vatikan. Lalu, Bibel diceritakan Brown sebagai produk manusia yang telah menghilangkan ayat-ayat tentang keberadaan Yesus sebagai manusia biasa. Namun, yang paling dianggap kontroversial adalah penggambaran Brown tentang ketuhanan Yesus yang ditetapkan melalui sebuah voting oleh Konsili Nicea (hal. 325).
Sebenarnya, apa yang dikemukan Brown ada benarnya dan juga ada salahnya. Namun, saya tidak akan berbicara tentang itu. Saya hanya akan melihat novel ini dalam perspektif sastra sebagai kebenaran imajinasi yang bergerak.

III
The Da Vinci Code menarik karena pengarang berhasil membangun peristiwa secara berangkai dan unik. Pemabaca tidak akan beranjak dari bacaannya karena ada teka-teki yang mesti dipecahkan, ada kode-kode yang menantang, ada konspirasi yang membingungkan, ada rangkaian penyelidikan dedektif yang mendebarkan dan tentunya ada skandal yang menegangkan. Pembaca seolah-olah dibawa serta dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena itu, pembaca yang tidak jeli, bisa jadi akan langsung menganggap yang diklaim fiktif oleh Brown menjadi sebuah fakta.

Selain peristiwa, kekuatan lain yang nampak dalam The Davinci Code adalah kecerdasan Dan Brown mengeksplorasi sain (kecanggihan teknologi) dengan estetika seni. Lalu, kemapuan Brown menghadirkan setting dengan deskripsi yang memukau juga merupakan kekuatan yang tidak terpisahkan dari novel ini. Tempat-tempat yang ada dalam novel ini seolah-olah ada di depan mata pembaca. Saya belum pernah ke Louvre, tetapi saya dapat membayangkan keberadaan museum itu.

Cerita dalam novel ini diawali dengan peristiwa pembunuhan kurator museum Louvre di Paris, Jacques Sauniere. Sauniere yang sekarat menjelang ajalnya masih sempat menulis pesan berupa kode-kode rahasia untuk cucunya Sophie Neveu, seorang ahli kriptolog di kepolisian DCPJ (FBI-nya Perancis) dan Robert Langdon, ahli simbologi Universitas Harvard yang kebetulan sedang berceramah di kota Paris. Melalui rangkaian peristiwa yang panjang, Sophie dan Langdon –yang melalukan pelarian karena Langdon dituduh sebagai pembunuh Sauniere oleh agen Fache, kepala DCPJ Perancis—mereka memecahkan kode-kode itu satu persatu. Perpaduan kedua ahli itu mampu memecahkan kode-kode rahasia yang bukan saja rumit tetapi juga membonceng dalam karya lukis seniman serba bisa Leonardo Da Vinci.

Dalam pelariannya dari polisi Perancis yang menegangkan dan berliku-liku, Langdon dan Sophie kemudian bertemu dengan seorang sejarahwan Inggris, Leigh Teabing. Teabing membantu kedua pelarian itu di rumahnya. Pertemuan Langdon dengan Teabing menjadi begitu berarti karena kepakaran Taebing dalam mengungkap sejarah kristen yang ada dalam kode-kode itu. Teabing turut membantu memecahkan misteri di balik kode-kode rahasia yang ditinggalkan Sauniere. Teabing pula kemudian yang menerbangkan Langdon dan Sophie ke London dengan pesawat pribadinya untuk mencari Holy Grail –kesimpulan sementara dari petunjuk kode-kode yang telah mereka pecahkan-- yang diyakini ada di London, termasuk menemukan kode terakhir membuka batu kunci (cryptek) di atas makam Issac Newton. Teabing yakin kode pembuka batu kunci yang diyakini berisi peta tempat penyimpanan Holy Grail dapat mereka temukan di sana. Selain itu, penerbangan ke London juga untuk menyelamatkan Langdon dari kejaran polisi Perancis.

Sesampai di London, terungkap bahwa Teabing ternyata menginginkan cryptek itu dan ingin sekali mendapatkan Holy Grail yang menghebohkan itu. Terungkap pula bahwa dalang pembunuhan Sauniere dan rangkaian pembunuhan lainnya adalah Leigh Teabing. Jauh sebelum Sauniere terbunuh, dia telah memasang alat penyadap di sekitar Sauniere dan orang-orang berpengaruh lainnya. Alat penyadap itu dipantau dari rumahnya dengan peralatan yang canggih. Teabing dalam menjalankan rencananya dibantu oleh Remy, biarawan taat pendeta Aringarosa dan Silas. Cerdiknya, kepada pendeta Aringarosa dan Silas yang merupakan anggota kelompok kristen Opus Dei, Teabing mengenalkan diri sebagai Guru. Teabing juga secara cerdik telah memperalat Vatikan untuk rencananya liciknya.

Akhirnya semua berakhir, Teabing ditangkap, Aringarosa dan Silas menyadari kesalahannya, Remy mati dibunuh Taebing, Langdon dan Sophie berhasil memecahkan kode terakhir. Ternyata, Holy Grail yang menghebohkan itu tidaklah ada seperti yang dibayangkan sebelumnya. Petunjuk yang didapatkan Langdon dalam kode terakhir hanya mengantarkan Sophie untuk bertemu dengan nenek dan saudara laki-lakinya di gereja katedral Rosslyn di selatan Edinburgh, Skotlandia.

IV
Kehadiran novel The Da Vinci Code memang telah mengundang berbagai kontrovesi. Dalam kacamata sastra, apa yang dikemukan dalam novel ini adalah tentu memiliki pesan karena memang sastra memiliki fungsi menghibur dan fungsi pesan (azaz mamfaat). Apa yang dikemukan Dan Brown memiliki fungsi itu.

Secara sosiologis, Dan Brown telah menulis apa yang dirasakannya, apa yang dilihat (ditelitinya), apa yang telah menjadi pengalamanya. Sastra sebenarnya berbicara tentang masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat, dan apa yang dikerjakan oleh masyarakat. Ketika ia ditulis, ia akan menjadi fakta yang difiksikan. Ketika sudah menjadi teks sastra, itulah sebuah kebenaran imajinasi. Ketika dalam novel ini Brown berbicara tentang penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam tubuh umat khatolik, itulah sebenarnya fakta yang dibangun dengan imajinasi. Itulah sastra.

Jadi, fakta dan fiksi dalam sastra adalah kebenaran. Fakta adalah bahan untuk difiksikan. Namun, kadang-kadang fakta yang telah diolah dengan campuran imajinasi (fiksi) dapat menimbulkan sikap kontroversial seperti dalam Da Vinci Code. Misalnya Museum Lovre adalah fakta, tetapi peran Sauniere, Langdon, Sophie Aringarosa, Silas dan Teabing adalah fiksi. Leadardo Da Vinci dan lukisannya Manusia Vitruvian, Mona Lisa, dan Last Supper adalah fakta, tetapi menyebut lukisan-lukisan itu mengandung rahasia perempuan suci adalah fiksi. Lukisan Last Supper jelas merupakan penggambaran Leonardo yang merinci peran murid-murid Yesus dengan mimik masing-masing. Di kanan dan kiri Yesus yang duduk terdekat adalah murid Yohanes dan Yokobus menggambarkan permintaan ibu mereka (Matius 20:20-21). Yohanes dan Petrus disuruh Yesus menyiapkan perjamuan. Maka kalau tempat itu diganti Brown dengan Maria Magdalena dan Yohanes tidak ada, itu adalah fiksi.

Maka, dalam The Da Vinci Code, fiksi adalah kebenaran. Kebenaran Sastra.

Tidak ada komentar: