Rabu, 19 Desember 2007

FIKSI DAN NONFIKSI: BERMULA DARI IDE

Oleh Ronidin


ada daun jatuh
tulis
ada rumput menghijau
tulis
ada tanah terbakar
tulis
ada anak pipit terjatuh dari sarangnya
tulis
(Saut Sitompul)

Menulis fiksi dan nonfiksi itu mudah dan dapat dilakukan siapa saja. Seperti puisi di atas, apa pun dapat ditulis. Tidak perlu mesti menulis yang rumit-rumit, duan, rumput, tanah, burung pipit pun dapat ditulis. Saya maunya menulis dalam bentuk fiksi, ya tulis sesuatu itu menjadi fiksi; lalu yang mau menulis dalam bentuk nonfiksi, lakukan itu. Gampang kan?

Fiksi dan non fiksi sama-sama berasal dari kenyataan. Bedanya, fiksi kenyataan yang disajikan dengan bungkusan imajinasi, sedangkan nonfiksi kenyataan yang dituliskan dengan cara bertutur yang sistematis didukung oleh referen tertentu.

Lalu, bagian mana yang penting: membicarakan fiksi dan nonfiksinya atau membicarakan cara/teknik melakukannya? Dua-duanya penting, tetapi untuk kondisi tertentu, membicarakan cara/teknik menulis dianggap lebih penting.

Pengalaman mengatakan, banyak calon penulis yang berkeinginan menjadi penulis bertanya-tanya cara menulis yang praktis. Sebelum menjawab soalan ini, ada sesuatu yang perlu disadari bahwa untuk menjadi penulis dan menulis itu sendiri gampang, tetapi tidak segampang membalik telapak tangan. Seperti tadi, menulis menjadi sesuatu yang gampang karena kita bisa menulis apa saja tanpa harus berkeringat-keringat, tanpa harus ada orang yang mendikte-dikte. Kita cukup menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang berkelindan di sekitar kita, apa yang pernah kita alami, apa yang pernah kita rasakan, apa yang kita impikan, lalu membungkusnya dengan bahasa yang bagus, baik dan benar.

Lalu, menulis itu tidak semudah mebalik telapak tangan karena ia butuh proses yang panjang dan kontinyu. Menulis bukan pekerjaan orang-orang yang malas, enggan berpikir dan emoh membaca. Menulis merupakan keterampilan praktis yang setiap saat harus diasah. Bukti menulis itu susah, tidak semua orang mampu untuk menjadi penulis. Bahkan ada profesor di universitas terkenal tidak mampu menulis dengan baik.

Lalu, dari mana kita harus mulai menulis? Jawabannya bisa dari mana saja. Puisi di atas menunjukkan bahwa Maksudnya, menulis itu tidak terikat dengan waktu dan tempat. Kita bisa menulis kapan saja dan di mana saja: di mobil, di kereta, di pesawat, di kampus, di sekolah dan di mana pun. Ketika ada ide, jangan di simpan-simpan. Catat dulu ide-ide itu, lalu kembangkan secepatnya. Biasanya, ide yang disimpan akan hilang begitu saja. Ide yang ada sejam yang lalu belum tentu akan dapat kita ingat pada saat ini. Untuk itu, seorang penulis kemana pun harus membawa pulpen dan kertas (sekarang laptop). Kalau sering ada ide di kamar mandi, taruh white bord di sana.

Ide ada di mana-mana. Bertebaran disana-sini. Tinggal tugas kita memungutinya. Memilah-milah untuk diklasifikasikan sesuai jenisnya. Lantas mengolahnya sebagaimana koki mengolah bahan-bahan masakannya. Supaya sedap, beri ia bumbu selengkapnya. Ketika menulis, jangan mensekat-sekat ide. Ide ini tidak boleh dan ide ini boleh. Ide apa pun dapat kita tuliskan. Syaratnya kita harus memiliki ilmu atau referensi tentang ide itu. Jangan mencari ide yang jauh-jauh yang tidak kita ketahui. Sekali lagi, di sekitar kita saja ide sudah melimpah. Misalnya, seokor kucing atau apa pun bisa menjadi sumber ide. Kenapa kucing warna begitu? Kenapa matanya tajam dan bercahaya bila disenter? Bagaimana kalau kucing itu sebesar harimau? Bagaimana kalau kucing pipis di sofa? Atau ide yang lebih nyentrik: bagaimana kalau kucing berkelahi dengan maling ketika mereka hendak mencuri rumah tuannya.

Tentu saja masih banyak ide yang lain, yang mungkin jarang kita pikirkan. Umpamanya berapa jumlah bulu ayam yang melekat di seluruh badannya barangkali? Atau tentang Malin Kundang yang durhaka yang bisa saja kita balikkan menjadi ibunya yang durhaka karena telah menyia-nyiakan anaknya. Bisa pula ide tentang jalan yang berlobang-lobang di lingkungan tempat kita masing-masing. Ide tentang SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), maupun kekerasan di IPDN. Tentang orang-orang yang telah sekian banyak mengkonsumsi formalin. Tentang kekerasan terhadap perempuan, anak dan penjualan bayi (trafficking). Tentang narkoba dan dampaknya di kalangan generasi muda. Tentang cinta dan pacaran. Tentang ini dan itu dalam dunia muda-mudi. Tentang bencana alam, busung lapar, kelaparan dan sebagainya.

Nah, kalau ide sudah ada, bagaimana kita mengolahnya? Ops... mudah kok. Mengolah ide sama artinya dengan mengembangkan ide itu menjadi lebih luas. Mula-mula mencoba mengembangkan ide itu secara umum. Semua hal yang berkaitan dengan ide itu kita catat –makanya bagi penulis pemula dianjurkan untuk membuat outline atau kerangka karangan—tanpa ada yang tertinggal. Setelah semuanya kita catat, lalu kita pilih skala prioritasnya. Soalan-soalan yang lebih dekat dan dianggap penting dari perincian ide yang telah kita buat itu, kita urutkan di bagian awal atau kita jadikan sebagai gagasan pokok. Sedangkan yang lebih rendah kedudukannya kita tempatkan sebagai gagasan bawahan yang nantinya berfungsi untuk menjelaskan gagasan pokok. Soalan yang tidak perlu atau jauh hubungannya dengan ide dapat kita buang (delete). Rumusan yang dapat kita pakai dalam hal ini adalah seperti ketika kita mencari KPK dan FPB dengan akar bilangan atau pohon faktor. Bisa pula dengan rumusan pohon beneran yang tentunya terdiri dari batang sebagai keseluruhan (ide/gagasan awal) cabang (sebagai perincian, gagasan pokok), ranting (gagasan bawahan) dan daun serta tulang-tulangnya (gagasan tambahan).

Sebagai pertimbangan, ada baiknya kita perhatikan contoh berikut: Ide yang telah kita dapatkan dan ingin kita tuliskan adalah fenomena tarkam (tawuran antar kampung) dalam masyarakat Minangkabau. Maka, yang pertama kita lakukan adalah mencatat semua hal yang berkaitan dengan ide ini. Umpamanya tentang kesehariam masyarakat Minangkabau yang tenang, damai dan egaliter. Lalu ada suntikan pengaruh budaya asing yang masuk ke masyarakat Minangkabau melalui berbagai media. Akibatnya masyarakat Minang menjadi berubah. Kriminalitas meningkat. Semangat egaliterisme menurun. Masyarakat menjadi cendrung provokatif dan bar-bar. Terjadilah berbagai tindak penyimpangan seperti tawuran antar desa/kampung/nagari, tawuran antar kampus, tawuran antar preman dan sebagainya. Tawuran ini melibatkan anggota masyarakat yang kadang-kadang masih berhubungan famili atau berkarib kerabat. Tak ayal, peristiwa ini akan membawa banyak masalah maupun kerugian. Ada kerugian material seperti pembakaran rumah, sekolah maupun fasilitas-fasilitas umum lainnya. Ada pula kerugian moril seperti rusaknya hubungan kekerabatan yang selama ini berjalan akur.

Nah, hal-hal yang tersebut di atas kita catat semuanya. Lalu kita pilah-pilah (klasifikasikan) sesuai dengan kedudukannya. Nantinya kita akan menemukan kerangka dari ide tersebut berupa latar belakang permasalahan yang didukung oleh apa yang telah kita perincikan. Lainnya kita mendapatkan pula pokok persoalan tentang tawuran dalam masyarakat Minangkabau: bagaimana prosesnya terjadi, apa latar belakangnya, melibatkan siapa, dan seterusnya. Dapat pula kita rumuskan akibat dari tawuran itu serta bagaimana cara mengatasi atau mencegahnya. Demikian pula persoalan-persoalan yang kita perinci tetapi hanya sedikit memiliki hubungan dengan ide utama dapat dihilangkan, misalnya tentang sejarah masyarakat Minangkabau yang begini dan begitu. Setelah semuanya lengkap tersusun, kita baru bisa mulai menuliskannya.

Begitulah kira-kira kita mengolah ide. Bagi penulis pemula cara seperti ini akan amat membantu. Tetapi bagi penulis senior, dia akan langsung menuliskannya karena dalam pikirannya sudah terplot ide-ide tersebut secara sistematis. Untuk menjadi yang demikian perlu latihan yang panjang dan terus menerus. Selamat mencoba!


Tidak ada komentar: